oleh Xiao Lushen

Meng Wanzhou, putri sulung pendiri perusahaan Huawei Ren Zhengfei ditangkap pihak berwenang AS dan menjadi fokus opini publik. Namun, apa yang dilakukan oleh Meng dan Huawei di belakang layar sehingga memicu Amerika Serikat mengambil tindakan tegas ?

Apakah investigasi AS terhadap Huawei juga berkaitan dengan Meng Wanzhou ?

Bloomberg News dalam laporannya menyebutkan bahwa Huawei diinvestigasi oleh pihak berwenang AS karena ketika Departemen Perdagangan AS menyelidiki kasus ZTE menemukan dokumen internal yang menyebutkan bahwa perusahaan pesaingnya yakni F7 (sebutan internal ZTE untuk Huawei) juga melakukan bisnis dengan Iran. Atas permintaan beberapa anggota Kongres, Departemen Kehakiman akhirnya memutuskan untuk mengirim Biro Investigasi Federal (FBI) untuk menyelidiki Huawei secara menyeluruh.

Reuters pada 31 Januari 2013 pernah melaporkan bahwa Meng Wanzhou, putri Ren Zhengfei sejak Februari 2008 hingga April 2009 telah menjabat sebagai dewan direksi pada perusahaan Skycom yang terdaftar di Hongkong.

Pada akhir tahun 2010, kantor Skycom di Teheran dengan abaikan sanksi perdagangan AS terhadap Iran telah menjual peralatan komputer dan ponsel Hewlett-Packard senilai +/- EUR. 1,3 juta kepada operator telepon seluler terbesar Iran yang terkena embargo AS.

Di dalam proposal penjualan produk itu selain terpapar logo Huawei juga terdapat lebih dari 13 halaman dokumen yang berisi ‘rahasia perusahaan Huawei’.

Menurut laporan itu, setelah meninjau serangkaian dokumen dan catatan Skycom, ditemukan bahwa Huawei, Meng Wanzhou, dan Skycom memiliki banyak hubungan keuangan dan lainnya selama 10 tahun sebelum waktu itu.

Meng Wanzhou, Direktur Eksekutif Dewan raksasa teknologi Cina Huawei, menghadiri sesi Forum Investasi Modal VTB “Rusia Calling!” di Moskow pada 2 Oktober 2014 (Alexander Bibik / Reuters)

Sebagai contoh, pada tahun 2007, sebuah perusahaan manajemen yang dikendalikan oleh induk perusahaan Huawei memegang semua saham Skycom, dan Meng Wanzhou adalah sekretaris perusahaan tersebut.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa Huawei memiliki perjanjian dengan banyak perusahaan telekomunikasi Iran.

‘Huawei Innovation Research Program’ juga membuat marah Amerika Serikat

Selain melakukan bisnis dengan Iran, ‘Huawei Innovation Research Program’ (HIRP) adalah alasan utama lain yang membuat marah Amerika Serikat. Anggota parlemen AS telah meminta pemerintah AS untuk menyelidiki program tersebut.

Menurut situs web resmi HIRP, program ini menyediakan dana untuk universitas dan lembaga penelitian terkemuka yang berkecimpung di bidang penelitian inovatif dalam teknologi komunikasi, ilmu komputer, teknik, dan bidang terkait lainnya.

Washington Post melaporkan bahwa pada 19 Juni 2018, 26 orang anggota parlemen Partai Demokrat dan Republik AS bersama-sama mengirim surat kepada Menteri Pendidikan AS Betsy DeVos, meminta Kementerian Pendidikan mendirikan Satgas yang khusus menyelidiki isu kerjasama perusahaan Huawei dalam bidang teknologi dengan lebih dari 50 universitas di Amerika Serikat. Menerima pemberitahuan dari pejabat intelijen dan penegak hukum senior AS untuk menghindari pencurian teknologi.

Anggota parlemen dalam surat itu mengatakan bahwa rencana dan proyek kerjasama Huawei dengan universitas ini dapat menimbulkan ancaman besar bagi keamanan nasional AS. Ancaman ini membutuhkan perhatian dan pengawasan dari Departemen Pendidikan.

Menurut sumber-sumber publik, program HIRP mencakup kerjasama dengan lebih dari 300 universitas di lebih dari 20 negara.

Website resmi Huawei USA bahkan mengungkapkan bahwa, Huawei telah menjalin kerjasama dengan Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, University of Texas di Austin, University of California di Berkeley, University of California Los Angeles (UCLA), University of Michigan, Universitas Yale, Universitas Maryland, dan North Carolina State University.

kasus hak paten huawei
Seorang resepsionis di kantor perusahaan telekomunikasi Tiongkok Huawei di Kota Wuhan, Tiongkok pada 8 Oktober 2012. (STR / AFP / Getty Images)

‘Rencana Benih untuk Masa Depan’ dan ‘Pusat R & D Sensor dan Perangkat Lunak’

Selain HIRP, Huawei juga memiliki program pelatihan untuk siswa yaitu Huawei Seeds for the Future Program (Rencana Benih untuk Masa Depan).

Menurut situs resmi Huawei, rencana benih di masa depan adalah rencana utama dari CSR global (Corporate Social Responsibility) yang diluncurkan oleh Huawei pada tahun 2008. Ini bertujuan untuk mengembangkan bakat teknologi informasi dan komunikasi (ICT) lokal dan meningkatkan transfer pengetahuan. Hingga akhir tahun 2016, program ini telah dilaksanakan di 96 negara dan organisasi internasional di seluruh dunia, melibatkan lebih dari 30.000 orang mahasiswa di 280 universitas.

Amerika Serikat telah meluncurkan program benih pertama pada tahun 2016 dan menerima sebanyak 155 aplikasi dari 53 universitas di seluruh Amerika Serikat. Akhirnya, terpilih 20 orang mahasiswa dari universitas seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Carnegie Mellon University (CMU), dan Stanford University.

Menurut berita terbaru, pada 4 Desember 2018, upacara peluncuran Seeds for the Future Program diadakan di kota Kiev, Ukraina.

Selain itu, Shi Weiliang, manajer umum Huawei untuk Prancis pada 27 Nopember lalu mengatakan bahwa ia akan mendirikan pusat R & D kelima untuk Prancis di Grenoble, Prancis tenggara, dengan fokus pada pengembangan sensor dan perangkat lunak.

Xinhua News Agency melaporkan bahwa Huawei pada tahun 2013 telah mengumumkan rencana penanaman modal sebesar EUR. 1,5 miliar dalam bidang inovasi di Perancis, kata Shi Weiliang.

Saat ini, Huawei telah mendirikan 4t pusat R & D di Prancis yang meliputi pengembangan chip, matematika, terminal rumah dan estetika. Pusat R & D kelima yang mengkhususkan diri dalam pengembangan sensor dan perangkat lunak akan memiliki 30 orang ahli yang mengkhususkan diri dalam penelitian hingga tahun 2020. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds