Erabaru.net. Keluarga Luke Z. Tang, seorang mahasiswa Harvard berusia 18 tahun yang meninggal bunuh diri, sekarang menuntut Universitas Harvard dan karyawannya atas kelalaian dan kecerobohan karena gagal mencegah putranya melakukan bunuh diri.

Luke Tang adalah seorang mahasiswa Harvard yang sangat disukai, bersemangat, dan brilian yang mengejutkan keluarga dan teman-temannya ketika dia memutuskan untuk mengambil hidupnya sendiri pada 11 September 2015 lalu.

Ketika orangtua Luke membaca jurnal-jurnalnya dan berbicara dengan teman-teman terdekatnya dalam upaya untuk mengetahui mengapa putra mereka meninggal dengan bunuh diri. Ketika mereka mengumpulkan apa yang terjadi, mereka mulai mengungkap kebenaran tentang kematian Lukas.

Pada tanggal 11 September, hanya sehari sebelum peringatan kematian putra yang ke-3 tahaun , Wendell W. Tang mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi Middlesex County. Ia menyebut Harvard Corporation, dekan Catherine R. Shapiro, Lowell House Resident Dean Caitlin Casey, Konsultan Kesehatan Mental Universitas Harvard, Melanie G. Northrop, dan psikiater HUHS David W. Abramson sebagai tergugat, lapor The Harvard Crimson.

“Sebagai hasil langsung dan dan kurang lebih dari kelalaian dan kecerobohan Harvard, telah menyebabkan penggugat penderitaan fisik dan mental yang parah dan penderitaan dan lebih jauh lagi, tuntutan Penggugat disebabkan atas kematian putranya yang bunuh diri,” bunyi tuntutan itu.

Tuntuan ini berpendapat bahwa para terdakwa bertanggung jawab atas kematian dan ganti rugi yang berjumlah setidaknya 20 juta dollar (sekitar 290 miliar rupiah).

Dalam surat tuntutan tersebut menuduh bahwa setelah upaya pertamanya di bulan April 2015, Tang menandatangani perjanjian yang dibuat oleh Shapiro, Northrop, dan Abramson yang merinci bahwa dia harus menerima konseling penuh untuk tetap berada di kampus. Dia tidak diizinkan untuk mengubah atau menegosiasikan ketentuan dalam perjanjian.

Namun, dokumen mengungkapkan bahwa Tang tidak menerima konseling kesehatan mental antara Mei 2015 sampai kematiannya pada bulan September.

Sementara para pengacara Harvard belum membalas komentar dari media, Dekan Kolese Rakesh Khurana menulis dalam email bahwa : “Pikiran dan doanya terus bersama semua orang yang tahu dan mencintai Luke,” menambahkan bahwa “kehilangan anak adalah salah hal paling penting yang bisa terjadi pada keluarga. ”

Pengadilan telah menetapkan 9 Januari 2019 sebagai batas waktu untuk tanggapan Harvard, menurut laporan itu.(yant)

Sumber: nextshark.com, Youtube

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds