Erabaru.net. Seorang gadis 13 tahun yang ketahuan mencuri itu mengakhiri hidupnya karena desakan pengelola supermarket. Tragedi itu mengingatkan saya pada sebuah kisah pada beberapa tahun silam.

Baru-baru ini, sebuah berita tragis menyebutkan bahwa seorang gadis yang baru berumur 13 tahun bernama Zhao di Kota Jinchang, Provinsi Gansu, Tiongkok mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung tinggi di alun-alun kota.

Saksi mata mengatakan bahwa Zhao diancam dan dipermalukan oleh pengelola supermarket setelah ketahuan mencuri cokelat di Supermarket Huadong, dan meminta ganti rugi dua kali lipat, namun, karena takut dan desakan yang bertubi-tubi dari pihak supermarket, membuatnya tak tahan lalu mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung tinggi.

Peristiwa itu memicu kemarahan masyarakat setempat. Massa yang marah mengepung supermarket setelah insiden itu.

Dari foto-foto yang beredar di Internet, diperkirakan ada ratusan, bahkan ribuan orang berkumpul dan melampiaskan kemarahan mereka dengan merusak fasilitas supermarket, suasana tampak mencekam dan kacau.

Dilihat dari laporan media terkait insiden itu, gadis belia itu mungkin berasal dari keluarga miskin.

Ibu gadis belia itu hanya memiliki 10 yuan atau (sekitar 21 ribu rupiah) ketika pihak pengelola supermarket menemuinya. Gadis cilik itu mungkin ingin makan cokelat, namun, karena tak punya uang, dia pun mencoba keberuntungan mencurinya di supermarket.

Pihak supermarket menangkapnya adalah hal yang wajar, tetapi mengapa hal itu memancing kemarahan banyak orang?

Insiden itu mengingatkan saya pada sebuah kisah yang terjadi di Amerika Serikat dan mungkin kita bisa menarik hikmahnya.

Musim dingin tahun 1935 silam, adalah masa yang paling suram bagi ekonomi Amerika. Pada hari itu, sebuah kasus sedang disidangkan di pengadilan di daerah pemukiman miskin di New York City.

Terdakwa yang duduk di kursi pesakitan itu adalah seorang wanita tua berusia enam puluh tahun. pakaiannya lusuh dengan wajah muram, dan tampak menyesal sambil menahan perasaan malu di balik wajahnya yang muram.

Dia dituntut ke pengadilan oleh pemilik toko roti karena mencuri roti.

“Terdakwa, apa benar Anda mencuri roti dari toko roti?” tanya hakim.

Wanita tua itu menundukkan kepalanya dan menjawab dengan terbata-bata,: “Benar pak hakim, saya memang mencurinya.”

Hakim bertanya lagi: “Apa motif Anda mencuri roti, apakah karena lapar?”

”Ya pak hakim,” jawab si wanita tua sambil mendongak dan menatap hakim.

“Saya memang lapar, tapi saya butuh roti untuk memberi makan ketiga cucu saya yang kehilangan orangtuanya, sudah beberapa hari mereka belum makan. Saya tidak bisa melihat mereka mati kelaparan, mereka masih anak-anak yang tidak tahu apa-apa.” jelas si wanita tua dengan bibir bergetar.

Setelah mendengar penjelasan wanita tua itu, riuh rendah di dalam ruang sidang pun seketika bergemuruh

Hakim mengetuk palunya dan berkata dengan serius, :”Tenang, tenang! Keputusan berikutnya akan diumumkan,” tegas hakim.

Pak hakim memalingkan mukanya ke wanita tua itu, “Terdakwa, saya harus bertindak adil, dan menegakkan hukum. Anda punya dua pilihan, pertama denda 10 dollar atau hukuman penjara selama 10 hari,”kata pak hakim sambil memandang wanita tua itu

Wanita tua yang merasa menyesal itu tampak serba salah dan dengan lirih berkata: “Pak hakim, saya bersalah atas perbuatan saya, dan bersedia menerima sanksi hukum. Jika saya punya 10 dollar, saya juga tidak akan mencuri roti. Jadi, saya bersedia menjalani hukuman penjara 10 hari, Tapi bagaimana dengan ketiga cucu saya, siapa yang mengurus mereka ?”

Tepat pada saat itu, seorang pria berusia empat puluhan berdiri dari tempat duduknya. Dia membungkuk hormat kepada wanita tua itu dan berkata,: “Saya harap nenek menerima putusan denda 10 dollar.” Katanya.

Fiorello Henry La Guardia.(Foto: Wikipedia)

Kemudian membalikkan badan dan menoleh ke sekeliling ruang sidang.Dia mengambil 10 dollar, melepas topinya dan memasukkan uang itu ke topinya, dan berkata,: “Hadirin sekalian, saya Fiorello Henry La Guardia, walikota New York City saat ini (1934 – 1945).

“Sekarang, saya minta saudara-saudara sekalian menyerahkan 50 sen setiap orang sebagai uang denda, ini adalah biaya atas ketidakpedulian kita, menghukum kita karena tinggal di kota sampai membuat seorang nenek tua harus mencuri roti untuk memberi makan cucunya.” Kata sang walikota

Di pengadilan, semua orang terkejut sambil membelalakkan matanya menatap walikota LaGuardia itu.

Ruang sidang tiba-tiba menjadi sunyi senyap sampai dentingan jarum yang jatuh pun terdengar jelas saking heningnya. Sesaat kemudian, semua hadirin dam-diam berdiri sambil mengambil 50 sen dan dimasukkan ke topi sang walikota, bahkan hakim pun tidak terkecuali.

Kalau direnungkan sejenak, sang hakim sudah menjalankan tugasnya sesuai hukum, menjatuhkan sanksi hukum berupa denda pada seorang wanita karena mencuri roti, pertanyaannya adalah apa hubungannya dengan orang luar?

LaGuardia dengan jelas mengatakan – “Biaya atas ketidakpedulian kita”

Dia memberi tahu kita bahwa tidak ada isolasi di antara sesama. Orang-orang datang ke dunia ini, sebagai makhluk yang bermasyarakat dan memiliki kontrak:

Pertukaran kepentingan material memiliki kontrak hukum;

Pergaulan dan prilaku dalam kehidupan punya kontrak spiritual.

Baik, tidak hanya suatu kualitas yang berlawanan dengan ketidakpedulian, pengkhianatan, kekejaman, keegoisan, tetapi juga kontrak spiritual.

Martin Niemöller, seorang pendeta Kristen Protestan dan teolog asal Jerman, menulis sebuah puisi pendek di atas monumen pembantaian Yahudi di Boston, AS :

Dia berkata: “Di Jerman, awalnya mereka menciduk para sosialis, dan saya membisu, sebab saya bukan seorang sosialis. Lalu mereka menciduk pelaku syarikat dagang, dan saya membisu, sebab saya bukan pelaku syarikat dagang. Lalu mereka menciduk orang Yahudi, dan saya membisu, sebab saya bukan orang Yahudi. Lalu mereka menciduk saya, dan tak ada lagi yang tersisa untuk melakukan protes buat saya.”

Ini adalah hasil akhir dari ditinggalkannya kontrak spiritual.

Selama hidup di dunia, siapa pun bisa mengalami masa-masa krisis dan terpuruk. Siapa pun bisa menjadi orang yang lemah. Jika kita tidak membantu orang lain yang sedang ditimpa kesusahan, lantas siapa yang bisa menjamin bahwa kita tidak akan menelan buah pahit dalam ketidakberdayaan suatu hari nanti ?

Hanya dengan selalu berbuat baik, kita baru akan disinari oleh Mentari. Karena itu, kontrak yang baik itu baru bisa eksis secara universal di dunia.

Mereka yang paham bagaimana menghargai kontrak semacam itu adalah mulia. Dan mereka yang tahu bagaimana berkorban atas ketidakpedulian itu adalah bijaksana. Masyarakat dewasa ini terlalu acuh tak acuh, dan kita akan membayar atas keegoisan kita sendiri.

Ya, itu adalah harga yang dibayar oleh pemilik supermarket atas keegoisan dan ketidakpekaannya.

Lalu, bagaimana dengan kita? coba renungkan dan mengingat kembali setiap jalan yang telah kita lalui di masa lalu, apa yang telah kita korbankan untuk keegoisan kita?(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular