Erabaru.net. Selain orangtua, orang terdekat kita adalah saudara, baik laki-laki maupun perempuan. Hidup rukun dan bercanda saat tinggal bersama semasa kanak-kanak, tetapi setelah tumbuh dewasa, dimana karena berbagai alasan, ada yang semakin asing dengan saudara kandung sendiri, dan hubungan pun tidak seharmonis dulu.

Karena hubungan yang tidak akrab dengan saudaranya, adik perempuan dalam cerita berikut ini selalu bersikap dingin dan menghina kakak laki-laki dan iparnya kampungan.

Agar kakak dan iparnya tidak tinggal di rumahnya, sang adik berusaha dengan berbagai cara. Namun, sesuatu yang terjadi selama bertahun-tahun kemudian, membuatnya sadar seketika bahwa kakak laki-laki dan iparnya itu menyayanginya dengan tulus, dan dia pun menjadi sangat malu dan merasa bersalah …

Setelah lulus dari universitas, Carina Zhou kerja di Guangzhou. Berkat kerja keras dan keuletannya selama 10 tahun, Carina yang merintis kariernya dari awal sebagai pegawai rendahan di perusahaan multinasional, sekarang telah menjadi direktur pemasaran. Carina juga telah memiliki sebuah rumah yang dibeli dengan keringatnya sendiri, meski secara angsur.

Pagi itu, Carina ditelepon kakak laki-lakinya yang akan ke Guangzhou untuk membantu seorang kerabat mendekorasi sebuah rumah.

Dia juga bilang akan mengajak istri dan dua keponakannya untuki menemui Carina. Carina hanya menanggapi beberapa patah kata, lalu menutup teleponnya.

Kakak laki-lakinya itu adalah saudara seayah lain ibu dengannya, dan mereka juga tidak pernah tinggal bersama sejak kecil, jadi, bisa dikata tidak memiliki hubungan yang akrab.

Ilustrasi.

Tiba-tiba, sadar, jika kakak laki-lakinya ke Guangzhou, pasti akan tinggal di rumahnya.

Oh tidak, tidak! Di desa saja sudah terbiasa semaunya, ditambah lagi dua orang bocah, entah apa jadinya nanti rumah yang sudah aku dekorasi dengan rapi itu, gumam Carina.

Namun, rumah Carina cukup luas, masih ada separuh ruangan kosong. Bagaimana perasaan mereka jika aku tidak mau mereka tinggal di rumahku ? Carina terus menguras otaknya, dan akhirnya menyewa sebuah kamar kos sederhana di luar.

Beberapa hari kemudian, saudara laki-laki Carina datang bersama keluarganya, mereka langsung masuk ke dalam kamar yang disewa Carina, dan kamar itu pun seketika dipenuhi dengan barang-barang bawaan saudaranya.

Kakak iparnya adalah wanita desa yang lugu, kedua keponakannya yang berusia empat dan lima tahun bukan main nakalnya.

Tak lama kemudian mereka mulai hiruk pikuk di dalam kamar, bermain semaunya tanpa melihat kondisi.

Melihat kenakalan keponakannya itu, Carina hanya bisa mengelus dada dan bersyukur tidak membawa mereka tinggal di rumahnya.

Saudaranya melirik Carina dan bertanya : “Dek, kamu kan sudah lama tinggal di kota, kok masih ngontrak ? Dengar-dengar katanya kamu kerja di perusahaan orang bule, gajinya pasti besar dong.”

“Lagi berencana beli rumah. ……uangnya masih kurang,” kata Carina dingin.

Mendengar itu, saudaranya menimpali :”Ah, kirain sudah punya rumah, tadi waktu ditanya pemilik rumah tinggal di mana, aku bilang tinggal di rumahmu yang besar, tapi sepertinya lebih baik kami tinggal di lokasi konstruksi.”

Carina tiba-tiba salah tingkah mendengarnya, untung saja tak lama kemudian, saudaranya pergi bersama sekeluarganya.

Tak terasa sebulan pun berlalu, Carina memperkirakan proyek renovasi saudara laki-lakinya mungkin sudah hampir selesai, kemudian dia ke mal untuk membeli beberapa barang sebagai hadiah kepulangan mereka.

Tapi tak disangka, saat bertemu kakaknya, dia justru berkata: “Dek, kami tidak berencana kembali ke desa.”

Carina pun tercengang mendengarnya. “Bukankah pekerjaanmu di sini sudah selesai ?” Tanya Carina.

“Pekerjaan memang sudah selesai, tapi ipar dan keponakanmu bilang lebih enak tinggal di kota, tidak mau balik ke kampung lagi, saya pun berpikir, mencari pekerjaan lain untuk menghasilkan uang … “kata kakaknya.

Sontak saja Carina pun jadi gelisah, pasalnya, kalau saudaranya tidak mau pulang ke desa, maka dia sendiri juga tidak bisa pulang ke rumahnya.

Carina berusaha membujuk saudaranya, “Meskipun di kota terlihat gemerlap, tapi biaya hidup di kota sangat tinggi, beban kerja juga besar, jadi lebih baik kalian kembali ke desa, berkebun,” kata Carina sambil mengambil 5 juta rupiah dari dalam tasnya dan berkata pada saudaranya: “Kak, ambil uang ini, pulanglah.”

Mendengar bujukan Carina, saudaranya pun mulai ragu-ragu, kemudian mengambil uang itu dan mulai mengemasi barangnya.

Ilustrasi.

Akhirnya, Carina bisa menarik napas lega dan berencana pulang ke rumahnya nanti saat sempat.

Beberapa hari kemudian, saat Carina pulang kerja dan melewati alun-alun, dia melihat sesosok pria yang familiar di sebuah lapak barbekyu, kemudian melihat dengan seksama, kalau bukan kakakku, siapa ya ?Gumam Carina sambil berjalan ke kios itu.

Kebetulan saat itu, saudaranya mendongakkan kepala dan melihat Carina. Saudaranya tampak canggung melihat Carina, dan berkata pelan,: “Dek, pulang kerja ya ?”

Melihat Carina diam saja, dia pun menjelaskan : “Waktu itu, kami sudah tiba di stasiun, tapi kami merenung lagi, dan rasanya enggan meninggalkan kota ini, jadi saya menggunakan uang pemberianmu, menywa lapak barbekyu ini. Sekarang tampaknya usaha ini lumayan bagus.”

Carina berusaha tersenyum dan berkata :” Ya sudah kalau begitu. Eh, mana kedua anakmua itu ? Terus kalian tinggal dimana sekarang ? “

“Anak-anak kami sekolahkan di TK. Sekarang kami tinggal di rumah kontrakan di pinggiran kota, satu juta rupiah per bulan.”kata kakaknya.

Mendengar cerita kakaknya, Carina pun merenung, sepertinya belum bisa pulang ke rumah, gumamnya.

Iparnya kemudian menimpali,: “Dek, jangan khawatir, kami pasti bisa bertahan hidup di kota ini, nanti kalau sempat, kami akan berkunjung ke rumahmu”

Carina hanya menganggukan kepala, lalu pergi.

Ilustrasi.

Carina berencana menyewakan kamar di rumahnya yang tidak ditempati, dia menghitung-hitung uang sewa rumahnya setelah dipotong uang sewa kamar yang ditempatinya sekarang masih bisa digunakan untuk menyicil rumah yang dibelinya.

Dengan begitu, selain bisa meringankan beban angsuran rumahnya, juga tidak akan diketahui kakaknya kalau dia punya rumah. Akhirnya Carina membatalkan keinginannya untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Dua tahun kemudian, angsuran rumah Carina hampir lunas, sementara kakaknya juga tidak lagi berjualan di pinggir jalan. Dia menyewa sebuah kios dan membuka kedai barbekyu.

Siang itu, Carina ke kedai saudaranya dan membantu membersihkan meja. Saat sedang merapikan meja, tiba-tiba Carina merasa pusing, matanya berkunang-kunang dan hampir jatuh pingsan. Saudaranya yang peka, merasa ada yang tidak beres dengan adiknya, lalu bertanya padanya apa yang terjadi.

“Aku juga tidak tahu, entah mengapa beberapa hari ini aku selalu merasa lesu,”katanya lemah.

Mendengar itu, kakaknya berkata dengan cemas, “Tunggu apa lagi? Ayo sekarang aku antar ke rumah sakit!”

Sang kakak langsung meninggalkan pekerjaannya, mengantar Carina ke rumah sakit. Dari hasil diagnosis dokter, baru diketahi ternyata Carina menderita anemia aplastik yakni kelainan darah yang terjadi ketika sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru, dan perlu menggunakan obat untuk menghasilkan darah.

Kakaknya yang khawatir dengan kondisi Carina lalu bertanya pada dokter: “Dok, berapa lama ya untuk proses penambahan darah ini? Saya lihat dia sangat lemah sekarang”

“Proses ini akan sedikit lama. Jika ingin pulih secepatnya, hanya bisa dengan cara transfusi darah terlebih dahulu. Namun, kami menemukan golongan darahnya yang langka. Sekarang tidak ada stok darah seperti itu di bank darah, dan sulit diperoleh,”kata dokter.

Kakaknya buru-buru berkata setelah mendengar keterangan dokter,: “Dok, coba periksa darah saya. Kami bersaudara, mungkin golongan darahnya sama.”

Dan tak disangka, golongan darahnya memang cocok. Namun, Carina tampaknya tak tega juga mendengar dibutuhkan sejumlah besar darah yang akan ditransfusikan kepadanya, lalu berkata kepada kakaknya, : “Kak, kamu akan kehilangan banyak darah, nanti akan berdampak buruk pada kesehatanmu dengan transfusi darah sebanyak itu, kamu adalah pilar keluarga, bagaimana dengan keluargamu kalau kamu ambruk ? “

“Kamu kan adikku, bukankah keluargaku juga ? Apa aku tega melihat dirumu tersiksa oleh penyakit?” kata kakaknya polos.

Akhirnya, kakaknya tetap bersikeras memberikan darahnya, dan hari-hari selanjutnya, kakak iparnya juga dengan setia mengurusnya dengan tulus dan telaten.

Melihat semua ini, gejolak perasaan Carina berkecamuk saat membayangkan sikapnya pada kakaknya dan keluarganya. Carina merasa bukan main malunya dan sangat menyesal.

Dan untuk menebus semua itu, Carina seketika memutuskan menjual rumah besarnya itu setelah keluar dari rumah sakit. Dari hasil penjualan rumahnya nanti, akan ia belikan dua unit rumah sederhana untuk kakaknya sekeluarga dan dirinya.

Ilustrasi.

Setelah perawatan instensif, kondisi Carina juga sudah menunjukkan tanda-tada pulih. Saat keluar dari rumah sakit, kakaknya datang menjemputnya.

Tetapi kakaknya tidak membawanya pulang ke rumah kontrakan, melainkan ke sebuah area pemukiman baru.

Kakaknya membawanya ke lantai atas, kemudian membuka pintu sebuah rumah baru. Carina termangu sejenak, dan baru mengerti, lalu dengan heran bertanya pada kakaknya: “Kak, kamu sudah membeli rumah ya ?”

Kakaknya hanya mengangguk kepala, “Baru dibeli ketika kamu dirawat di rumah sakit, da baru saya renovasi.”kata kakaknya sambil tersenyum.

Sementara itu, Carina masih merasa tidak percaya : “Kak, baru dua tahun kamu di sini, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli rumah meksi sederhana ?”

“Aku membeli secara angsur, semula mau tunggu beberapa tahun lagi lagi baru beli. Tapi dokter bilang kamu harus beristirahat dan menjalani proses perawatan di rumah setelah keluar dari rumah sakit.

“ Aku pikir rumah kontrakan yang sempit itu mana cocok untukmu tinggal ? Apalagi aku juga khawatir kamu tinggal sendirian di rumah kontrakan itu, jadi aku membeli rumah agar kita sekeluarga bisa tinggal bersama, dan kakak iparmu juga bisa merawatmu dengan tenang di rumah,” kata kakaknya sambil berjalan dan membuka sebuah pintu kamar.

Ilustrasi.

“Pencahayaan di kamar ini lebih baik. kamu tinggal di sini saja,”ujar sang kakak.

Sinar Matahari yang cerah di rumah baru itu menyapu kabut dalam hati Carina. Pada saat-saat bahagia ini, perasaan Carina berkecamuk antara rasa malu atau tersentuh, dan tanpa bisa ditahan lagi, air matanya pun berlinang.

Jagalah hubungan harmonis dengan sesama saudara, hargai dan bersyukur memiliki saudara yang penuh dengan cinta kasih yang tulus ini.

Jangan biarkan keegoisan menutupi mata hati Anda, dan jangan pernah meremehkan atau memandang hina siapa pun.

Sekali lagi hargailah orang-orang yang bersikap baik dan tulus kepadamu. Semoga tercerahkan! (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular