Erabaru.net. Di daerah pedesaan Distrik Lanxian, Provinsi Shanxi, Tiongkok, terlihat sebuah rumah kecil dengan halaman yang menghijau penuh dengan tanaman tomat, cabai hijau, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan jagung. Tampak terlihat seperti rumah yang dihuni keluarga hidup bahagia.

Namun, fakta bahwa rumah ini ditempati sendiri oleh seorang gadis berusia 17 tahun, Li Mingling adalah tuan rumah yang bertanggung jawab menjaga rumah tersebut dan dia telah tinggal disana sendirian selama bertahun-tahun sejak kecil.

Tidak seperti anak-anak lain yang ditinggalkan di Tiongkok, Li Mingling sebenarnya dirawat oleh orangtuanya sejak lahir. Hari-hari paling bahagia berlalu ketika tiba-tiba ibu Mingling meninggalkannya bersama ayahnya tanpa alasan dan berita apa pun.

Ketika ibunya meninggalkan keluarga, Li Mingling baru berusia 6 tahun. Sejak itu, ibunya tidak pernah datang sekali pun.

Bapak Li Mingling berpikir istrinya meninggalkannya dan putri mereka karena kehidupan mereka yang miskin, dan dia tidak dapat menerima kenyataan itu. Sejak saat itu, ayah Mingling telah bekerja keras untuk mencari nafkah dan mengubah kehidupan keluarganya, dia pulang ke rumah dua kali setahun.

Karena ayah Mingling selalu tidak ada di rumah, semua pekerjaan di rumah adalah tanggung jawab gadis ini yang melakukannya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Meskipun pada saat itu, Mingling ditemani oleh kakeknya, tetapi dia sakit.

Menurut Mingling, yang telah menjaga rumah itu selama bertahun-tahun, mengatakan: “Sebelum saya pergi tidur setiap malam, saya akan mengunci dan mengganjalkan kayu tebal di pintu masuk, sehingga rumah akan lebih aman.”

Meskipun, sejak kecil, Li Mingling tidak mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari orangtuanya dalam mengelola kehidupan, apa yang menakjubkan adalah dia bisa mengurus dirinya sendiri dan rumah itu dengan baik.

Gadis remaja ini memiliki keterampilan untuk melakukan semua pekerjaan rumah seperti memasak, membersihkan pakaian, membersihkan rumah sehingga bercocok tanam di halamannya yang besar. Li Mingling mampu menopang hidupnya sendiri tanpa masalah.

Sayangnya musibah menimpanya lagi, ketika dia berusia 14 tahun, ayahnya yang jarang dia temui telah didiagnosis menderita kanker. Segera, kanker telah menyebar dengan cepat, dan akhirnya ayahnya meninggal.

Li Mingling merasa sangat sedih karena ayah tercintanya telah pergi untuk selamanya, tetapi tetap harus tabah dan meneruskan kehidupan dengan kakeknya yang sudah tua.

Dan setahun yang lalu kakeknya meninggal karena penyakit jantung.

Dalam beberapa tahun, satu demi satu anggota keluarga dekatnya meninggalkan Li Mingling kini hidup sendirian.

Meskipun paman Mingling menyatakan niatnya untuk mengambilnya sebagai anak asuh, dia menolak untuk menerima tawaran itu. Pihak berwenang setempat mengetahui situasi malang yang dialami oleh Li Mingling dan telah memberikan tunjangan hidup sebesar 600 Yuan (sekitar 1,2 juta rupiah) per bulan.

Li Mingling memandang erhu alat musik tradisional milik kakeknya, berkata, : “Ini erhu kesayangan kake saya. Ketika saya melihatnya, teringat saat-saat yang kami habiskan bersama. “

Karena Mingling telah mengetahui dalam merawat dirinya sendiri dan rumahnya sejak kecil, hidup sendirian bukanlah hal yang sulit baginya. Namun, kehidupan remaja itu terkadang diselimuti kesepian, tetapi sekarang dia merasa sedikit terhibur dengan kehadiran anak anjing, yang tiba-tiba datang setelah kematian kakeknya.

Dia berkata,: “Setiap kali saya merasa tidak berdaya dan sangat sedih, anak anjing ini akan datang dan berada di sebelah saya. Merasa lega ketika dia berada di samping. “

Ketika Li Mingling ditanya apakah dia merasa lelah setelah tinggal sendirian dalam waktu yang lama di sebuah rumah kosong, remaja itu berkata, :”Selama rumah itu tidak ditinggalkan, saya memiliki tempat yang disebut rumah.”

Dia lebih lanjut berkata,: “Saya ingin belajar keras. Saya tidak hanya akan dapat memelihara rumah ini tetapi juga untuk membangun masa depan yang lebih baik untuk diri saya sendiri, sehingga ayah dan kakek saya akan lega melihat pencapaian saya dari sana. “

Li Mingling adalah siswa sekolah menengah. Setiap pagi sebelum sekolah, remaja akan memastikan pintu pagar rumah terkunci dan kemudian berjalan ke sekolah.

Hati Li Mingling telah sangat terluka oleh pengalaman tragis sejak kecil, tetapi gadis remaja itu selalu tabah dalam hidup dan optimis untuk melihat masa depannya yang cerah.

Dengan sikapnya yang selalu bekerja kerja dan tekadnya yang ulet, Li Mingling pasti akan menjadi manusia yang sukses di masa depan.(yant)

Sumber: Erabaru.com.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular