Erabaru.net. Chris, seorang tunawisma yang selalu diajuhi orang-orang. Dia berencana mencari sebuah tempat untuk mengakhiri hidupnya, namun, sebelum melaksanakan rencananya, dengan putus asa dia memberikan secarik kertas kepada seorang wanita yang lewat di depannya. Ketika wanita tersebut membuka kertas yang lecek itu, tiba-tiba dia menangis.

Ilustrasi. (Internet)

Saat sedang bersitirahat, Casey melihat seorang tunawisma sedang asyik bernyanyi dan berharap mendapat belas kasihan dari pejalan kaki untuk memberinya uang. Tak lama kemudian, tunawisma itu berjalan ke Dunkin’ Donuts dan menghitung-hitung apa yang bisa dibelinya dengan tumpukan uang receh itu ?

Orang-orang merasa tidak nyaman melihat penampilannya seperti itu, tetapi Casey memberanikan diri dan berjalan ke arahnya.

Casey melihat gelandangan itu hanya memiliki satu dollar AS, kemudian menawarkan diri untuk membelikannya segelas kopi dan roti burger. Awalnya, laki-laki tunawisma itu enggan menerima tawaran Casey, tetapi akhirnya dia mengambil tawarannya.

(Foto : Casey Fischer Facebook)

Lalu Casey bertanya apakah dia boleh duduk bersamanya? Pria tunawisam itu mengangguk dan duduk di hadapannya, keduanya makan sambil mengobrol. Chris mengatakan kepadanya bahwa dia terkejut dengan sikap baik Casey. Dia berkata sudah terbiasa dipandang rendah oleh masyarakat hanya karena dia seorang gelandangan

Dia menceritakan kepada Casey bahwa dia menganggur sejak krisis keuangan tahun 2008 silam, kemudian terjebak dalam jurang kecanduan narkoba, menyebabkan istrinya pergi bersama kedua putranya, sementara itu, ibunya meninggal karena kanker. Chris yang mengalami pukulan berat kemudian depresi.

Mereka terus mengobrol hingga Casey tak menyadari bahwa dia harus bergegas pergi mengantar anaknya. Wanita muda itu kemudian berpamitan pada Chris. Namun, sebelum berpisah gelandangan itu memberikan secarik kertas untuk Casey yang bertuliskan : “Saya ingin bunuh diri hari ini. Namun karena kehadiran Anda, akhirnya tidak melakukannya. Terima kasih wanita cantik!”

(Foto : Casey Fischer Facebook)

Anda tidak akan tahu betapa besarnya pengaruh dari perbuatan baik Anda, dan bahkan terkadang bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Pelajaran Berharga Satu Dollar dari Tunawisma

Kisah berikut ini terjadi pada 15 tahun lalu, namun, saya hingga sekarang masih ingat betul peristiwa itu.

Biasanya dalam perjalanan pulang di malam hari, ada seorang gelandangan berdiri di tikungan jalan raya. Sosok tunawisma itu berusia sekitar 40 tahun, tetapi rambutnya yang hitam, kumis tipisnya dan tinggi badan sedang membuatnya tampak lebih muda.

Hal yang menarik perhatian saya adalah matanya, matanya cokelat dan tampak bersinar, seakan ada sesuatu yang memancar dari bola matanya.

Menurut saya, mata adalah jendela yang mencerminkan jiwa seseorang, kita dapat memahami banyak hal melalui mata seseorang.

Gelandangan itu selalu melambaikan tangan ke setiap mobil yang lalu lalang sambil tersenyum ceria dan kadang-kadang melompat.

Setiap saat pulang kerja, saya selalu ingat untuk mengumpulkan uang receh, Jika melihatnya, saya kumpulkan semua uang receh dan memberikan padanya. Setiap saat melihatnya, entah mengapa hati saya penuh dengan kegembiraan, dan dia benar-benar memberi pengaruh itu.

Ilustrasi.

Saya segera menurunkan kaca jendela dan memberinya sejumlah koin, kadang-kadang sambil menunggu lampu merah, kami ngobrol dan saling bertanya tentang suasana kerja hari itu, tapi jawabannya selalu sama: “Saya sangat bahagia!” katanya sambil tersenyum.

Meskipun saya tahu dia akan menjawab seperti biasa, tapi saya selalu bertanya. Yang mengejutkan saya, meskipun dia miskin, tapi dia selalu tampak optimis, dan jawabannya membuat saya tahu betapa bahagianya saya.

Sebagai ibu tunggal, saya memiliki empat orang anak yang soleh, sebuah tempat tinggal yang disebut “rumah/keluarga”, dan pekerjaan yang cukup untuk menafkahi anak-anak.

Suatu hari, bos saya menelepon dan mengatakan bahwa karena situasi ekonomi yang tidak menentu, saya pun dirumahkan. Mendengar itu, perasaan cemas dan khawatir seketika menghantuiku. Saya hanya memikirkan bagaimana mencari pekerjaan lagi untuk menafkahi anak-anak dan membayar kontrak rumah.

Dalam perjalanan pulang, saya merasa sangat sedih dan kecewa. Saya lupa mengumpulkan uang receh dan menyiapkannya seperti senelumnya. Ketika tiba di tikungan jalan di mana gelandangan itu berdiri, seperti biasa, saya melihatnya masih berdiri di sana, melambaikan tangan sambil tersenyum kepada orang-orang, dan menatap saya.

Saya berharap masih bisa melaju sebelum lampu hijau berganti merah, tetapi sudah terlambat. Di saat menunggu pergantian lampu lalu lintas, dia berlari ke mobil saya dan menatap lurus ke arah saya. Dia tersenyum dan berkata, “Saya akan memberi Anda satu dollar hari ini.”

Ilustrasi.

Kemudian, dia mengambil satu dollar uang kertas dari sakunya, saya terkejut, dan saya menitikkan air mata, saya benar-benar ingin melompat keluar dari mobil dan memeluknya!

Meskipun hanya satu dolar, tapi dia telah mengajari saya satu kebenaran yang berharga: tidak peduli apa pun yang diambil orang lain darimu, mereka tidak bisa mengambil kebahagiaanmu.

Sampai di situ, saya pun pulang dengan tenang. Ya, saya menganggur sekarang, dan tidak punya tabungan, tetapi saya tahu bahwa saya sangat bahagia!

Setiap saat menghadapi tantangan, saya selalu memikirkan pengalaman berharga dari tunawisma itu dan mengingat betapa bahagianya saya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular