Erabaru.net. Demi kepentingan ekonomi, ada orang yang mengabaikan lingkungan, tetapi ada juga yang rela meninggalkan segalanya, hanya untuk mendapatkan sekeping dunia yang ramah lingkungan.

Lǐ Mínguǒ, seorang gadis asal Xi Shuang Banna, (Sibsongbanna atau Sipsong Panna, disingkat menjadi Banna adalah prefektur otonomi Tai Lül di bagian selatan Yunnan, Tiongkok), pernah bekerja sebagai reporter di stasiun Yunnan di sebuah surat kabar di Hong Kong.

Selama 10 tahun kariernya, dia yang suka dengan traveling telah melakukan perjalanan ke seantero Tibet, Nepal dan Mesir. Pada tahun 1999, dia bertemu dengan calon suaminya, seorang pria dari Jerman, Ma You.

Dalam pameran Kunming World Expo tahun itu, Ma You ditunjuk oleh pemerintah Jerman untuk mengambil alih Proyek Restorasi dan Perlindungan Hutan Hujan Tropis Xi shuang banna. Dalam pertemuan itu, dia menyelinap keluar dan bertemu dengan Li Minguo yang sedang diwawancarai. Dia jatuh cinta pada gadis itu pada pandangan pertama dan mengundangnya minum kopi di lobi hotel, di sana dia memainkan musik blues untuknya.

Usai melantunkan musiknya, Ma You langsung melamar Li Minguo: “Jika kamu masih lajang, menikahlah denganku.” Sontak Li Min guo pun terkejut mendengarnya. Dia mengira itu hanya salah satu bagian dari malam romantis yang tak terhitung banyaknya, tetapi sosok pria di depannya itu mengutarakannya dengan tulus, dan sinar matanya tampak tulus.

“Aku tidak bisa memberimu harta yang berlimpah, tetapi aku bisa memberimu bunga yang tak berujung,”katanya tulus.

Li Minguo adalah seorang gadis yang penuh dengan gejolak perasaan, tetapi kali ini dia tidak ragu lagi, karena “dia berani meminangku, dan aku pun berani memberi.” Sehubungan dengan ini, dia juga menulis sebuah puisi khusus : “Selangkah lebih awal, musim semi pun berlalu, dan lembah selaksa bunga pun terlewatkan jika terlambat lagi.”

Pada tahun 2000 lalu, keduanya menikah. Mereka menetap di Sungai Mekong dan menamakannya “Mekong Hill Garden.” Dulu, di sana adalah hutan karet seluas 15 hektar yang ditanam oleh penduduk setempat. Pohon karet sangat ekonomis, penduduk setempat menebang pohon asli di sana dan menggantinya dengan pohon karet. Tetapi tidak ada yang melihatnya karena ketidakseimbangan proporsi spesies tunggal, keseimbangan ekologi di hutan hujan rusak, penguapan air dan limpasan permukaan tanah meningkat tajam, dan banyak spesies primitif tidak dapat tumbuh dengan semestinya.

Pulau itu kehilangan vitalitasnya, ahli Ekologi Ma You menghabiskan 20 tahun waktunya untuk menghidupkan kembali tanaman asli di sana. Li Minguo menemani Ma You menebang pohon karet dan menanam tumbuhan lain. Dia menanam segala jenis tumbuhan, dari pohon yang pendek hingga pohon yang tinggi besar. Selangkah demi selangkah dia mengembalikan lingkungan ekologi asli dari hutan hujan tropis sesuai dengan ekosistem, klasifikasi, dan vegetasi yang berbeda.

▼ Anggrek adalah tanaman yang tumbuh di hutan hujan tropis. Selama anggrek ditanam, pengembangan hutan hujan tropis pun menjadi sempurna. Mereka mengangkut anggrek yang layu ke laboratorium di desa dan dikembangkan, kemudian menempatkan anggrek-anggrek itu di atas pohon hutan hujan. Berkat kerja keras dan ketekunan mereka, hutan yang penuh dengan pohon karet itu pun berubah menjadi taman bunga.

▼ Di hutan itu, pohon paling tinggi mencapai lebih dari 30 meter, lebih dari 120 jenis anggrek tersebar di seluruh taman, dan berbagai hewan kecil pun beterbangan ke sana ke mari. Ketika musim hujan tiba, katak, jangkrik melantunkan suara khas mereka masing-masing dengan gembira. Suatu malam ketika sedang tidur, Ma You tiba-tiba tertawa, membuat Li Minguo yang berada di sisinya bertanya penasaran apa yang dia tertawakan. “Ada suara kodok yang fals,” katanya sambil tersenyum geli.

▼ Li Minguo mengumpulkan madu dan tepung sari, kemudian membuat sendiri pasta yang bisa dimakan dan digunakan sebagai masker wajah. Keduanya membuat lilin Natal bersama dengan bahan-bahan dari hutan. Bahkan koagulan keju juga murni alami. Terkadang saat melakukan perjalanan dinas luar, dia bahkan bisa mendengar suara asli dari segala sesuatu di hutan hujan tropis ketika menyalakan musik di pesawat, dan itu adalah anugerah terbaik yang diberikan hutan hujan tropis mereka.

▼ Pada Agustus 2001, Linda, putri sulung Li Minguo dan Ma You lahir. Dua tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 2003, Vanda, putri kedua mereka lahir. Kedua putri mereka tidak sekolah, tetapi bermain di rumah, aktivitas mereka sehari-hari adalah menggambar, bermain catur, boneka, dan drama.

Di Eropa, ada contoh sukses Summerhill School, Ma You berencana menyekolahkan anak-anaknya ke Summerhill School yakni sekolah yang membebaskan anak-anak tumbuh dan berkembang sendiri, tak pernah memaksa siswa-siswanya harus masuk kelas dan belajar, anak-anak bisa menentukan jalannya sendiri tanpa ada intervensi dari orangtua maupun sekolah. Orangtua dan sekolah hanya berfungsi sebagai pendamping dan penunjuk jalan. Anak-anaknya sendiri yang menentukan kemana mereka melangkahkan kaki.

▼ Menurut Li Minguo, pendidikan terbaik adalah pendidikan lisan dan tindakan. Kecintaan dan perhatian pasutri Ma You dan Li Minguo pada alam memberi pengaruh positif pada kedua anak mereka. Mereka juga sangat mencintai alam. Mereka berbicara dengan bunga, merasakan energi dari pohon-pohon besar, dapat mendengar suara daun-daun yang jatuh berguguran, berjalan dan berlari santai tanpa alas kaki di hutan hujan, kecintaan dan perhatian mereka pada hutan hujan meresap sampai ke dalam batin mereka.

▼ Pada tahun 2005, Ma You dan Li Minguo menyewa 6666.6 ha tanah peristirahatan dari seorang penduduk desa Bulang, Provinsi Menghai, Prefektur Xi shuang banna, Yunnan, Tiongkok. Dan mendirikan kawasan konservasi keragaman hayati rakyat Tiongkok yang pertama.

Tanah ini terletak di Desa Banzhang yang terkenal dengan teh Pu’er-nya. Ketika pertama kali tiba di Desa Banzhang, satu kilo teh Pu’er hanya 50 yuan (sekitar 105.000 rupiah). Orang-orang mengatakan mereka naïf, karena pohon yang mereka tanam sangat beragam jenisnya, namun tidak melihat manfaat ekonomi apa pun.

Pengumpulan benih, pembibitan, dan penanaman semua itu membutuhkan banyak sumber daya manusia dan sumber daya. Pasutri ini hampir mempertaruhkan semua asset mereka di hutan itu, bahkan menjual asuransi mereka dan menggunakan uang itu untuk menanam pohon.

▼ Meski semua orang tidak mengerti dengan pola pikir mereka, tapi Li Minguo percaya, bahwa harta sebanyak apa pun tetap akan habis cepat atau lambat. Lebih baik menyisakan sebenih teh yang akan menjadi tunas dan pohon, kemudian menjadi hutan, dengan demikian, anak-cucu sampai generasi seterusnya memiliki makanan yang tak ada habisnya.

Berkali-kali dia mencoba meyakinkan penduduk desa, dan akhirnya, kesabaran dan keuletannnya menyentuh hati mereka. Segenap penduduk desa dengan suara bulat setuju untuk menyerahkan sebidang lahan mereka kepada pasutri Ma You dan Li Minguo, dan membubuhkan cap sidik jari di atas surat perjanjian yang disepakati.

▼ Li Minguo secara khusus menyusun sebuah deklarasi : “Mari kita bangun kembali hutan hujan di Desa Banzhang ini bangkit lagi dari lahan ini.” Sejak itu, Ma You dan Li Minguo menanam pohon di tanah kosong yang luasnya hanya 16% dari sebidang hutan.

Dua tahun kemudian, sebanyak 3 juta tunas pohon yang tidak sama jenisnya itu tumbuh subur. Ma You pun berpikir tanah itu cukup baginya untuk bekerja seumur hidup. Dengan nada canda, Li Minguo berkata, jika dapat hidup sampai 120 tahun batas maksimum usia manusia, maka dia akan dapat menyaksikan semua itu. Mendengar perkataan istrinya, Ma You pun menimpali,: “Kalau bisa sih saya mau hidup sampai usia 220 tahun.”ujarnya sambil tertawa ceria.


▼ Masa bahagia itu selalu berlangsung dengan singkat. Pada tahun 2010, Ma You mengucapkan selamat tinggal selamanya pada dunia di rumah. Li Minguo tiba-tiba kehilangan kekasih, belahan jiwa, dan guru spiritualnya, dan mengalami pukulan berat, tetapi dia tidak punya waktu untuk larut dalam kesedihan.

Dia memakamkan Ma You suami tercintanya di kaki bukit Desa Bulang, agar dia bisa memandang segenap hutan hujan tropis. “Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan hidupku, aku pasti akan menuntaskan hal-hal yang belum sempat diselesaikan suamiku,” Kata Li Minguo.

▼ Dalam 30 tahun terakhir, hutan karet tunggal yang ditanam telah kehilangan sekitar 400.000 hektar hutan hujan tropis, dan gajah-gajah liar di Xi Shuang Banna juga telah kehilangan habitat mereka.

Li Minguo sangat khawatir dengan kondisi itu, dan dia memutuskan untuk terus bertahan. Tapi bencana itu tidak sendirian, seiring dengan melonjaknya harga teh Pu’er, pedagang teh cenderung berebut lahan, dan 6666,6 hektar lahannya ikut melonjak harganya.

▼ Li Minguo tidak menanam teh, sehingga memicu banyak kritikan dan pergunjingan. Seorang rekan kerjasamanya lupa dengan perjanjian semula. Tengah malam yang sunyi, dia membakar sebidang hutan yang ditanam sebelumnya. Dia membangun rumah, mengalasi dengan semen Mesin-mesin berat juga dikerahkan di hutan, menggali lubang besar untuk membangun stasiun pembangkit listrik tenaga air.

▼ “Saat itu saya melihat kobaran api, dan api itu hampir membakar di depan makam almarhum suamiku,” Kata Li Minguo. Ketika kobaran api semakin membara, tanpa pikir panjang lagi, Li Minguo ingin menerjang ke hutan itu, untung saja segera diseret oleh dua orang teman di sampingnya, mungkin Li Minguo akan terbakar hidup-hidup di tengah kobaran api jika tak segera ditarik oleh dua orang penduduk desa.

▼ Penduduk desa di sana tidak mau lagi menyewakan lahan kepada Li Minguo, mereka tidak mengerti mengapa tanah yang subur itu tidak digunakan untuk menanam teh, justru menanam bunga. Mereka meminta Li Minguo membayar uang sewa sebesar 100.000 yuan (sekitar 210 juta rupiah) setahun, termasuk uang sewa untuk tahun-tahun sebelumnya. Li Minguo terpaksa meminjam uang di mana-mana dan membayar sekaligus sewa tanah yang diminta penduduk desa. “Saya tidak ingin menyerah, meski pun lahan di hutan ini saya sewa hanya untuk menanam bunga,”kata Li Minguo.

▼ Dia akan selalu ingat, mereka pernah mengalami gunung berapi saat Ma You, mendiang suaminya masih hidup. Saat itu, sambil menunjuk jarinya ke sebatang tunas muda tidak jauh darinya, Ma You berkata, :”Tidak peduli betapa mengerikannya kobaran api itu, selalu ada beberapa tanaman yang kokoh untuk bertahan hidup.”

Bersama kedua putrinya berikut sebuah tim kecil yang hanya terdiri dari puluhan orang, Li Minguo mulai sibuk di hutan itu. Dia praktekkan keterampilan yang pernah dipelajarinya saat bersama mendiang suaminya, sekarang dia adalah ketua tim dan dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

▼ Dia mulai bernegosiasi dengan pengembang real estat dan pemerintah daerah setempat. Dia mencoba mempromosikan kepada masyarakat cara hidup di hutan hujan tropis dengan tanaman anggrek. Dia menyuarakan tujuannya saat diwawancarai media, TV, dan mencari sejumlah mitra kerjasama ternama.

Dia bertekad untuk membuahkan hasil, agar lebih banyak orang melihat hasilnya, dan semakin banyak orang yang mendukungnya, termasuk artis ternama seperti Jackie Chan, Ni Ping, Yang Lan, Chen Kun, Zhou Xun dan artis lainnya. Perihal Li Minguo yang menjaga hutan hujan juga didengar Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Badan Pembangunan dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikannya penghargaan “Hutan itu menjadi indah karena Anda.”

▼ Kedua anak perempuannya juga mewarisi cita-cita mereka. Masih hangat dalam benak mereka tentang perkataan almarhum ayah mereka : “Semua benih mengandung kehidupan. Kita harus memperlakukan dengan baik setiap benih, agar mereka dapat tumbuh menjadi pohon besar.”

Demi menjaga mimpi orangtua mereka, kedua putrinya itu ke dunia di luar hutan hujan untuk pertama kalinya. Pada awalnya, mereka juga khawatir, tetapi mereka menjadi lebih berani dan tegar ketika membayangkan pengorbanan dan usaha keras orang tua mereka.

Li Minguo mengirim dua putrinya ke sekolah dasar biasa di Kota Pu’er, itu adalah kampung halamannya dan jaraknya juga dekat, dia bisa langsung melihat seberapa dalam mereka terkontaminasi dengan dunia luar.

▼ Pada Desember 2011, mereka membawa gajah ke panggung pertunjukan bakat, dan memberi kesan yang dalam pada semua penonton dan juri dengan lantunan lagu-lagu rakyat “Flower Love” dan “Plant a tree “.

Pada Januari 2012, kedua kakak beradik itu berjalan ke Balai Agung Rakyat dan membawakan lagu “Earth Song” membuat orang-orang yang mendengarnya mulai merenung : Apa yang telah kita lakukan untuk dunia?

▼ Linda dan Vanda, dua bocah perempuan yang pernah hidup di hutan hujan tropis ini terus meminta bantuan untuk hutan hujan yang rapuh dengan cara mereka sendiri. Sekarang kedua ‘malaikat’ itu telah tumbuh dewasa, dan niat dari awal sekeluarga untuk menjaga hutan hujan itu tak pernah berubah.

▼ Selama 12 tahun di atas bukit Desa Bulang, ekosistem di sana telah pulih, dan mereka juga akan pindah ke bukit itu. Li Minguo menamakan desa baru itu sebagai ‘Jù-luò’. Pada 2017 lalu, ia meluncurkan penggalangan dana di Weibo untuk pembangunan “Seeds of Heaven”.

Inti dari Ju-luo adalah The Seed Science Center, yang menyediakan area eksperimental bagi para ilmuwan di seluruh dunia, sebagai fasilitas bagi pengembangan produk hutan hujan, dan berinvestasi di hutan hujan untuk siklus komersial yang berkelanjutan.

Mereka sekeluarga saling menemani dan terus mewujudkan cita-cita Ma You, almarhum suami dan ayah dari kedua putri Li Minguo, seperti sang ayah yang selalu ada dan suami yang selalu menemani.

▼ Kita yang tinggal di kota, dan setiap hari hilir mudik di jalan dengan mobil, sulit membayangkan hubungan antara ban karet dan hutan hujan di Xi Shuang Banna yang jauh dari keramaian. Sementara keluarga Li Minguo berada di kedalaman hutan, menanam benih dengan cara yang paling primitif, dan diam-diam menjaga hutan hujan di sana selama beberapa dekade.

Lebih dari satu dekade telah berlalu, dan sekarang area perlindungan hutan hujan telah ditanami lebih dari 3 juta tanaman, dan telah membentuk “iklim mikro ekologi hutan hujan” disana.

▼ Tindakan mereka semakain banyak dipahami orang-orang, beberapa penduduk desa setempat meletakkan pancing, mulai menaruh perhatian pada tanaman dan ikut menanam pohon. Mungkin tidak semua orang yang mendengar desahan hutan hujan dan melihat keadaan hutan hujan saat ini akan introspeksi untuk menanam pohon, tetapi semakin banyak orang yang mendengarnya, semakin besar kemungkinan untuk mengubah keadaan, dan semakin besar harapan untuk hutan hujan.

▼ Hutan hujan membutuhkan lebih banyak perhatian dan perlindungan. Seperti yang dikatakan Li minguo : “Bagaimana pun, manusia tidaklah seagung alam.”

Orang-orang sekarang berlari terlalu cepat, tetapi mereka lupa seperti apa kondisi lingkungannya ketika mereka menoleh ke belakang. “Ketika suatu negara atau suatu bangsa benar-benar menganggap dirinya sebagai bagian dari alam, mereka baru tidak akan berlari terlalu jauh,”kata Li Minguo kepada media.

Li Minguo dan Ma You, almarhum suaminya mengerahkan sepenuhnya pikiran dan energi mereka untuk melindungi hutan hujan. Mereka menemui banyak kesulitan, tetapi tidak pernah berpikir untuk menyerah. Karena mereka tahu, ketika bunga-bunga bermekaran, maka semua pengorbanan mereka itu menjadi layak dan berharga.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular