Erabaru.net. Sisca, istriku sudah ditinggal pergi ibunya sejak kecil dan dia hidup bersama ayahnya. Meskipun kehidupan istriku sekarang makmur, dan bisa dikatakan sebagai generasi kedua yang kaya, sangat jauh berbeda dengan masa kecilnya yang hidup serba susah.

Karena pada saat itu, ayahnya baru merintis bisnisnya, dan Sisca, tidak punya ibu lagi ketika itu, sehingga tidak ada yang mengurusnya di rumah.

Ilustrasi. (Internet)

Dia pernah tersiram air panas, terluka oleh minyak.panas, singkatnya, penderitaan yang tak pernah dirasakan anak seusianya ketika itu telah dialaminya.

Ayahnya atau mertuaku pernah berkata padaku,: “Saya menyerahkan putri saya kepadamu, dan saya harap kamu bisa menjaganya dengan baik. Saya akan memberikan segalanya kepadanya untuk menebus kewajiban saya selaku ayah yang tidak pernah saya curahkan untuknya selama ini.

Sejak kecil saya tidak sempat memberikan perhatian kepadanya karena selalu sibuk dengan bisnis. Sekarang setelah dia dewasa, saya masih sibuk dengan pekerjaan, dan saya benar-benar berutang padanya selaku ayah.” Begitulah kata ayah mertua sambil menahan air matanya.

Aku bisa merasakan perasaannya ketika itu, dan aku berjanji akan menjaga Sisca, putri semata wayangnya dengan baik.

Namun, setelah menikah dengan Sisca, mertuaku langsung memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku, meminta aku untuk kerja di perusahaannya, dan istriku juga mendukung keputusan itu.

Walaupun kondisi ekonomi keluarga mertuaku sangat baik, namun, aku tidak tinggal di rumah mertua. Aku masih sanggup membeli rumah, mobil untuk keluarga yang aku bangun. Aku merasa mungkin akan memicu gunjigan orang-orang jika aku pindah ke perusahaan mertuaku. Mungkinkah ini cara ayah mertua supaya aku tinggal bersama di rumah mereka?

Ilustrasi. (Internet)

Tapi Sisca memintaku untuk tidak berpikir yang bukan-bukan, dia bilang perusahaan ayahnya sebaiknya dikelola keluarga sendiri, lagipula perusahaan itu kelak juga pasti akan menjadi milik kita kata Sisca.

Jadi aku pun pindah ke perusahaan ayah mertua, tetapi gaji yang diberikan setiap bulan membuat aku terperangah. Ayah mertuaku hanya memberi gaji Rp 5 juta sebulan, jauh dibawah gaji yang diterima Sisca.

Ilustrasi. (Internet)

Pernah terlintas dalam benakku untuk mengundurkan diri, tetapi Sisca istriku membujukku untuk bersabar, jadi aku pun mencoba bertahan sampai akhir tahun.

Mertuaku mengatakan bahwa setiap orang perlu memiliki pengalaman hidup/kerja. Gaji itu diperoleh setahap demi setahap, tidak bisa langsung mendapatkan puluhan juta sekaligus. Aku merasa apa yang dikatakan ayah mertua itu sepertinya ditujukan padaku saat mengadakan rapat tadi.

Mertuaku mengatakan bahwa bonus Tahun Baru untuk tahun ini akan dibagikan lebih awal, jadi dia sudah menyiapkan sejak awal bonus akhir tahun yang akan dibagikan ke segenap karyawan, dan telah ditransfer ke rekening semua karyawan.

Ilustrasi. (Internet)

Dia meminta semua karyawan bekerja keras demi kemajuan bersama, menyelesaikan pekerjaan masing-masing sebelum akhir tahun berganti.

Sejujurnya, aku benar-benar tidak ingin memeriksa rekeningku saat itu, lagipula aku tidak menerima pemberitahuan melalui pesan singkat terkait rekeningku.

Aku juga tidak tahu berapa jumlah bonus yang ditrasfer bagian keuangan ke rekeningku, karena aku tahu pasti tidak seperti yang diharapkan, lagaipula aku baru bergabung ke perusahaan di tahun pertama, gaji sebulan saja begitu rendah. Tapi aku terkejut ketika memeriksa rekeningku, aku tak menyangka saldo rekeningku membengkak hingga Rp 500 juta.

Ilustrasi.(Internet)

“Kejutan itu bukan keberuntunganmu, namun, karena dalam kondisi saat ini, kamu memiliki hak dan kualifikasi untuk menerima bonus itu. Ayah memberimu gaji Rp 5 juta, dengan harapan kamu bisa melakukan beberapa pekerjaan dasar di lapangan dengan sungguh-sungguh, kelak perusahaan ayah juga pasti akan menjadi milikmu,” kata mertuaku.

Perasaanku seketika bergejolak dan mataku pun mulai sembab saat sebelumnya selalu mengeluh dengan perlakuan ayah mertua.

Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada ayah mertua, bukan saja memberiku seorang istri yang begitu baik, tetapi juga memberiku banyak bimbingan dalam roda kehidupan sekeluarga.

Terimakasih ayah mertua yang bijak, dan Sisca, istriku yang baik dan sabar, gumanku tanpa sadar sambil meneteskan air mata haru dan bahagia.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular