Erabaru.net. Masih ingatkah kamu dengan kepolosan dan serba terbatasnya materi semasa kecil setelah sekarang tumbuh dewasa atau bahkan hampir setengah abad. Jalinan persahabatan yang polos, segala sesuatu yang bisa kita jadikan alat untuk bermain. Tetapi anak-anak zaman now tidak bisa lagi merasakan hari-hari seperti itu.

Yang menemani tumbuh kembang Anak-anak sekarang adalah TV, komputer dan smartphone, mereka tidak memiliki masa-masa kecil yang menyenangkan dan mengesankan.

Kamu-kamu yang lahir pada tahun 1970 – 1989, masih ingatkah dengan kenangan semasa itu? Berikut mari kita bernostalgia sejenak masa itu!

Selalu ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup, namun, tidak akan pernah disinggung lagi dalam seumur hidup ; selalu ada sepotong cinta, yang selalu terbayang, namun, hanya diukir dalam relung hati yang paling dalam ; selalu ada seseorang yang kerap hadir dalam ingatan, tetapi hidup selamanya dalam lubuk hati yang sepi.

Saat kanak-kanak, kita tidak punya ipad, tidak tahu apa itu LV- Louis Vuitton, dan tidak mengerti apa itu Armani. Kita hanya tahunya bermain karung pasir, bermain kelereng, dan bermain video game Contra dan sebagainya.

Pada saat itu, cowok mengejar cewek sampai bertahun-tahun, yang dikejar adalah hati dan cinta yang tulus. Tapi di zaman sekarang, cowok mengejar cewek dan sebaliknya yang ujung-ujungnya duit.

Aktivitas kita dulu adalah camping, bakar jagung, duduk bersama ngobrol panjang lebar. Beda dengan Anak-anak sekarang masing-masing sibuk berselancar di dunia maya, Facebook-an, chat LINE dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari sekarang, tampaknya setiap orang tidak lagi tak tergantikan. Selalu sibuk dengan bisnis, mencari uang sebanyak-banyaknya, semuanya demi kepentingan, membuat cinta, persahabatan, dan kasih sayang telah kehilangan keindahan dan kepolosan aslinya.

Semasa kecil, kita makan es lilin ratusan perak, minuman bersoda buatan lokal dan sebagainya.

Semasa kecil kita tidak punya komputer, tidak ada internet, tidak ada ponsel, lalu apa yang kita lakukan?

Jongkok di jalan menyaksikan semut-semut yang berjejeran, menginjak bayang-bayang orang lain di belakang. bermain bola, memanjat pohon, mencari buah atau lainnya, bermain ketapel, sepatu roda, dan kelereng.

Permainan sederhana itu bisa membuat kita lebih akrab dengan teman-taman kita. Kita pun jadi punya banyak cerita dan kenangan.

Kita berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. main petak umpet, lompat tali, mengejar layangan putus sambil lari-lari.

Kita adalah generasi yang SD-nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satu sisinya.

Kitalah generasi yang SMP dan SMA-nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kita melalui tulisan tip ex putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita taksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya.

Merindukan masa-masa kita yang tidak akan pernah bisa kembali lagi, kita benar-benar merindukan masa kecil yang penuh kenangan, merindukan masa kecil yang bahagia … masa kanak-kanak yang konyol, polos, dan bahagia itu. Kebahagiaan masa kecil yang tidak akan bisa terulang lagi …

Kemudian, kita tumbuh dewasa, punya kehidupan masing-masing, dan merasakan semuanya serba malah, dari mainan canggih hingga mobil-mobil yang berseliweran.

Teman-teman yang bermain bersama semasa kecil, sekarang dipenuhi dengan barang-barang merek terkenal, dari sepatu, dompet, tas, jam tangan dan sebagainya yang berharga jutaan.

Memang kita memiliki lebih banyak uang sekarang daripada masa kecil, dan tahu apa yang kita inginkan, namun, kita tidak lagi memiliki kepercayaan, kesederhanaan dan kepolosan yang perlahan-lahan mulai pudar, kehilangan hati nurani dan kebaikan yang terabaikan, tidak sekental dulu lagi.

Kepercayaan yang dimaksud di sini adalah Anda memberikan pisau kepada orang lain, sedangkan kepolosan adalah rela melukai diri sendiri.

Sementara hati nurani adalah mengambil pisau orang lain, tetapi akhirnya tidak mau menusuk dari belakang, dan kebaikan hati di sini adalah berani membela orang yang mempercayaimu.

Namun, semua itu tidak bisa lagi kita lakukan, kita hanya mementingkan diri sendiri, mengejar kemewahan, ambisi dan rasa iri… Segala sesuatunya hanya demi diri sendiri.

Kala itu, kita tidak punya uang, yang ada hanya keceriaan bermain dan bersenang-senang bersama !

Saya benar-benar merindukan zaman itu, tetapi kita tidak bisa kembali lagi. Keceriaan masa kanak-kanak telah menjadi kenangan. Zaman telah berubah.

Anak-anak zaman now tidak akan bisa memahami kehidupan kita semasa itu. Biarkanlah semua keindahan itu terukir abadi dalam lubuk hati kita!(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular