Erabaru.net. Saat ini, berita kematian pekerja karena terlalu banyak bekerja bukan hal yang asing lagi. Bahkan, kasus-kasus seperti itu telah menjadi hal yang biasa terutama di Jepang sehingga masyarakat di sana mempunyai sebutan yang khas untuk kematian seperti itu yang disebut “karoshi”.

Ilustrasi.

Yang, pria berusia 51 tahun dari Pingtung, Taiwan menjadi korban kerja keras, tetapi cukup beruntung masih bisa bertahan dari masalah itu. Menurut LTN, Yang mengalami pendarahan di otaknya setelah bekerja terus menerus selama 35 hari tanpa istirahat di pabrik pembekuan ikan di Taiwan.

Tukas Yang di pabrik melibatkan pemrosesan produk laut dan pada 20 Desember 2014, dia tiba-tiba pingsan pada jam 4 sore saat bekerja. Yang kemudian dilarikan ke rumah sakit di mana dokter mendiagnosisnya dengan pendarahan otak dan tekanan darah tinggi.

(Foto: LTN)

Akibatnya, Yang menjadi cacat. Dia juga tidak bisa bekerja dan harus menjalani pemulihan untuk waktu yang lama karena kerusakan saraf yang dia alami.

Yang juga hampir tidak bisa berjalan bahkan setelah empat tahun dan anak-anaknya terpaksa bekerja paruh waktu untuk membantu menghidupi keluarganya.

Karena itu, Yang memutuskan untuk menuntut perusahaannya untuk kompensasi karena dia percaya bahwa kondisinya karena terlalu banyak pekerjaan.

Namun, perusahaannya menanggapi dengan mengatakan bahwa Yang sudah memiliki kebiasaan tidak sehat.

Mereka mengatakan bahwa Yang suka merokok dan sering minum minuman keras dan pekerjaannya tidak begitu berat dan mengatakan bahwa 70% dari kondisina disebabkan oleh dirinya sendiri.

Ilustrasi. (Simon Law/Flickr)

Karena hal tersebut, Kementerian Tenaga Kerja memutuskan untuk menyelidiki kasus ini dan mengunjungi perusahaan tersebut untuk mendalami permasalahannya lebih lanjut.

Mereka menemukan bahwa Yang tidak beristirahat selama 35 hari saat bekerja di perusahaan itu dan biasanya Yang bekerja lebih dari 10 jam. Sehari sebelum dirawat di rumah sakit, mereka menemukan bahwa dia telah bekerja selama 14,5 jam.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan, hakim memutuskan bahwa perusahaan itu bersalah karena memungkinkan Yang bekerja untuk waktu yang lama.

Undang-undang tenaga kerja di Taiwan menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat meminta karyawan mereka untuk bekerja lebih dari 12 jam sehari dan lebih dari 46 jam untuk kerja lembur dalam sebulan.

Hakim mengatakan bahwa penyakit itu memang disebabkan karena kerja keras dan perusahaan diperintahkan untuk membayar kompensasi sebesar 5.792.571 TWD (sekitar 2,7 miliar rupiah ) kepada Yang.(yant)

Sumber: Erabaru.com.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular