Erabaru.net. Zhuge Liang adalah seorang ahli strategi militer dari Negara Han pada zaman Tiga Negara Tiongkok kuno (220-280 A.D.). Dia terkenal sebagai seorang ahli strategi militer yang ulung dan lihai mempraktikkannya dengan taktiknya sendiri. Strateginya tidak hanya cocok dalam peperangan, tetapi juga bisa diterapkan dalam bisnis apa pun, karena prinsipmya tetap praktis dan berguna sampai kapan pun.

Selain harus bisa mengatur strategi dalam menghadapi musuh, kebijakan dalam menilai dan merekrut seseorang juga sangat penting. Seorang pemimpin yang baik, harus bisa mengenal dan menempatkan seseorang pada posisi yang tepat dan sesuai dengan bakatnya. Sebagai seorang pemikir, Zhuge Liang memiliki pandangan uniknya dalam memilih seorang jenderal.

Menurut Kong Ming (Zhuge Liang), dalam merekrut seorang jenderal yang baik, terlebih dahulu harus melihat kualitas kepribadiannya. Namun, karena kompleksitas sifat manusia, dia menerapkan “tujuh metode dalam menilai seseorang”, dimulai dari hal-hal kecil hingga kemudian mengkajinya.

Yang pertama adalah tes etika paling dasar (sedikit mirip dengan tes etika dalam tes keuangan saat ini), kemudian wawancara dasar (terutama menilai kemampuannya dalam menangani sesuatu setiap saat), setelah itu wawancara profesional (menilai kemampuan/bakat militer).

Setelah penilaian ketiga langkah di atas, kandidat terkait baru dimasukkan ke dalam daftar orang berbakat, tetapi itu tidak berarti bahwa calon kandidat bisa langsung diterima. Test yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Itu adalah standar penerimaan sosok orang berbakat yang lebih eksplisit dari Zhuge Liang, yaitu, keberanian, karakter/kepribadian, kejujuran, kepercayaan, dan merancang kondisi yang sesuai dalam tes terkait :

Tak ada sesuatu yang lebih sulit di dunia ini daripada benar-benar bisa memahami sifat asli seseorang yang sebenarnya. Cantik dan jelek itu jelas tidak sama, isi hati dan raut wajah juga berbeda, ada orang yang sekilas tampak baik dan ramah secara fisik, tapi hatinya picik, culas dan penipu, ada orang yang secara penampilan tampak garang berapi-api (berani) tapi sebenarnya tak bernyali.

Namun, ada tujuh cara untuk mengenal seseorang seperti yang disimpulkan Zhuge Liang berikut ini :

1. Menguji kecakapannya dalam menilai sesuatu dengan pertanyaan paradoks

Mengajukan pertanyaan yang bersifat paradoks untuk mengamati kemampuannya dalam membedakan sesuatu yang benar atau salah.

2. Menilai kecakapan dan kemampuan dialektikanya

Mengajukan sejumlah hal kepadanya untuk mengamati dan menilai kecakapannya dalam merespon/mengatasi sesuatu yang tak terduga

3. Meminta pandangan dan solusinya dalam memecahkan masalah untuk melihat kecakapannya dalam menganalisa sesuatu

Berikan berbagai masalah kepadanya, biarkan dia berpikir dan mencari cara yang relevan untuk mengatasinya.

4. Mengamati sikap dan keberaniannya saat menghadapi situasi genting dalam keadaan terdesak

Merancang situasi yang genting untuk mengamati apakah dia berani menghadapi dan mengatasinya

5. Membuatnya mabuk untuk mengamati tindak tanduk dan kemampuannya dalam mengendalikan diri untuk menilai kualitas dan sifat aslinya

Membujuknya untuk minum kemudian amati tindak tanduknya setelah mabuk. Seseorang yang terbuka dan terus terang pasti akan menyatakan segala sesuatunya dengan lugas dan berapi-api saat mabuk, sementara orang yang berjiwa kerdil, licik dan picik, pasti akan menampakkan kejelekan atau keburukannya saat mabuk

6. Memberinya peluang yang sangat bermanfaat dan menguntungkannya untuk melihat apakah dia sosok orang yang bersih dan jujur

Memikatnya dengan uang yang menggiurkan untuk menilai apakah dia sosok orang yang bersih dan jujur

7. Meminta bantuannya untuk menangani sesuatu untuk melihat apakah dia melaksanakan seperti yang diucapkan dan menepati janjinya

Meminta bantuannya melakukan sesuatu untuk melihat apakah dia menepati janjinya dan layak dipercaya.

Setelah memilih jenderal, langkah selanjutnya adalah cara menggunakan/menempatkan panglima bersangkutan pada posisi yang tepat. Di sini, Zhuge Liang menerapkan sudut pandangnya sendiri.

Mengenai kepemimpinan, Zhuge Liangmembedakan antara para pemimpin politik seperti Raja atau penguasa dan peran komandan lapangan seperti jenderal.

Penguasa yang bijak merundingkan rencana, sementara jenderal atau pelaksana lapangan yang mampu, melaksanakannya. Karena itu siapa yang memiliki jenderal yang mampu dan tidak diganggu oleh penguasa, maka dia akan menang.

Seorang jenderal yang mampu misalnya, harus memiliki sifat kearifan, ketulusan, keberanian dan ketegasan. Sang. Dengan kearifan dimaksudkan kemampuan untuk mengenali keadaan yang berubah sehinga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat.

Ketulusan berarti kemampuan untuk dipercaya sepenuhnya oleh bawahan sehingga mereka tidak ragu-ragu akan kepastian menerima imbalan dan hukuman. Keberanian berarti berani dan pasti serta mampu merebut kemenangan dengan memanfaatkan peluang tanpa ragu-ragu.

Sedangkan yang dimaksud dengan ketegasan, adalah kemampuan menanamkan disiplin serta mengundang hormat dan kekaguman anak buah tanpa disuruh apalagi dipaksakan.

Akan halnya kepemimpinan puncak, menurut Zhuge Liang harus mampu menegakkan kearifan, kejujuran, kebaikan, keberanian dan ketelitian. Sebaliknya pimpinan harus menghindari lima kesalahan fatal yaitu gegabah, takut, terburu nafsu, gila hormat dan kekhawatiran yang berlebihan.

Pengaruh moral dalam perang, oleh para ahli strategi dan manajemen dapat disamakan juga dengan kepemimpinan dalam politik dan bisnis. Di sini organisasi diumpamakan divisi dalam ketentaraan.

Oleh sebab itu sifat-sifat yang harus dimiliki seorang jenderal seperti ulasan di atas bisa dimaknai sebagai berikut:

Pertama: Kearifan mengilhami kecepatan dan kepastian yang penuh perhitungan, bukan gegagah, sehingga tahu bagaimana memanfaatkan berbagai peluang emas.

Kedua: Ketulusan untuk mampu mempercayai bawahan dalam pekerjaan mereka, serta tidak mudah dihasut apabila terjadi kesalahan. Pimpinan harus dapat menunjukkan untuk selalu bisa memberikan penilaian dan keputusan yang obyektif dan adil.

Ketiga: Keberanian untuk mengambil keputusan dan mengambil risiko. Dengan kata lain, ia tidak takut mempertaruhkan kedudukan untuk mengambil keputusan yang benar. Memiliki gaya hidup yang keras dan bisa menjadi contoh, menanamkan disiplin dalam organisasi. Sejalan dengan itu seorang pemimpin bersedia belajar dan tidak takut kehilangan muka jika ada yang menunjukkan kelemahannya.

Keempat: memiliki gaya hidup yang keras dan bisa menjadi contoh, menanamkan disiplin dalam organisasi. Sejalan dengan itu seorang pemimpin bersedia belajar dan tidak takut kehilangan muka jika ada yang menunjukkan kelemahannya.

Demikianlah, beberapa kiat kepemimpinan dari strategi perang Zhuge Liang yang banyak dikembangkan serta diterapkan dalam manajemen dan seni kepemimpinan modern.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular