- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dia Setiap Hari Melihat Ibunya Membawa Makanan ke Hutan, 10 Tahun Kemudian Saat Dia Sudah Menjadi Orang Sukses Baru Tahu Fakta yang Sebenarnya

Erabaru.net. Setiap hari Li Shuai melihat ibunya keluar sambil menenteng makanan, tak lama kemudian ibunya pulang dengan tangan kosong. Li Shuai yang penasaran lalu bertanya untuk siapa makanan itu, ibunya bilang tidak memberikan kepada siapa pun, hanya meletakkannya di hutan.

Awalnya Li Shuai tidak percaya, dia pikir ibunya mungkin membantu orang tua yang terlunta-lunta, tetapi tidak mau menceritakan kepadanya.

[1]
Ilustrasi.

Suatu hari, Li Shuai memutuskan membuntuti ibunya untuk mencari tahu. Ibunya tiba di hutan kemudian meletakan makanan itu lalu pergi. Li Shuai tidak menemukan apa pun setelah menyaksikan dari jauh.

Dia pikir ibunya mungkin memberi makanan itu untuk anak-anak anjing liar yang tak bertuan.

Li Shuai merasa ibunya agak boros, tidak masalah kalau yang diberikan itu adalah makanan sisa, tapi mengapa justru makanan yang masih segar.

Ketika dia mengatakan pandangannya itu, ibunya justru menyuruhnya tidak usah turut campur dengan urusannya. Li Shuai merasa ibunya telah berubah, dulu, ibunya sangat hemat tapi kenapa sekarang jadi sangat boros.

Melihat ibunya semaunya, Li Shuai pun jadi malas mengurusi hal itu, karena dia baru saja membuka sebuah perusahaan, setiap hari banyak hal yang harus ditangani, jadi dia pun tidak mau tahu lagi dengan urusan ibunya, terserah apa maunya, yang penting dia senang, cukuplah.

[2]
Ilustrasi,

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba dia melihat ibunya tidak pergi ke hutan seperti biasanya. Mungkin ibu merasa berlebihan dengan apa yang dilakukan, terlalu boros, jadi tidak mengantar makanan lagi ke hutan, gumam Li Shuai.

Pada awalnya, bisnisnya lumayan lancar. Tapi tak disangka, belakangan menemui kesulitan. Li Shuai pun menjadi tak bersemangat. Ibunya yang mengetahui hal itu juga merasa cemas, tetapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu putranya.

Tiba-tiba, suatu hari, saat Li Shuai pulang, dengan ceria, dia berkata kepada ibunya : “Bu, nanti malam masak yang enak untuk merayakannya.”

Ibunya bertanya : “Apa sih yang membuatmu begitu gembira hari ini ?”

”Ada bos besar menemui saya untuk kerjasama dengan saya bu, kontraknya sangat menggiurkan,” kata putranya.

Ibunya tampak berseri-seri mendengarnya, dia pikir anaknya mungkin telah bertemu dengan seorang bos besar.

Tak lama setelah bekerja sama dengan bos besar itu, Li Shuai mendapat keuntungan yang besar. Lambat laun, dia pun menjadi angkuh dan seakan lupa diri.

Melihat itu, ibunya pun berkata kepadanya : “Saat kaya jangan lupa dengan kemiskinan yang pernah dialami. Karena setiap orang itu memiliki masa puncak (makmur) dan terpuruknya, Jadi jangan sombong dan lupa diri saat kaya dan tidak perlu kecewa atau merasa minder saat miskin.”

Li shuai merasa semua yang diperolehnya, itu merupakan kemampuan dan keberuntungannya sendiri.

[3]
Ilustrasi.,

Saat ibu dan anak sedang berbicara, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Li Shuai buru-buru membuka pintu dan ternyata bos besar yang bekerja sama dengannya, Li shuai langsung menyambutnya dengan antusias. Namun, sang bos tidak berbicara dengan Li Shuai, tetapi langsung menghampiri ibu Li Shuai dan menyalaminya sambil berkata, “Terima kasih bu ! Terima kasih! Jika bukan karena ibu yang selalu mengantar makanan setiap hari di hutan itu,
saya pasti tidak bisa berdiri di hadapan ibu sekarang.”

Ibu Li Shuai baru menyadari bahwa usaha putranya bisa berkembang maju itu ternyata berkat sosok pria di depannya yang pernah dibantunya dulu.

Ibunya tersenyum lembut dan berkata kepada putranya: “Apa kamu masih ingat sepuluh tahun yang lalu ibu selalu menghantar makanan di hutan kecil itu? Ibu bukan memberikan makanan itu untuk anak-anak anjing, tetapi bos besar ini.

“Dia sama sepertimu saat itu, sukses di usia muda, tapi menjadi lupa diri dan menjadi angkuh. Belakangan, semua hartanya ludes ditipu. Semula dia bermaksud mengakhiri hidupnya di hutan, tapi kebetulan ibu melihatnya saat itu.

“Dengan sabar ibu mencoba menghibur dan menasehatinya. Agar tidak melukai harga diri anak muda itu, ibu sengaja meletakkan makanan di sana lalu pulang.

“Ibu tak menyangka pemuda yang sudah terpuruk ketika itu sekarang telah bangkit kembali dan tampak lebih dewasa.”

Mendengar cerita ibunya, Li Shuai baru tahu rahasia ibunya yang setiap hari mengantar makanan ke hutan.

Setelah mengetahui hal itu, Li Shuai akhirnya sadar bahwa keberhasilannya sekarang, bukan karena kecerdasan dan kemampuannya, tetapi karena perbuatan baik sang ibu ketika itu.

[4]
Ilustrasi.

Dan seketika, Li Shuai menundukkan kepala merasa malu dengan keangkuhannya, ibunya menepuk-nepuk pundaknya, lalu berkata pada Li Shuai dan bos besarnya itu : “Kalian masih muda, meskipun wanita tua seperti saya ini tidak punya apa-apa, tetapi saya jauh lebih memahami akan arti hidup ini daripada anak-anak muda seperti kalian.”

Jangan lupa diri dalam keadaan apa pun. Jangan selalu melihat ke atas (Angkuh) saat kaya dan tak perlu berkeluh kesah atau merasa rendah diri saat hidup dalam kemiskinan. Tidak peduli kapan pun, pastikan untuk selalu melihat ke depan, kata ibu Li Shuai mengingatkan.

Kedua anak muda itu diam-diam merasa kagum dan terus menganggukkan kepala mendengar wejangan wanita bijak itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: