- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Demi Mendapatkan Cintanya Dia Selalu “Pura-pura Miskin”, Namun Suami Mengajukan Cerai Setelah Bisnisnya Lancar

Erabaru.net. Mungkin karena memiliki hidup yang nyaman sejak kecil, dia merasa cinta itu melebihi segalanya daripada materi. Saat berusia 21 tahun, Jenny bertemu dengan suaminya berusia 26 tahun yang tampan dan elegan. Jenny langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Steve, suaminya mengatakan bahwa dia tidak suka dengan anak gadis dari keluarga berada yang dimanja sejak kecil, sebaliknya lebih suka dengan gadis dari keluarga sederhana tapi tegar.

[1]

Demi mendapatkan cintanya, dan juga harga dirinya, Jenny selalu berpura-pura menjadi orang miskin. Kurang dari setahun, Steve melamarnya, dan tanpa ragu sedikit pun, Jenny pun menerima lamarannya, dan dalam pernikahan itu, Jenny diam-diam merahasiakan pada keluarga.

Setelah keluarga jenny tahu hal itu, mereka sangat marah dan sedih, namun, Jenny bersikukuh dengan pendiriannya, membuat ayahnya jengkel dan tidak ingin menemui Jenny.

[2]

Hanya ibunya yang dua kali menemui Jenny. Ibunya yang sayang pada Jenny tak tega melihat Jenny tinggal di apartemen yang sangat kecil, dan bermaksud membeli rumah yang agak besar untuknya, tapi Jenny menolak dengan alasan sangat puas dan bahagia dengan hidup yang dijalaninya sekarang, dan uang itu akan menodai cinta sejati, katanya.

”Dulu, hidup saya mungkin terlalu sederhana, dan saya selalu dilindungi orangtua saya. sama sekali tidak tahu dengan roda hidup yang sebenarnya. Belakangan setelah menikah, suami saya mulai merintis karier, berangkat pagi pulang malam. Karena tidak mengerti dengan operasional perusahaan, saya selalu berada di rumah, memasak, mencuci atau pekerjaan rumah tangga lainnya, kemudian duduk di balkon sambil menunggunya pulang kantor,” kata Jenny.

Beberapa tahun kemudian, perusahaan Steve berangsur-angsur berkembang maju, kariernya semakin cerah dan selalu menghadiri jamuan. Karena alasan bisnis, Steve selalu pulang larut malam bahkan sampai dini hari.

Komunikasi antara keduanya semakin berkurang, dan membuat Jenny gelisah, karena Jenny ingin memiliki anak untuk menguatkan pilar pernikahannya, tetapi suaminya mengelak dengan alasan sibuk dan fokus sama karier.

Namun, Jenny tak menyangka, penantiannya untuk memiliki anak justru digugat cerai oleh suaminya.

[3]

Hari itu, tidak seperti biasanya Steve pulang pada pukul tujuh malam, dan Jenny pun dengan gembira membuat beberapa hidangan istimewa. Namun, baru beberapa suap, tiba-tiba saja Steve langsung bilang,: “Kita cerai saja ya ! “

Jenny pura-pura tidak mendengarnya, justru tersenyum dan berkata, : “Ikan ini enak lho, ayo makan lagi yang banyak, kamu tampak kurus sekarang.”

Namun, tak disangka Steve malah membanting sumpitnya di atas meja dan berkata,:” Kita cerai saja !”

Kali ini, Jenny tidak bisa lagi pura-pura bodoh, dia meletakkan sumpitnya, dan bertanya lembut dengan sabar : “Mengapa ? Apa alasannya?”

Sejujurnya, kehidupan pernikahan Jenny dan Steve selama setahun ini semakin hambar, jadi tidaklah aneh kalau sampai terjadi perceraian. Berapa malam Jenny berdiri di balkon menunggunya pulang, dalam benaknya selalu terukir kata cinta. Jenny melewatkan hari-hari dalam kesepian malamnya karena keindahan cinta saat pacaran.

Sementara itu, Steve mengatakan bahwa yang dia butuhkan bukanlah seorang istri yang memasak di rumah, tetapi seorang istri yang dapat membantunya dalam karier.

Tujuanmu membuka perusahaan untuk menghasilkan uang, kan? Jika kubilang, aku sanggup memberimu 2 miliar, bisakah pernikahan kita dilanjutkan ? Aku ingin mempertahankan pernikahan ini dengan uang yang tak’ kan pernah habis kupakai.

Aku serius, bukan lelucon. Dalam benak Jenny terus berpikir, mungkin alasan perceraian Steve, suaminya tidak sesederhana itu.

Sekarang saya baru mengerti, pertumbuhan (kematangan) seorang wanita itu benar-benar hanya sesaat itu. Saat Steve mengajukan cerai, saya merasa kecerdasan saya terbuka seketika. Setelah mencari tahu tentang Steve, ternyata di balik kepercayaan Jenny sepenuhnya pada Steve, dia telah berhubungan dengan seorang rekan wanita saat membuka perusahaan beberapa tahun lalu.

Semasa masih kanak-kanak, mimpi terbesar saya adalah memasak di rumah, sambil menunggu suami tercinta pulang kerja, kemudian minum teh bersama sambil mendengarkan musik atau ngobrol santai di balkon atau berjalan santai setelah makan malam, melahirkan satu atau dua orang anak, dan jalan-jalan di hari libur.

Saya telah mewujudkan poin yang pertama, tapi sekarang saya pikir, mungkin cintaku bukan pada suami, tetapi mimpiku sendiri.

Karena tidak memiliki anak, proses cerai juga sangat sederhana. Ketika menghitung asset properti, dia bilang perusahaan tidak memiliki banyak uang di rekeningnya. Hanya satu apartemen yang dibeli secara angsur sebelum menikah, artinya Jenny harus angkat kaki tanpa mendapatkan harta gono-gini apa pun.

Hal itu tidak menjadi masalah bagi Jenny, karena mimpi itu sudah terlanjur hancur, dan uang itu bukan hal utama bagi Jenny, sementara Steve menghitungya dengan cermat, karena khawatir Jenny akan memerasnya.

Jenny menelepon ibunya, menceritakan tentang perceraianmya, dan terdengar isak tangisnya dari ujung telepon sana. Keesokan paginya, ayah Jenny datang menjemputnya dengan mobil mewah.

Mata ayah Jenny tampak merah, sementara itu, adik laki-laki Jenny bilang bahwa meski ayah selalu ngoceh, tapi sebenarnya sangat menyayangi Jenny. Sang ayah langsung datang menjemput begitu mendengar perceraian Jenny.

Sementara itu, Steve tampak melongo ketika melihat ayah Jenny datang menjemputnya dengan mobil mewah. Sebelum pergi, Jenny berkata pada Steve : “Aku juga ada salah dalam pernikahan ini, aku berpura-pura miskin dihadapanmu, aku minta maaf.”

Usai meminta maaf, Jenny pun naik ke mobil, dan dari balik kaca spion, Jenny melihat Steve, mantan suaminya itu hanya terpaku bengong di tempat dan menyesal, ekpresi wajah Steve tampak lucu sekaligus menjengkelkan.

[4]

Tiba-tiba, tangis Jenny pecah dalam keheningan. “Menangislah sepuasmu nak, jalan di depan masih panjang menantimu,” kata ayah Jenny lembut.

Jenny semakin terisak mendengar nada lembut ayahnya, semua uneg-unegnya yang terpendam dalam hatinya pun seketika tumpah seiring dengan raungan tangisnya dalam pelukan sang ayah tercinta.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: