The Associated Press

Erabaru.net. Seorang wanita muda menceritakan hari-hari pada awal November lalu ketika dia dan seorang temannya diikat lalu diseret ke semak-semak dan diperkosa oleh empat pria bersenjata.

“Tubuh saya tidak sama sejak itu,” kata remaja 18 tahun itu. Dia menyebut sejumlah pria menyerang selama beberapa jam saat jalan pulang mereka ke desa Nhialdiu, Sudan Selatan.

“Saya menangis dan menjerit tetapi saya begitu jauh dari desa sehingga tidak ada yang dapat mendengar saya,” katanya dalam laporan eksklusif The Associated Press 9 Desember 2018. 

Massifnya pemerkosaan menyusul ketika badan amal medis, Doctors Without Borders mengumumkan bahwa sebanyak 125 perempuan dan gadis muda diperkosa, dicambuk dan dipukuli selama 10 hari pada bulan lalu. Angka ini menunjukkan terjadinya lonjakan kekerasan seksual. “Mengerikan,” kata sekretaris jenderal PBB. 

Mereka diserang ketika korban sedang berjalan jauh menempuh lokasi pendistribusian makanan di Bentiu, di negara Kesatuan. Laporan eksklusif dari AP diperoleh ketika bergabung dengan pasukan patroli pemelihara perdamaian PBB.  

Pemerkosaan Sebagai Senjata

Di Sudan Selatan, pemerkosaan sering digunakan sebagai senjata. Bahkan setelah kesepakatan damai ditandatangani pada September lalu yang mengakhiri perang saudara lima tahun.  Perang ini menewaskan hampir 400.000 orang.

Lembaga kemanusian memperingatkan peningkatan kekerasan seksual dikarenakan semakin banyak orang yang putus asa mencoba memperoleh bantuan pangan.

Penjaga perdamaian PBB di sebuah pengangkut personel lapis baja memimpin patroli dari Bentiu menuju desa Nhialdiu, pada 7 Desember 2018. (Sam Mednick / AP)

Namun, seorang anak perempuan berusia 18 tahun tidak termasuk dalam laporan Dokter Without Borders. Hingga kini korban sebenarnya kekerasan seksual masih tidak diketahui secara pasti.

Bergabung dengan patroli AS pada 7 Desember 2018, AP melakukan perjalanan ke jalanan berlubang yang merupakan lokasi kejadian serangan seksual baru-baru ini.

Lokasi yang tertutup pepohonan dan rumput gajah, beberapa titik menjadi celah pengintaian bagi para pelaku. Beberapa wanita lokal menuturkan kekerasan seksual terus meningkat.

Warga setempat, Nyalgwon Mol Moon mengatakan dia ditahan dengan todongan senjata bulan lalu. Ketika itu dua pria berpakaian sipil dengan wajah bersabo, mereka mencuri pakaian, sepatu, dan susu yang ingin dijualnya di pasar.

Wanita itu menuturkan dia kini mencari rute alternatif saat perjalanan mingguannya ke wilayah Bentiu. Dia menambahkan, hal demikian dilakukannya karena dia tidak punya pilihan lain.

Hingga kini pasokan makanan di Nhialdiu dan desa-desa terdekat masih sulit diperoleh. Kebanyakan warga tidak bisa bercocok tanam musim lalu dikarenakan perang saudara dan hujan lebat.

Banyak warga yang bergantung dengan bantuan bulanan dari Program Pangan Dunia PBB. Artinya warga harus menempuh berjalan kaki hampir 40 kilometer ke kota Bentiu.

Bahkan, warga tidak bisa membawa persediaan pangan dalam jumlah banyak kembali ke rumah mereka dalam satu perjalanan. Hingga akhirnya kebanyakan wanita menitipkannya kepada kerabat dan kembali berpergian membawa pasokan pangan di sepanjang bulan.

Beberapa warga mengatakan mereka harus berjalan selama 11 jam paling tidak sebanyak enam kali trip. Khawatir dengan serangan seksual, Program Pangan Dunia mengatakan bersiap mendistribusikan bantuan ke lokasi terdekat dengan masyarakat.

PBB sudah mulai membuka jalan dari Bentiu ke wilayah Nhialdiu agar mempermudah akses pengiriman bantuan pangan.

Share

Video Popular