Erabaru.net. Julián Ríos Cantú, remaja 18 tahun asal Meksiko ini sekarang menjadi terkenal di dunia medis dan teknologi. Dan yang lebih mengejutkan, dia juga meraih penghargaan Global Student Entrepreneur Awards (GSEA) di Frankfurt, Jerman pada akhir April lalu. Tapi, tahukah Anda hadiah bergengsi yang dia dapatkan itu berasal dari pakaian dalam / bra.

Julián masih ingat tumor ibunya berkembang dari yang semula hanya seukuran butiran beras menjadi seukuran bola golf hanya dalam kurun waktu kurang dari enam bulan.

“Diagnosisnya terlambat, sehingga ibunya harus kehilangan kedua payudaranya. Meski begitu, nyawa ibu Julian akhirmya tak terselamatkan juga. Dan pada usia 13 tahun ketika itu, Julián pun menjadi anak yatim..

Saat itu dia bahkan tidak mengerti apa itu kanker payudara. Kemudian dia mencari tahu jawabannya secara online. Dan berdasarkan statistik kanker payudara seketika membuatnya tercengang.

Kejadian kanker pada wanita yang tertinggi adalah kanker payudara, setiap 26 detik, ada satu wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara. Dan setiap menit, ada yang meninggal karena kanker payudara.

Jumlah wanita yang meninggal karena kanker payudara setiap tahun di dunia mencapai sekitar 500.000 orang.

Julián nyaris tak percaya, dan seiring dengan penelitian mendalam, dia juga menemukan fakta lain yang sulit untuk diterima, yakni banyak pasien kanker payudara yang baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium akhir.

Itu berarti pasien sudah di ambang kematian, sementara kondisi itu baru ditemukan saat kritis.

Teknik diagnostik yang sudah usang dan terbelakang, kondisi kanker yang berkembang dengan cepat telah menciptakan serangkaian tragedi kematian yang tidak dapat ditebus. Jika dapat mendeteksinya lebih awal, maka tragedi seperti itu dapat dihindari sepenuhnya.

Bagaimana cara mendeteksi perkembangan kanker payudara sejak dini?

Julián mulai berpikir bagaimana cara mendeteksi perkembangan kanker payudara sejak dini? Dalam beberapa tahun, dia melahap banyak informasi,

Julian terinspirasi ketika gurunya memperkenalkan alat sensor dalam pelajara fisika. Dan terlintas dalam benaknya, mungkinkah dengan menggunakan sensor yang dapat mengukur, mendeteksi pertumbuhan dan perubahan benjolan di payudara secara akurat memprediksi kanker payudara secara dini?

Dianggap sebagai penelitian khayalan, namun, Julián dan teman-temannya tidak mau menyerah …

Dengan adanya ide itu, dia mulai mempelajari dan melakukan eksperimen. Dalam penelitian mendalam itu, dia juga berkonsultasi dengan hampir seratus profesor. Namun, 99% orang mengatakan kepadanya, itu hanyalah sebuah fantasi.

Satu-satunya orang yang yakin dengan penelitiannya adalah dua teman sekelasnya. Mereka bertiga membentuk grup, dan meluangkan waktu di luar jam sekolah, mereka berdiskusi, merancang, melakukan percobaan …

Karena terobsesi meneliti “dada” wanita, mereka juga dianggap tidak waras oleh siswa lain, namun, mereka tidak peduli dengan kasak-kusuk di sekolah.

Ketiga orang itu bekerja sama dengan penuh semangat dan tekun. Dalam waktu lima tahun penelitian dan pengembangan mereka akhirnya membuat terobosan.

Mereka mendesain bra bernama Eva yang tidak hanya dapat menggambar bentuk dada, tapi juga dapat secara efektif merasakan perubahan warna dan suhu pada jaringan internal, sehingga dapat mendeteksi perubahan pada benjolan dalam.

Julian menjelaskan bahwa “keberadaan tumor di dalam tubuh akan mengubah suhu di dalam kulit menjadi berbeda dengan suhu pada umumnya sebab terjadi peningkatan aliran darah. Inilah yang kemudian ‘ditangkap’ oleh bra Eva. sedikit perubahan saja dapat ditangkap dengan peka oleh sensor, kemudian mengevaluasinya secara ilmiah dan obyektif.

Bra ini dilengkapi biosensor yang akan mengukur suhu di kulit serta perubahan warna dan tekstur payudara yang berkaitan dengan kemunculan tumor, lalu memasukkan data tersebut ke sebuah aplikasi yang memberikan peringatan akan adanya perubahan tersebut.

Purwarupa bra EVA berisi sensor yang dapat dilekatkan pada bra normal. Bra ini hanya perlu digunakan sekitar satu jam setiap pekannya untuk dapat bekerja.

Perangkat ini dirancang untuk melihat perubahan temperatur kulit dan elastisitas, yang diketahui sebagai tanda dari penyakit kanker payudara. Misalnya jika terdapat benjolan di dada, peningkatan aliran darah, suhu naik, maka data akan dikirimkan ke aplikasi perusahaan. Selanjutnya, algoritma intelijen buatan menggunakannya untuk menghitung risiko orang tersebut dan akan menindaklanjuti dan memberikan saran medis.

Penemuan Julián dapat mencegah banyak wanita disiksa penyakit kanker. Dengan penemuan yang bermanfaat ini, Julian yang berusia 18 tahun bukan hanya mendapatkan berbagai penghargaan. Dia juga menjadi target wawancara dari berbagai media termasuk BBC.

Tidak ada yang menyangka, masalah kesehatan yang menghantui jutaan wanita ini akhirnya dipecahkan oleh seorang remaja berusia 18 tahun yang cerdas ini.

Mendapatkan berbagai penghargaan dan kehormatan atas temuannya, Julian tetap sederhana dan bersahaja.

“Prestasi saya didasarkan pada pendahulu saya. Merekalah raksasa sejatinya. Dan asal tahu saja, awalnya saya sendiri juga tidak tahu apa yang disebut dengan kelenjar payudara,” katanya merendah.

Julián juga menghimbau orang-orang yang memiliki ide positif : “Jangan terjebak dalam pemikiran usang, internet sekarang begitu maju dan semakin canggih, jadi manfaatkanlah secara positif sumber daya online untuk belajar.”

Kematian sang ibu tercinta memberi Julián kekuatan untuk mengubah dunia.

“Mari bersama kita ciptakan dunia yang lebih baik,” kata Julian saat mengakhiri wawancaranya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular