- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Saingan-saingan Geopolitik Amerika di Amerika Latin

ANALISIS BERITA

Ketika di Argentina untuk KTT G-20 pada awal Desember, pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah menandatangani lebih dari 30 kesepakatan perdagangan baru dengan Presiden Argentina Mauricio Macri, sebuah tanda bahwa Tiongkok semakin meningkatkan jejaknya di Amerika Latin.

Dalam beberapa tahun terakhir telah ada upaya yang ditingkatkan oleh saingan-saingan geopolitik Amerika yaitu, Rusia dan Tiongkok, dan sekarang bahkan Iran, untuk mendapatkan pengaruh di halaman belakang Amerika tersebut.

Rusia Putin telah secara mantap membangun kembali peran yang pernah dimilikinya di kawasan tersebut selama era Soviet melalui kemitraan militer dan energi. Pembicaraan Rusia dengan Kuba untuk pinjaman $50 juta kepada negara komunis tersebut untuk pembelian senjata, dan miliaran dalam perjanjian energi yang ditandatangani dengan Bolivia, Venezuela, dan Argentina hanyalah beberapa contoh.

Iran juga telah memperluas hubungannya dengan banyak negara di kawasan tersebut, dengan sejumlah kesepakatan bilateral telah ditandatangani hanya dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, meskipun ada ancaman dari kedua kekuatan geopolitik ini terhadap kepentingan Amerika, Tiongkok adalah pesaing utama bagi Amerika Serikat di kawasan tersebut, menurut Joseph Humire, presiden think tank Center for a Secure Free Society.

investasi di amerika latin [1]
Presiden Iran Hassan Rouhani (kiri), menyambut rekan imbangannya dari Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Venezuela Cilia Flores selama KTT Forum Negara-negara Pengekspor Gas (GECF) di Teheran pada 23 November 2015. (Atta Kenare / AFP / Getty Images)

“Mereka telah menetapkan jejak ekonomi untuk menantang kita di banyak bidang,” kata Humire. Dalam penilaiannya, banyak cendikiawan telah menggunakan terobosan-terobosan Tiongkok di Amerika Latin yang berarti bahwa raksasa Asia tersebut benar-benar bertindak seperti pesaing ekonomi lainnya bagi Amerika Serikat, dan bahwa kompetisi tersebut bukan permusuhan. Tetapi kenyataannya adalah bahwa persaingan tersebut melampaui di luar bisnis.

“Mereka sedang menantang kita di wilayah-wilayah yang jauh lebih mengancam yang mengarah pada kemampuan-kemampuan militer dan aliansi-aliansi kita di kawasan tersebut, termasuk ruang angkasa dan dunia maya (cyberspace),” kata Humire.

Salah satu metode Beijing untuk mempertahankan kontrol atas negara-negara berkembang adalah dengan membuat mereka terikat pada praktik-praktik pinjaman Tiongkok yang berlimpah dengan menjerat. Sebagai contoh, Venezuela telah menerima US$62 miliar [2] bantuan selama dekade terakhir, dengan $5 miliar lainnya telah ditambahkan pada September lalu.

Ketika industri minyak Venezuela yang kekurangan uang terus-menerus anjlok, negara tersebut harus menyerahkan kedaulatannya ke Tiongkok dengan cara meningkatkan akses ke sumber daya mentah Venezuela atau infrastruktur kritis, dan ketergantungan lebih lanjut pada uang Tiongkok. Pernah terjadi kasus tersebut di Sri Lanka, di mana pemerintah harus menyerahkan kendali atas pelabuhan selatan utamanya setelah gagal membayar kembali US$6 miliar dalam bentuk pinjaman yang diberikan sebagai bagian dari inisiatif One Belt, One Road (OBOR) Tiongkok, inisiatif investasi besar-besaran Beijing di negara-negara di seluruh dunia.

Dalam pertemuan pers Agustus dalam perjalanan ke Brasil, Sekretaris Pertahanan AS James Mattis menekankan bahwa hubungan ekonomi semacam ini dapat membahayakan kedaulatan suatu negara. “Ada lebih dari satu cara untuk kehilangan kedaulatan di dunia ini; bukan hanya dengan bayonet. Itu juga bisa dilakukan oleh negara-negara yang memberikan hadiah-hadiah dan pinjaman-pinjaman besar,” kata Mattis.

Selain itu, hadiah-hadian dan pinjaman-pinjaman ini membawa konsekuensi. Dalam penilaian Center for Strategic dan International Studies di Venezuela, peneliti Moises Rendon dan Sarah Baumunk menyatakan bahwa “manfaat jangka pendek ini sering mengarah pada ketergantungan jangka panjang” pada Tiongkok.

Salah satunya adalah ruang angkasa. Tiongkok saat ini memiliki perjanjian ruang angkasa dengan Venezuela, Brasil, dan Argentina [3], yang mencakup kolaborasi pada peluncuran satelit telekomunikasi dan stasiun ruang angkasa milik Tiongkok.

Meskipun polos pada pandangan pertama, Tiongkok tetap tidak transparan tentang aktivitas terkait ruang angkasanya. Selain itu, sejarah Tiongkok dalam mengekspor teknologi penggunaan ganda, yang dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer, menyiratkan bahwa teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk tujuan-tujuan jahat.

one belt one road (OBOR) di amerika latin [4]
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov (kanan) menyambut rekan imabngannya dari Ekuador Maria Fernanda Espinosa selama pertemuan mereka di Moskow pada 16 Mei 2018. (Yuri Kadobnov / AFP / Getty Images)

Tiongkok juga menerapkan cyberspacenya sendiri di Amerika Latin dalam mengejar “Jalan Sutra digital”. Inisiatif ini akan menjadi investasi infrastruktur digital, yang melibatkan kecerdasan buatan Tiongkok, komputasi kuantum, dan keahlian cloud, seperti dilansir Axios.

Dengan Tiongkok berinvestasi di sektor teknologi di Amerika Latin, seluruh wilayah ini melayani area-area di mana Tiongkok dapat terus mengejar dominasinya di dunia cyber.

ANCAMAN KOLEKTIF

Sementara Tiongkok adalah pesaing terbesar untuk menantang AS di Amerika Latin, Iran dan Rusia masih menimbulkan ancaman serius bagi keamanan AS juga.

Humire mengatakan bahwa ketiga negara ini memiliki kepentingan bersama di Amerika Latin, sebagaimana diukur dengan standar tiga perempat.

Menurut Humire, standar tiga perempat tersebut adalah cara untuk mengukur keterlibatan asing di Amerika Latin. Tiongkok, Rusia, dan Iran beroperasi di tiga perempat negara yang sama: kredit dan pinjaman Tiongkok, penjualan senjata Rusia, dan hubungan bilateral Iran semuanya tumpang tindih di tiga perempat negara yang sama.

“Mengapa ketiga negara ini menempatkan semua keripik mereka dalam satu keranjang? Ini langkah strategis,” kata Humire.

Secara bersama-sama, Tiongkok, Rusia, dan Iran menyebarkan permusuhan anti-Amerika yang disalurkan melalui langkah-langkah ekonomi, militer, dan diplomatik serta melalui kampanye propaganda anti-Amerika secara terpadu.

Dalam pernyataan sikap Komando Selatan AS tahun 2018, Laksamana Kurt Tidd menekankan ancaman yang ditimbulkan oleh ketiga negara tersebut terhadap AS di Amerika Latin: “Dengan setiap perjalanan yang mereka lakukan, mereka memperbesar ruang kompetitif untuk mengganggu hubungan-hubungan keamanan kita, membatalkan interoperabilitas kita di wilayah tersebut, melemahkan upaya kita untuk memperkuat norma-norma internasional, dan membuat kepentingan kita dalam bahaya.”

REAKSI AMERIKA SERIKAT

Pemerintahan Trump telah menggunakan sejumlah metode untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh kekuatan-kekuatan geopolitik di Amerika Latin.

Pada bulan Agustus, Departemen Keuangan AS memulai program yang disebut America Crece, atau America Grows. Kemitraan ini mendorong investasi AS di bidang energi dan infrastruktur di seluruh Amerika Latin.

Selain itu, AS memanfaatkan kekuatan ekonominya untuk negara-negara sanksi seperti Venezuela, Kuba, dan yang terbaru, Nikaragua.

Selain itu, AS berupaya membangun kembali kepercayaannya dengan negara-negara Amerika Latin. Laksamana Tidd mengatakan bahwa ini adalah strategi utama untuk tetap menjadi mitra paling penting di wilayah tersebut: “Setiap hari kita melihat hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk menciptakan kepercayaan di mana mungkin hal itu tidak ada, untuk dapat mempertahankan kepercayaan dan akhirnya bisa memastikan bahwa kita tidak melakukan apa pun yang merusak kepercayaan itu.” (ran)

Rekomendasi video:

Krisis Mematikan di Balik Perjamuan Mewah Tiongkok [5]