Chen Simin

Tanggal 26 November 2018, media massa telah mengungkap wakil dosen He Jiankui dari Shenzhen Southern University of Science and Technology mengumumkan “kasus pertama bayi dari hasil rekayasa/pengeditan genetika telah lahir di Tiongkok”. Setelah kabar ini dipublikasikan, langsung memicu opini dalam dan luar negeri terkait kontroversi “pelanggaran etika Bayi Pengeditan Gen” tersebut.

Gelombang kecaman menggelora, selain He Jiankui sebagai pelaku tidak mampu menangkis. Semua daftar yang teregistrasi dan semua pihak yang terkait dengan dokumen dalam kasus ini langsung membersihkan hubungan keterkaitan mereka dengan kasus ini.

Hal terutama menarik perhatian adalah, media corong partai yakni situs “People’s Network” juga berubah haluan menyesuaikan kondisi, sebuah berita terdahulu yang sebelumnya mengggembar-gemborkan suatu terobosan bersejarah telah dicabut.

Tak sulit membayangkan, jika “bayi rekayasa genetika” itu tidak serta merta memicu tsunami opini ganda dari dalam maupun luar negeri.

Perkembangan dari peristiwa ini akan menjadi tidak hanya tidak memutus hubungan dengannya bahkan sebaliknya akan mempererat hubungan dengan: Semua instansi dan badan terkait mulai dari Shenzhen Southern University of Science and Technology, Komisi IPTEK Shenzhen, rumah sakit klinis, Komisi Etika, registrasi uji nuklir dan instansi lainnya.

Sementara Komisi Perencanaan Kesehatan Negara, Komisi Perencanaan Kesehatan Shenzhen dan berbagai tingkatan pengawas, yang sekarang berseru agar segera diinvestigasi juga akan berubah sikap menjadi memberikan penghargaan.

Sementara tokoh pelaku utama yakni He Jiankui sendiri tidak akan diberhentikan dari jabatan, melainkan justru terkenal dalam semalam dan menjadi kaya, lalu rumah sakit klinis akan berkembang bisnisnya, dan 8 perusahaan yang terkait dengan He Jiankui berikut pengeditan gen akan ikut berkembang pesat, dan lain sebagainya.

Hanya saja “People’s Network” lagi-lagi telah meremehkan garis dasar moralitas dunia, khususnya dalam hal “kasus pertama di dunia” ini, tak hanya tidak bisa dengan mudah membangkitkan kebanggaan yang semu di masyarakat.

Sebaliknya justru membuat banyak warganet membandingkan kejahatan “bayi rekayasa genetika” ini melebihi kekejaman Kasus Jepang “31 Juli”, objek eksperimen tubuh manusia ini adalah dua embrio manusia yang belum lahir, yang berarti diaplikasikan pada kedua bayi ini yang sejak sekarang telah menjadi objek percobaan selama hidup mereka, juga anak dan cucu dari kedua bayi ini akan diawasi untuk selamanya.

Fokus lainnya dari opini ini adalah dua buah gen alel pada salah satu bayi perempuan itu telah direkayasa, sedangkan bayi lainnya yang direkayasa hanya satu gen alel saja (ini menyebabkan bayi ini masih ada kemungkinan terjangkit HIV), sehingga kedua bayi pun menjadi “objek percobaan perbandingan yang sempurna.”

Jika suatu hari nanti bayi rekayasa genetika ini mengalami kematian karena penyakit primer tertentu, pelaku utama akan sulit digugat melakukan pembunuhan, karena bayi ini tidak memiliki HAM, benar-benar hanya dijadikan sebagai kelinci percobaan di dalam labolatorium. Dan belum diketahui berapa banyak “kelinci percobaan” seperti ini yang belum diungkap.

Sebelumnya, saat diwawancara oleh Associated Press, He Jiankui menyatakan dalam proses perawatan kesuburan, ia telah merekayasa embrio anak dari 7 pasang suami istri, salah satu ibu hamil itu telah berhasil melahirkan sepasang anak kembar.

He Jiankui juga mengatakan, suami istri yang terlibat dalam percobaan direkrut oleh Organisasi AIDS Beijing dan di dalam organisasi ini, semua pria telah terjangkit AIDS. Sementara para wanita tidak terjangkit. Dalam hal ini muncul dua kecurigaan di kalangan warganet, percobaan ini mungkin tidak hanya telah dilakukan pada 7 pasangan saja, mungkin juga dilakukan diam-diam ; dan pada percobaan ini dilakukan “inseminasi buatan secara in vitro + relawan pria dan wanita (mungkin bukan suami istri)”, itu berarti tidak ada yang tahu siapa orangtua sebenarnya dari bayi tersebut.

Dalam berita berjudul “Kasus Perdana Bayi Rekayasa Genetika Kebal AIDS Telah Lahir di Tiongkok” yang telah dihapus dari situs “People’s Network” itu bisa sepenuhnya mencerminkan “niat awal” situs People’s Network, juga menunjukkan ini bukan pengetahuan umum.

Waktu publikasi adalah menjelang tibanya “Hari AIDS sedunia” dan sehari sebelum digelarnya KTT Rekayasa Genetika Internasional, reporter People’s Network menganggap ini adalah berita baik untuk disebarkan. Media massa resmi mempropagandakannya sebagai keberhasilan iptek, tapi dalam kata-kata “kasus pertama di dunia” atau “terobosan bersejarah” atau “bayi kebal AIDS” atau “kebal AIDS alami”, menunjukkan sikap yang tidak menghargai manusia, telah meremehkan nyawa dan etika kemanusiaan.

Opini publik berang dan mengatakan, “bayi pengeditan gen” ini tidak membuat terobosan apa pun dalam ilmu kedokteran, tapi justru telah mendobrak garis dasar etika, dan media partai PKT justru sebelumnya sempat “begitu bangga” mengatakan pada dunia bahwa ini adalah terobosan, ini juga kembali mengungkap karakter PKT yang gemar merusak etika dan sama sekali tidak bergaris dasar moral.

Hari Kamis (29/11/2018), PKT mengumumkan penangguhan kegiatan penelitian He Jiankui yang semula mengira akan menuai “sukses besar”, secara resmi telah “dicampakkan.”

Teknologi Rekayasa Genetika ini sebetulnya telah ditemukan di Amerika Serikat dan tidak rumit. Namun komunitas ilmiah internasional dilarang keras untuk menerapkannya pada manusia.

Analisa berpendapat bahwa penelitian yang tidak dapat diterima di semua negara ini hanya dapat terjadi di daratan Tiongkok. Ini menunjukkan He Jiankui yang “tidak mengenal ajaran ketuhanan”, dengan dukungan pemerintah dalam lingkungan ateisme yang diciptakan oleh Komunis Tiongkok, baru berani menyentuh garis bawah moralitas. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds