Erabaru.net. Ini adalah cerita dari seorang netizen tentang suasana keluarga tetangganya. Wanita tua, Ibu Wang, tetanga sebelah saya memiliki dua orang anak laki-laki, Han Sen, putra sulung berperawakan tinggi besar dan kekar, sedangkan Xiao Ming, putra bungsu kurus pendek dan warna kulitnya pun gelap. Lu Lu, menantu perempuan, istri dari putra bungsunya punya perawakan yang lumayan tinggi dan galak.

Bisa dikata, suasana rumah mereka tidak pernah tenang, selalu ribut, dan ada saja pemicu yang membuat gaduh seisi rumah, membuat jengkel para tetangganya, yang merasa terganggu.

Kata-kata yang sering saya dengar dalam pertengkaran hebat itu adalah “Dasar nenek peot! Punya sedikit uang langsung diberikan kepada putra sulung, Han Sen! Aku cekik kau dasar nenek peot !”

Saat Han Sen tidak berada di rumah, Lu Lu selalu menindas Ibu Wang, ibu mertuanya yang sudah tua, dan ibunya hanya bisa pasrah.

Usai sarapan, saya dan beberapa tetangga lain biasanya selalu bersantai dan duduk-duduk di bawah pohon depan rumah keluarga Ibu Wang. Meski kami tetangga dan bisa mendengar jeritan ibu tua itu, tapi tidak ada yang berani masuk melerai mereka, karena takut dengan kebringasan Lu Lu, menantu perempuan.

Tata letak rumah keluarga Ibu Wang cukup unik, ketiga rumah beratap genteng itu saling terhubung, jadi semuanya terbuka, hanya saja rumah besar Ibu Wang berada di tengah, satu halaman dengan rumah yang ditempati Han Sen, putra sulungnya.

Sementara itu, sejak menikah, rumah Xiao Ming, putra bungsunya terpisah dengan rumah nyonya Wang, dan disekat dengan dinding pekarangan, hanya rumah yang tembus dengan pintu rumah yang ditempati Ibu Wang. Karena itu, menantu perempuannya yang galak itu selalu menindas ibu mertuanya saat putra sulungnya, Han Sen dan istrinya tidak berada di rumah.

Lu Lu selalu memaksa ibu mertuanya untuk memberikan uang simpanannya, tapi tidak digubris oleh ibunya, sehingga membuat Lu Lu yang galak menjadi kesal dan naik pitam.

Ketika Han Sen pulang, maka tak terelakkan lagi dia pun mencari Xiao Ming, adiknya untuk membuat perhitungan dengannya.

Karena itulah, pertengkaran hebat keluarga mereka itu tak ada habisnya ! Tak lama kemudian, kami melihat Ah Mei, istri Han Sen berjalan pulang sambil membawa sesuatu, kami memandangnya dengan serius, ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kami dengar istri Han Sen itu orangnya lugu.

Belum sempat kami menebak apa yang akan terjadi, sayup-sayup terdengar suara caci maki dari kedua menantu Ibu Wang, bentakan suara Ah Mei, istri Han Sen yang tampak lugu itu terdengar begitu lantang : “Ibu hanya minta minum, kalau kamu tidak mau meladeninya, ya sudah, tapi kenapa memukulnya ?”

“Jangankan memukulnya, kamu juga akan kulibas !”sahut istri Xiao Ming, jauh lebih galak.

Selanjutnya bentakan demi bentakan pun menjadi tak jelas juntrungannya. Sementara kami hanya bisa menghela napas mendengar pertengkaran hebat mereka dari bawah pohon, “Ah, berantem lagi!”

Tak lama kemudian, Han Sen dan Xiao Ming, adiknya pulang dengan raungan knalpot motornya.

Saya menyelinap ke samping dinding halaman rumah kami yang berdempetan dan mendengarkan, “Berantem lagi? kata Xiao Ming,. Ah, dasar si ibu keras kepala, selalu bilang tak punya uang ! Uang itu pasti di tangan kakak ipar !” Cetus Xiao Ming curiga.

“Kalau dihitung-hitung, biaya pengobatan ayah di rumah sakit sebelum meninggal kurang dari 500 juta rupiah! Pasti masih ada ratusan juta rupiah! kamu juga kan anaknya, atas dasar apa memberikan semua uang itu pada keluarga kakakmu !” Kata Lu Lu istri Xiao Ming kesal..

Mendengar itu, tiba-tiba terlintas dalam benak saya : “ Waktu tuan besar (almarhum suami Ibu Wang) terbaring lemah di rumah sakit, kemana kalian berdua menghilang saat itu. Justru Han Sen dan Ah Mei yang selalu sibuk mengurus keperluannya di rumah sakit, bahkan saat pemakaman juga kalian seperti tamu agung, tidak peduli apa pun, yang dipikirkan hanya uang, uang dan uang !” Gumamku kesal.

Ketika Han Sen pulang kerja, dan tanpa makan lagi dia langsung tancap gas dengan sepeda motor pergi ke apotek di kota untuk membeli obat. Saat menjelang malam, Han Sen baru pulang, dalam pikiranku isterinya atau ibunya yang sakit gara-gara si Lu Lu.
Itu adalah peristiwa saat liburan musim panas saya.

Ketika itu, saya baru pulang dari liburan. Awal Januari tahun itu, Ibu Wang telah tiada. Dari cerita ibuku, pada saat Ibu Wang meninggal waktu itu, para penduduk desa tampak ketakutan.

Menurut cerita saat penguburan ibu Wang, Han sen, putra sulungnya berlutut sambil meratapi jenazah ibunya agar membuka matanya, dia berkata,: “Ketika putranmu masih miskin dan tidak punya apa-apa, engkaulah yang menemani aku sampai dewasa. Sekarang putramu sudah makmur, bisa membahagiakanmu, tapi kenapa engkau pergi begitu saja meninggalkan anakmu, ibu !”

Mungkin karena menyentuh hatinya, Ibu Wang yang sudah menjadi mayat itu tiba-tiba membuka matanya dan hidup lagi, kemudian menceritakan sebuah kenyataan yang menyedihkan dan mengejutkan di depan penduduk desa.

Ibu Wang menceritakan : “Han Sen sebenarnya bukan putra kandungnya, tapi dipungut oleh suaminya, ketika mencari kayu bakar di hutan. Han Sen diletakkan di dalam sebuah kotak kardus, jelas itu adalah bayi yang dibuang.

“Bayi yang malang itu sudah tak bisa menangis lagi saking dinginnya. Karena tak tega suaminya kemudian membawanya pulang. Sejak itu, para penduduk desa mengira itu adalah putra sulung keluarga Wang.”

Dan tak disangka, orang yang membuat hidup tuan Wang dan Ibu Wang sengsara adala anak kandungnya sendiri yang tak berbakti, sementara orang yang mengantar tuan dan ibu Wang sampai ke liang lahat justru anak yang dipungutnya.

Ibu Wang telah pergi, ekspresi di wajahnya tidak terlihat apakah bahagia atau sedih … Generasi yang lebih tua mengatakan bahwa itu adalah fenomena terminal lucidity, yang secara harfiah artinya kejernihan menjelang ajal.

Han Sen, memiliki dua putra, putra bungsu sekarang duduk di SMP, sementara putra sulung telah berkeluarga, memiliki seorang anak laki-laki yang gemuk. Istrinya juga seorang wanita yang penuh perhatian. Meskipun tidak kaya, tapi hidup bahagia dalam kesederhanaan.

Sementara itu, penduduk desa saling kasak kusuk tentang Xiao Ming, putra bungsu mendian Ibu Wang. Mereka bilang Xiao Ming mendapatkan karmanya. Lu Lu, istrinya menghinanya pria miskin yang tak berguna, dan bercerai dua tahun lalu. Sementara putranya kini masuk penjara karena melakukan perampokan .

Sedangkan putrinya bekerja di sebuah klub malam, menemani tamu minum dan tewas di jalanan karena mabuk.

Tuhan selalu melihat apa pun yang dilakukan manusia. Berbakti kepada orangtua adalah kewajiban kita sebagai anaknya yang berakhlak.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds