Erabaru.net. Setelah lulus, Chen Wen ditugaskan untuk mengajar di daerah pedalaman. Saat ditugaskan, Chen Wen agak ragu-ragu, namun, dia seketika terpesona ketika melihat panorama alam di depan matanya.

Namun dia tercengang seketika saat melihat kondisi gedung sekolah yang mana kondisinya sangat memprihatinkan, bisa dibilang hampir roboh.

Saat mulai mengajar, dan ketika melihat wajah-wajah polos dan semangat belajar anak-anak, tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Chen Wen untuk membangun gedung sekolah sederhana tapi nyaman untuk proses belajar anak-anak..

Namun, untuk membangun gedung sekolah baru, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara Chen Wen yang baru mengajar di sana tidak sanggup membiayainya sendiri, tetapi dia tidak khawatir, dia akan menghemat uang, dan mewujudkan rencananya itu selangkah demi langkah.

Tiga tahun kemudian, Chen Wen menikah, istrinya bekerja di kota kabupaten di sekitar tempatnya mengajar, dan dia selalu menemui Chen Wen setiap akhir pekan.

Suatu hari, sekolah yang rusak tiba-tiba itu dikunjungi tim konstruksi, mengatakan bahwa seseorang telah menyumbang uang sebesar 200 juta dan meminta mereka untuk membangun gedung sekolah yang baru.

Mendengar kabar baik itu, para siswa segera menemui Chen Wen dan berkata dengan gembira: “Pak guru, tahukah pak guru kita akan memiliki gedung sekolah yang baru.

Melihat senyum ceria di wajah para siswanya, Chen Wen pun ikut gembira, mengajak siswa-siswanya bermain dan bernyanyi.

Gedung sekolah itu pun selesai dibangun, meskipun dibangun dengan sangat sederhana, tapi nyaman dan itu merupakan sekolah terbaik di mata siswa.

Untuk merayakannya, orangtua murid membawa makanan dari rumah masing-masing, mereka bersuka ria bernyanyi bersama dengan iringan api unggun, dan istri Chen Wen juga tidak mau ketinggalan ikut meramaikan suasana.

Saat pesta api unggun berakhir, istri Chen Wen tiba-tiba bertanya kepadanya: “Say, tabungan kita sekarang mungkin ada sekitar 200 juta rupiah ya ?” Chen Wen hanya mengiyakan sambil tersenyum.

“Kemarin aku sempat melihat-lihat rumah yang mau dijual, uang muka 100 juta, rumahnya bagus juga, apa sebaiknya kita beli rumah saja ?” tanya istrinya pada Chen Wen

Mendengar istrinya sangat menginginkan rumah sendiri, Chen Wen tiba-tiba berlutut di lantai.

Istrinya termangu seketika melihat suaminya tiba-tiba berlutut, entah apa yang terjadi, gumamnya dalam hati.

“Sayang, uang itu sudah aku pakai,” kata Chen Wen berterus terang.

Istrinya langsung duduk di kursi dan berkata, “Apa kamu bilang, coba sekali lagi? Apa aku gak salah dengar ?”

“Maaf sayang, aku salah!. Uang muka untuk membeli rumah telah aku pakai untuk membangun gedung sekolah yang baru,” kata Chen wen seraya meminta maaf.

Ternyata gedung sekolah baru yang dibangun itu bukan sumbangan dari orang kaya, tetapi Chen wen yang menyumbangkan uang mereka tanpa sepengetahuan istrinya.

Istrinya sangat sedih mengetahui uang untuk membeli rumah dipakai suaminya untuk membangun gedung sekolah. Istrinya langsung berlari ke lapangan olahraga dan menangis.

Keesokannya harinya hal itu pun tersebar luas. Para siswa pun menangis, setelah tahu sekolah yang baru dibangun itu adalah uang pribadi guru mereka.

Sementara itu, para orangtua murid secara spontan mengumpulkan uang setelah tahu Chen wen dan istrinya bertengkar karena masalah itu, namun, mereka hanya bisa mengumpulkan 100 juta .

Namun, Chen Wen tidak mengambil uang itu untuk kepentingan pribadinya, dia menggunakan uang yang dikumpulkan para orangtua murid membeli meja dan kursi baru untuk sekolah, selain itu juga membeli banyak buku mata pelajaran dan membangun sebuah perpustakaan kecil, agar siswa dapat membaca lebih banyak buku.

Setelah membereskan semua kebutuhan sekolah, Chen Wen mau tidak mau harus meninggalkan tempat yang sangat mempesona itu, karena istrinya memberinya sebuah pilihan, tetap mengajar di desa sendirian, atau pulang ke kota bersamanya.

Akhirnya Chen menuruti permintaan istrinya dan dia pun mengundurkan diri, kembali ke kota untuk membangun usaha bersama istrinya.

Singkat cerita, dua puluh tahun berlalu.

Suatu hari, Chen Wen mengalami kecelakaan dan terluka parah,dam dirawat di unit perawatan intensif.

Untuk menyelamatkan nyawa, keluarga telah menguras hampir semua tabungan, dan membutuhkan banyak biaya lagi untuk pulih sepenuhnya.

“Sayang, sudahlah, aku mohon lepaskan saja pengobatanku, aku tak ingin kamu tersiksa karena aku, biarkan aku hidup tenang dalam sisa hidupku,” Kata Chen Wen sambil menggenggam tangan istrinya.

Saat itu, batinnya istrinya seakan berteriak, mengapa Tuhan menyiksa keluarganya seperti itu, setelah 20 tahun berjuang dengan susah payah, dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, karena kecelakaan yang tak terduga, membuat semua usaha dan kerja keras mereka kembali ke titik nol.

Di bawah desakan Chen Wen, istrinya terpaksa menerima permintaannya, berhenti berobat, dan pulang ke rumah.

Setelah tidak menjalani perawatan lagi di rumah sakit, kondisi fisik Chen Wen semakin buruk dari hari ke hari. Suatu hari, dia melihat-lihat album foto semasa mudanya dan dia tersenyum saat melihat foto bersama murid-muridnya ketika menjadi guru di desa terpencil.

Mengenang murid-muridnya yang polos, Chen Wen pun bercerita pada istrinya tentang hal-hal lucu dan konyol yang terjadi semasa mengajar di desa yang sejuk dan indah itu, membuat istrinya tertawa geli saat mendengar cerita Chen Wen yang menggelitik perutnya.

Saat sedang asyik bercerita, tiba-tiba terdengar ketukan pintu, dan istrinya tercengang seketika setelah membuka pintu.

Ternyata, di luar pintu sana, tampak sekelompok anak-anak muda dan beberapa siswa SD.

“Pak guru, ini kami, kami datang menjengukmu.”

Anak-anak muda yang berdiri di luar pintu, ternyata adalah mantan siswa-siswa Chen Wen semasa dia menjadi guru di desa, sementara bocah-bocah tanggung yang ikut bersama mereka adalah siswa SD yang masih sekolah di sekolah yang dibangunnya ketika itu.

Selama 20 tahun terakhir, para siswa tidak melupakan guru Chen yang ketika itu secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan istrinya menggunakan uangmua untuk membangun gedung sekolah, membeli meja belajar, buku dan peralatan sekolah.

Meski sudah berlalu puluhan tahun, tapi mereka tidak pernah lupa dengan guru Chen yang suka tersenyum itu.

Ketika mendapat kabar guru Chen jatuh sakit, semua siswanya segera datang menjenguknya. Selain itu, mereka juga membawa uang mereka masing-masing untuk membantu biaya pengobatan Chen agar segera sembuh.

Mungkin karena melihat semangat murid-muridnya, Chen pun kembali bersemangat, dan kembali ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.

Setelah sembuh, Chen dan siswa-siswanya mengunjungi gedung sekolah di desa yang sejuk itu, dan bernyanyi bersama lagu-lagu rakyat yang akrab dengannya dua puluh tahun silam.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular