- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Tantangan yang Dihadapi Xi Jinping Setelah Bersepakat dengan Trump

oleh Xia Xiaoqiang-Epochtimes.com

AS – Trump telah bersepakat untuk menunda perang tarif selama 3 bulan melalui pertemuan Trump dengan Xi Jinping dalam jamuan makan sambil bernegosiasi di sela KTT G20 Buinos Aires, Argentina, 3 Desember 2018.

Ada pihak yang senang dan ada pula yang kecewa. Yang kecewa adalah mereka yang berharap kepada Trump untuk meng-KO Tiongkok komunis melalui sanksi perdagangan yang sedang dijalankan. Namun dari perspektif percaturan  kekuatan negara besar dan akal sehat politik luar negeri, hasil pertemuan Trump – Xi Jinping  adalah tergolong normal, bukannya luar biasa.

Perbedaan dalam mengumumkan hasil negosiasi pertemuan Trump – Xi Jinping yang disampaikan oleh media resmi Tiongkok juga tidak mengherankan, karena dalam kamus propaganda media resmi Tiongkok, apapun hasilnya, ia selalu mengatakan bahwa pihaknya berada dipihak yang mencapai hasil gemilang atau paling tidak mencapai win-win solution. Nah, apa hasil substantif dari pertemuan Trump – Xi ini ?

Pertama, Tiongkok komunis dari sebelumnya yang menolak untuk mengakui pelanggaran aturan WTO dan pencurian hak kekayaan intelektual, kini telah setuju untuk bernegosiasi mengenai masalah ini dalam waktu tiga bulan. Berarti bahwa Tiongkok komunis diam-diam mengakui tuduhan AS. Xi Jinping akhirnya bersedia untuk berkompromi.

Kedua, Pertemuan Trump – Xi untuk sementara waktu telah mengurangi tekanan yang dihadapi Tiongkok komunis. Tiongkok kini memiliki 3 bulan untuk ‘bernapas’.

Ketiga, Sejak perang dagang dimulai, untuk pertama kalinya pemimpin tertinggi Tiongkok yakni Xi Jinping tampil di atas panggung negosiasi dengan AS, melibatkan diri dalam perang dagang dengan AS.

Ini menandakan bahwa ia akan memikul tanggung jawab dari hasil negosiasi maupun akibatnya.  Oleh karena itu, Xi Jinping, pemimpin tertinggi Tiongkok komunis yang telah membuat kesepakatan dengan Trump pada 3 Desember, dalam banyak aspek harus menghadapi sejumlah beban berat.

[1]
Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan saat makan malam di real Mar-a-Lago di West Palm Beach, Florida, pada 6 April 2017. (Jim Watson/AFP/Getty Images)

Hubungan antara Xi Jinping dengan Trump

Usai pertemuan, Trump menulis di akun Twitternya, bahwa ia memiliki hubungan pribadi dengan Xi Jinping.

“Kami berdua, adalah orang dari 2 negara besar yang akan memberi kita perubahan yang luar biasa dan positif dalam hal perdagangan dan orang yang akan membuat solusi perdamaian di Semenanjung Korea. Ini merupakan hal positif baik bagi rakyat Tiongkok maupun semua orang !”

Penilaian Trump terhadap Xi Jinping tampaknya sudah kembali pada saat mereka sedang berakrab di waktu lalu.

Satu hal penting yang perlu disimak adalah bahwa Presiden Trump dalam penilaiannya 2 tahun ini hampir selalu memisahkan pribadi Xi Jinping dari rezim Tiongkok komunis.

Beberapa orang berpikir bahwa ini adalah kebiasaan dan strategi diplomatik Trump. Misalnya, dia selalu menganggap Kim Jong-un dan Putin sebagai teman.

Namun, jika menilai dari sudut yang berbeda, mungkin beranggapan : Trump sebagai Presiden AS, ia akan mewakili Amerika Serikat, dan Xi Jinping sebagai pemimpin tertinggi Tiongkok, otomatis mewakili Tiongkok. Trump jelas paham bahwa lawan negosiasinya adalah Tiongkok komunis. Namun, sebagai individu, Xi Jinping dapat membuat pilihan yang berbeda. Hari ini, Xi Jinping dihadapkan dengan pilihan yang berat.

Beberapa orang kecewa dengan hasil pertemuan Trump – Xi, alasan utamanya adalah mereka memiliki harapan yang tidak realistis bagi Presiden Trump dan percaya bahwa Trump ingin mengakhiri dominasi kekuasaan PKT dan seterusnya.

Bahkan setelah lewatnya waktu nanti Trump menjadi pahlawan karena berhasil mendorong kejatuhan Partai Komunis Tiongkok, tetapi dilihat sampai sekarang strategi yang ia mainkan semenjak menjabat sebagai presiden tampaknya adalah ingin secara komprehensif membatasi ruang gerak PKT yang utamanya tak lain adalah memperbaiki perdagangan tidak adil dengan Tiongkok.

Fokusnya adalah untuk kepentingan Amerika Serikat, untuk membuat Amerika Serikat kuat kembali. Ia tak pernah secara terbuka mengungkapkan ingin membubarkan PKT sebagaimana yang diharapkan oleh sebagian orang.

Adapun apakah strategi Trump saat ini secara obyektif akan berdampak membuat PKT bubar, itu adalah masalah lain.

Xi Jinping memikul lebih berat beban disalahkan

Sebelum Kongres Nasional PKT ke 19, meskipun perseteruan politik di internal partai sangat sengit, tetapi Xi Jinping pada dasarnya masih berada dalam kondisi aman-aman saja. Setelah menjabat kepala negara, ia mulai melakukan pembersihan terhadap korupsi, memperbaiki sistem politik, menghapus kamp kerja paksa, menyerukan penggalakan kembali budaya tradisional dan langkah-langkah lainnya.

Di saat itu ia dinilai telah bertindak sesuai  opini publik, membawa beberapa harapan kepada dunia luar.

Namun, setelah Kongres Nasional PKT ke-19, situasi Xi Jinping telah berubah tajam dalam waktu singkat dan sekarang ia berada dalam masalah terhimpit oleh situasi internal dan eksternal.

Alasan utama adalah Xi Jinping sampai sekarang tidak bersedia melepas beban disalahkan yang sedang ia pikul sebagai kepala negara. Dalam beban yang ia pikul itu berisi  penuh dengan kejahatan sejarah yang dibuat oleh Partai Komunis Tiongkok dan kelompok Jiang Zemin. Dan, saat ini beban telah semakin berat dan semakin menekan dirinya.

Xi Jinping menduduki jabatan kepala negara tahun 2012 dan mengambil alih sejumlah masalah berantakan dari tangan pemimpin sebelumnya Hu Jintao berupa : Kelompok Jiang Zemin telah melumpuhkan kekuasaan pemerintahan Hu (Jintao) dan Wen (Jiabao) selama 10 tahun. Kewenangan untuk menyetir Partai Komunis Tiongkok, pemerintahan, militer dan kekuasaan  atas daerah hampir seluruhnya dipegang oleh kelompok Jiang.

[2]
Foto menunjukkan jamuan makan malam G20 AS-Tiongkok. (SAUL LOEB / AFP / Getty Images)

Selama lebih dari 20 tahun Jiang Zemin dan kelompoknya mengendalikan Tiongkok, sistem hukum Tiongkok mengalami kerusakan parah, ekonomi Tiongkok berkembang dalam situasi pincang, sehingga  keluarga Jiang Zemin yang menjadi perwakilan dari berbagai kelompok kepentingan Partai Komunis Tiongkok.

Khususnya setelah Jiang Zemin menggerakan secara penuh mesin negara untuk menindas hak asasi manusia dengan memerintahkan penganiayaan terhadap kelompok Falun Gong dan pengambilan organ praktisi Falun Gong.

Sesungguhnya, siapa saja yang menjabat kepala negara Tiongkok termasuk Xi Jinping, sejak hari pertama menjabat maka ia akan terbebani dosa asal yang dibuat PKT. Memikul beban kesalahan yang dibuat pendahulunya Jiang Zemin dan kelompoknya.

Namun, apa yang dilakukan Xi Jinping pada awal-awal tahun menjabat dunia luar memperkirakan bahwa Xi Jinping besar kemungkinannya akan melepas beban kesalahan yang dibuat pendahulunya, enggan untuk disalahkan! Ketika Zhou Yongkang tertangkap, Xi sebenarnya dapat menyeret Jiang untuk bertanggungjawab, membuang beban berat di pundaknya.

Namun sayangnya, Xi Jinping selain tidak membuang beban bahkan menampung dosa baru buatan kelompok Jiang yang menyebabkan ia kewalahan dalam menghadapi tekanan internal dan eksternal.

Dilatarbelakangi perang dagang Tiongkok – AS, pihak yang dijadikan target pembasmian korupsi oleh rezim Xi Jinping dalam 5 tahun terakhir ini adalah kelompok Jiang Zemin yang mengambil keuntungan dari setiap kesempatan untuk memobilisasi segala sumber daya dalam kekacauan yang timbul  di masyarakat Tiongkok.

Situasi masyarakat Tiongkok yang semakin kacau, dengan mengatasnamakan menjaga stabilitas politik, mereka menciptakan krisis dan kejahatan baru, seperti mengintensifkan penganiayaan terhadap Falun Gong dan kelompok minoritas Uighur di Xinjiang, menciptakan berbagai penganiayaan baru terhadap masyarakat, mengintensifkan kontradiksi sosial dan membiarkan Xi Jinping menanggung beban disalahkan.

Tantangan yang dihadapi Xi Jinping

Dilema yang dihadapi pihak berwenang saat ini Xi Jinping tidak lagi bisa menyelesaikan masalah reformasi struktural dengan cara mengulur-ulur waktu atau taktik penipuan, berpura-pura negosiasi dengan Amerika Serikat.

Bahkan setelah kesepakatan tiga bulan berlalu dan PKT cukup beruntung karena  mendapatkan perpanjangan waktu, itupun tidak bisa menyelesaikan krisis mendalam yang mereka hadapi sekarang.

Masalah mendasar yang dihadapi Tiongkok adalah disebabkan oleh kontradiksi fundamental dan pertentangan antara sistem PKT itu sendiri dengan masyarakat Tiongkok, ekonomi Tiongkok, nilai-nilai universal dan kepentingan mendasar rakyat Tiongkok.

Untuk mempertahankan sistem yang dianut PKT itu sendiri membutuhkan kekerasan dan kebohongan, dan ini tidak pernah dapat diubah. Sistem PKT dan ideologi Marxisnya semua itu bertentangan dengan nilai-nilai universal dan anti-manusia dan nilai tersebut telah dibuang oleh rakyat di seluruh dunia.

Oleh karena itu, pihak atau kelompok yang mengikuti mode penguasa dan ideologi PKT tersebut pasti tidak dapat hidup berdampingan dengan dunia yang percaya pada nilai-nilai universal dan kemanusiaan.

Jadi, pada dasarnya di bawah sistem PKT, rezim Xi Jinping tidak mungkin dapat menemukan solusi untuk menyelesaikan konflik perdagangan Tiongkok – AS.

dukungan untuk trump dalam mereformasi sistem ekonomi cina tiongkok [3]
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) menghadiri jamuan makan malam negara di Balai Agung Rakyat di Beijing pada 9 November 2017. (THOMAS PETER / AFP / Getty Images via Epochtimes.com)

Itulah sebabnya Xi Jinping menghadapi tantangan besar. Dilihat dari permukaan, tampaknya pihak Tiongkok hanya perlu membuat perubahan dalam hal perdagangan dari struktur ekonomi, namun, jika membuat perubahan dari struktur ekonominya, itu berarti sudah keluar dari model pemerintahan PKT. Dengan kata lain, bahwa di dalam sistem komunis, perubahan struktural ekonomi Tiongkok tidak dapat dilakukan !

Korupsi institusional dari PKT telah memberi kesulitan buat otoritas Xi Jinping untuk membasmi korupsi secara mendasar, bahkan sulit juga untuk menyeret keluarga Jiang Zemin ke depan meja hijau. Oleh karena itu, krisis keuangan Tiongkok tidak dapat diatasi secara fundamental. Di bawah sistem PKT, keruntuhan hanyalah masalah waktu.

Otoritas Tiongkok jika terus mempertahankan ideologi komunis dan Marxisme, sebesar apapun usahanya untuk mengatasi masalah yang dihadapi sekarang tidak akan membuahkan hasil. Di samping gagal dalam mengatasi masalah, lilitan komunisme yang kian erat juga akan  terus membawa bencana bagi Tiongkok, dunia bahkan individu pun akhirnya terkena celaka.

Kehancuran rezim komunis dan paham komunisme di dunia adalah kecenderungan umum dan kehendak Pencipta Alam.

Sepanjang sejarah Tiongkok, para raja yang menyembah surga dan percaya kepada Tuhan, menjalankan kepemimpinan sesuai dengan kodrat alam sering kali mencapai kesuksesan.

Penguasa Tiongkok sekarang, jika dapat menangkap penjahat PKT Jiang Zemin untuk mengakhiri penindasan Falun Gong dan nilai-nilai universal dari Sejati-Baik-Sabar, berinisiatif untuk meninggalkan ideologi komunis. Apalagi bersedia kembali kepada nilai-nilai tradisi, niscaya krisis dapat diatasi dan secara lancar menghantarkan masyarakat Tiongkok ke era transisi di masa mendatang. Sementara pada saat yang sama mencapai status historis yang pernah dimilikinya. (Sin/asr)