Erabaru.net. Kisah ini adalah tentang pasangan yang memperlihatkan contoh-contoh yang baik di depan anak-anak mereka dan tindakan mereka harus dijadikan contoh bagi semua orang.

Dalam hidup, kita perlu mempertimbangkan hal-hal yang baik, buruk dan jelek. Sebagai suami dan istri, kita harus menjalani bagian kehidupan ini dan selalu melihat hal-hal dari sudut pandang positif.

Penulis ini menggambarkan sebuah kisah menyentuh tentang orangtuanya yang mentolerir sikap ketika dia masih kecil dan berharap itu menjadi nasihat yang baik untuk pasangan lain.

Ketika saya berusia sekitar delapan atau sembilan tahun, ibu saya biasa memasak untuk kami dan menyiapkan setiap makanan.

Suatu malam, saya ingat bahwa ibu saya memaksakan dirinya untuk memasak untuk kami meskipun dia memiliki hari yang panjang dan penuh tekanan di tempat kerja.

Ibu meletakkan piring dengan selai di atasnya dengan roti yang panggang di depan ayah. Roti itu begitu hangus sehingga benar-benar tampak berwarna hitam.

Saya menyaksikan kejadian itu dan mengamati apakah ada orang lain yang memperhatikan roti yang hangus di depan ayah. Tapi yang mengejutkan saya, ayah menyebarkan selai di atas roti dan mulai memakannya.

Dia memperhatikan saya yang menatapnya dan bertanya apakah saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saya.

Saya lupa apa yang dikatakan ayah kepada saya hari itu, tetapi saya ingat ibu meminta maaf kepada ayah karena telah menyajikan roti panggang yang terlalu gosong.

Saya tidak pernah bisa melupakan apa kata-kata ayah pada hari itu,: “Sayang, saya suka roti bakar.”

Malamnya, ketika saya hendak mengucapkan selamat malam kepada ayah, saya bertanya kepadanya,: “Apakah ayah benar-benar suka makan roti bakar?”

Ayah menepuk pundakku dan menjawab, :“Ibumu bekerja keras di tempat kerja hari ini dan sangat lelah. Makan roti bakar tidak membahayakan siapa pun, tetapi tahukah Anda apa yang bisa membahayakan seseorang? “Kata-kata yang tidak menyenangkan “!

Ayah melanjutkan dengan filosofinya,: “Kamu harus tahu bahwa hidup ini penuh dengan ketidaksempurnaan dan manusia tidak sempurna. Ayah juga tidak pandai dalam banyak hal. Ayah selalu melupakan ulang tahun semua orang dan juga ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. “

Apa yang saya pelajari selama beberapa tahun terakhir adalah bahwa kita perlu belajar bagaimana memahami dan menerima sikap baik dan buruk dari bagian kita yang lain, memilih untuk merayakan sikap yang berbeda satu sama lain secara sukarela dan bahagia.

Ini adalah kunci dalam menciptakan hubungan yang sehat, tumbuh dan langgeng. Kehidupan manusia terlalu singkat untuk disesali.

Cintai mereka yang melayani Anda dengan baik dan merasa kasihan pada mereka yang melayani Anda dengan buruk.(yant)

Sumber: goodtimes.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular