Washington DC – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengkritik pemerintah Rusia atas penyebaran pesawat pengebom ke Venezuela. Pesawat itu dikenal mampu membawa senjata berhulu-ledak nuklir.

“Orang-orang Rusia dan Venezuela harus melihat ini apa adanya: dua pemerintah korup menghambur-hamburkan dana publik, dan memadamkan kebebasan dan kemerdekaan, sementara rakyat mereka menderita,” tulis Pompeo dalam tweet pada 10 Desember 2018.

Pompeo memposting foto Tupolev Tu-160 di Twitter. Sebuah pesawat yang mampu membawa rudal jelajah bermoncong bom-nuklir.

Kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi kepada The Associated Press bahwa dua dari pembom Tu-160 mendarat di bandara Maiquetia di luar Caracas pada 10 Desember 2018, setelah melalui penerbangan sejauh 6.000 mil.

Belum jelas apakah pesawat itu membawa senjata. Kementerian itu juga tidak menyatakan berapa lama pesawat akan tinggal di Venezuela.

Pesawat bomber itu, menurut pejabat Rusia, dikawal oleh jet tempur Norwegia F-18 selama penerbangan. Dia menambahkan bahwa sebuah pesawat kargo dan pesawat penumpang menemani bomber itu ke negara sosialis.

Bomber Tu-160 “Blackjack” juga dikerahkan dalam operasi militer Rusia di Suriah, di mana mereka menggunakan rudal jelajah Kh-101. Namun sebenarnya bomber itu dapat membawa rudal nuklir dengan jarak 3.410 mil, yang juga berada dalam jangkauan daratan utama AS.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López mengklaim bomber itu tidak dimaksudkan untuk memprovokasi Amerika Serikat, “Kami adalah pembuat perdamaian, bukan perang,” kata Lopez, menurut Guardian.

Sementara itu, duta besar Rusia di Caracas, Vladimir Zaemskiy, berbicara tentang kemitraan Venezuela-Rusia yang, “Sangat subur”.

Pada bulan Desember, Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, mengatakan pemimpin sosialis Venezuela, Nicolás Maduro, adalah ‘penguasa lalim’ yang tidak bertanggung jawab. Pemimpin yang mengubah negaranya menjadi sebuah pemandangan neraka. Mattis mengatakan bahwa pada akhirnya rezim ini harus pergi agar negara itu menjadi lebih baik.

Dia tidak menyarankan peran Amerika dalam proses semacam itu. “Terserah orang-orang Venezuela, terserah kepada negara-negara regional di daerah itu untuk membantu mempercepat itu dan membawa negara itu kembali ke masa depan yang lebih sejahtera dan positif,” katanya, menurut laporan Reuters.

Tahun lalu, Trump mengatakan dia tidak akan mengesampingkan tindakan militer terhadap Venezuela.

“Kami memiliki banyak pilihan terhadap Venezuela dan omong-omong, saya tidak akan mengesampingkan opsi militer,” katanya dalam konferensi pers 10 Agustus 2017. “Operasi militer dan opsi militer tentu saja sesuatu yang selalu bisa kami jalankan.”

Seorang juru bicara Pentagon, Robert Manning, menyatakan bahwa penempatan militer Rusia tidak tepat karena adanya tragedi kemanusiaan di Venezuela, menurut Guardian.

“Bandingkan hal ini dengan Rusia, yang pendekatannya terhadap bencana buatan manusia di Venezuela adalah mengirim pesawat pembom sebagai ganti bantuan kemanusiaan,” kata Manning.

Rusia adalah sekutu politik utama Venezuela, yang telah semakin terisolasi di dunia, di bawah sanksi yang terus meningkat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Amerika menuduh Maduro merusak lembaga-lembaga demokrasi untuk memegang kekuasaan, ketika krisis ekonomi dan politik yang lebih buruk dari Depresi Besar.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan pada pertemuan pekan lalu dengan mitranya di Venezuela, López, bahwa Rusia akan terus mengirim pesawat militer dan kapal perangnya untuk mengunjungi Venezuela sebagai bagian dari kerja sama militer bilateral, menurut AP. (JACK PHILLIPS dan The Associated Press/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular