Erabaru.net. Tidak ada habisnya cerita tentang prajurit samurai Jepang yang legendaris dalam budaya pop modern; tetapi kebanyakan cerita hanya menampilkan samurai laki-laki.

Bertentangan dengan kepercayaan yang sudah populer, samurai wanita ada dan sama ganas dan terampil seperti rekan-rekan pria mereka.

Onna bugeisha Ishi-jo, istri Oboshi Yoshio

Disebut Onna Bugeisha, prajurit yang mematikan ini sama-sama terlatih dalam pertempuran, pertahanan diri dan penggunaan persenjataan yang terampil, menurut Japan Times.

Senjata populer pilihan di antara Anna Bugeisha adalah pedang yang dipasang di ujung tongkat yang disebut naginata. Mereka juga dilatih dalam seni bertarung pisau tantojutsu, menggunakan belati yang dikenal sebagai kaiken.

(Foto: YouTube / Smithsonian)

Memiliki standar yang sama, prajurit samurai pria dan wanita diharapkan untuk melakukan tugas yang sama, jadi mereka sering bertarung satu sama lain di periode sebelumnya seperti Heian dan Kamakura.

Di antara beberapa anggota samurai wanita yangterkenal adalah Tomoe Gozen dan Hangaku Gozen.

Tomoe Gozen, paling dikenal karena kesetiaan dan keberaniannya, bertempur dengan gagah berani di Pertempuran Awazu pada tahun 1184.

Menurut “The Tale of the Heike”:

“Tomoe sangat cantik, dengan kulit putih, rambut panjang, dan fitur menawan. Dia juga seorang pemanah yang sangat kuat, dan sebagai seorang pendekar pedang dia adalah seorang prajurit yang bernilai seribu, siap untuk menghadapi setan atau dewa, berkuda atau berjalan kaki.

“Dia menunggang kuda-kuda terus menerus dengan keterampilan luar biasa; dia naik dan turun ke bawah tanah yang berbahaya tanpa cidera. Setiap kali pertempuran sudah dekat, Yoshinaka mengirimnya keluar sebagai kapten pertamanya, dilengkapi dengan baju besi yang kuat, pedang besar, dan busur panah yang kuat; dan dia melakukan lebih banyak keberanian daripada prajurit lainnya. ”

Hangaku Gozen, yang pernah memimpin 3.000 prajurit untuk melawan 10.000 pasukan yang setia kepada klan Hōjō, telah digambarkan dalam sastra Jepang sebagai “tak kenal takut seperti manusia dan seindah bunga.”

Hangaku Gozen.( Yoshitoshi, ca. 1885)

Prajurit wanita juga ditugaskan untuk melindungi rumah mereka daripada pergi ke medan perang. Mereka dilatih untuk menjadi terampil dalam senjata yang secara efektif dapat bertahan melawan penjajah di atas kuda.

Lebih lanjut tentang Onna Bugeisha, mengenakan baju zirah bergambar saat memimpin kelompok-kelompok wanita bersenjata naginata, didokumentasikan sampai periode Sengoku (pertengahan abad ke-15 – awal abad ke-17).

Sejarawan Stephen Turnbull menulis dalam ” Samurai Women 1184-1877 ” bahwa, “bukti arkeologis, meskipun sedikit, secara nyata menunjukkan keterlibatan wanita yang lebih luas dalam pertempuran daripada yang tersirat dalam cerita-cerit tertulis saja.”

Namun, perubahan besar pada status wanita dalam masyarakat Jepang akan datang pada awal abad ke-17 (periode Edo).

Dengan tatanan konvensi sosial baru dan munculnya perdamaian, para Onna-Bugeisha dipaksa untuk menjalani perubahan radikal dari status mereka sebagai prajurit yang menakutkan menjadi istri dan ibu yang berbakti.

Diharapkan untuk menjalani kehidupan ketaatan pasif, putri bangsawan dan jenderal akhirnya dilarang mengambil bagian dalam pertempuran dan bahkan bepergian.

Menariknya, di bawah kekuasaan otoriter Keshogunan Tokugawa pada pertengahan abad ke-17, sekolah dibuka di sekitar Kekaisaran untuk mengajarkan seni naginata kepada wanita sebagai metode pelatihan moral.

Sementara ada penurunan yang signifikan dalam kebutuhan akan keterampilan bertempur, perempuan masih diharapkan untuk siap membela rumah tangga atau desa jika ada gangguan di malam hari atau sesuati mencurigakan yang tiba di sekitarnya.

Pada akhir abad ke-19, Onna Bugeisha legendaris lainnya bernama Nakano Takeko akan memimpin kelompok wanita prajurit khusus yang dikenal sebagai Jōshitai.

Nakano, yang juga memegang naginata, telah membubuh membunuh 172 samurai. Dia meninggal karena luka tembak ketika memimpin serangan terhadap pasukan Tentara Kekaisaran Jepang dari Ōgaki Domain.

Onna bugeisha (kemungkinan besar aktris) yang sering keliru diidentifikasi sebagai Nakano Takeko

Tindakan Nakano dan kelompok pejuang perempuannya dari Joshigun masih diperingati hari ini selama Festival Musim Gugur Aizu tahunan.

Setiap tahun pada bulan September sekelompok gadis muda mengenakan hakama dan ikat kepala shiro mengambil bagian dalam prosesi untuk menghormati mereka.(yant)

Sumber: nextshark.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds