Li Muyang

Pada hari Natal, hampir semua kenalan yang saling bertemu muka akan mengucapkan Selamat Natal. Ketika sebagian besar bumi terbenam dalam suasana Natal yang penuh sukacita, daratan Tiongkok mungkin merupakan satu-satunya wilayah pengecualian.

Semakin banyak berita menunjukkan bahwa kian banyak tempat di daratan Tiongkok yang melarang warganya yang beragama Nasrani untuk merayakan Natal.

Banyak tempat di Tiongkok yang melarang perayaan Natal

Pada 25 Desember siang, muncul Berita Penting pada microblog resmi Propinsi Anhui, Sixian yang isinya menghendaki warga anti budaya asing dengan tidak merayakan Hari Natal.

Berita mengutip pidato Dong Xuefeng, kepala sekolah sebuah SD di Sixian saat upacara bendera yang mengatakan bahwa merayakan Natal adalah kegiatan yang mempermalukan bangsa Tionghoa.

BACA JUGA : Rezim Tiongkok Intensifkan Penghancuran Gereja di Provinsi Henan

Bagian dari isi pidato kepala sekolah SD yang tertera pada microblog resmi tersebut  menyebutkan bahwa sehari sebelum datangnya Hari Natal, para anggota pasukan dari Aliansi Delapan Negara yang menyerbu ke Tiongkok (pada masa Dinasti Qing, tahun 1900) telah melakukan pembunuh terhadap penduduk Tiongkok, membakar rumah, merampok harta kekayaan masyarat dan lain sebagainya.

Pada Malam Natal, seorang bocah lelaki yang baru duduk di kursi dalam sebuah restoran dekat Kuil Jing’an di Puxi, Shanghai dengan tidak sabar bertanya kepada ibunya : “Sinterklas ada di mana ?” Ibunya hanya bisa tersenyum pahit tanpa menjawab.

Bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD kelas satu ini mengatakan bahwa guru wali kelas sebelum datangnya Hari Natal sudah berpesan bahwa tahun ini kita tidak bolah lagi menyanyikan lagu-lagu Natal dan memakai topi Natal.

Di sebuah bangunan komersial berlantai 27 yang berdiri di kota Nanyang, Propinsi Henan, anggota penjaga keamanan setempat telah membongkar semua pohon Natal, lampu Natal, dan bel yang terpasang di gedung dalam waktu kurang dari 24 jam. Ma Jun, seorang pekerja di sebuah perusahaan bimbingan belajar di gedung tersebut mengatakan bahwa bahkan boneka beruang Ted (Teddy bear) raksasa yang ditempatkan di depan pintu masuk mal pun tidak luput dari ‘pembersihan’.

BACA JUGA : Bagaimana Orang Kristen Tiongkok Ditekan Agar Meninggalkan Keyakinannya

Sebelumnya, telah beredar sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh Manajemen Kota Langfang di Provinsi Hebei yang isinya menyangkut penegakan hukum dalam rangka pengawasan terhadap larangan yang berlaku selama Natal.

Isi dari pengumuman tersebut meminta penegak hukum mulai 23 hingga 25 Desember untuk melakukan pembongkaran / pembersihan terhadap semua pohon-pohon Natal, gambar / patung Sinterklas dan barang-barang lainnya yang digunakan dalam perayaan Natal serta meminta seluruh anggota yang bertugas untuk masuk kerja.

Kantor Polisi Kunming Panlong di Yunnan mengeluarkan surat edaran yang memperingatkan para pengelola tempat-tempat penginapan / hotel, tempat karaoke, kafe, warnet dan bar untuk tidak memasang dekorasi Natal dan merayakan Natal.

Ada juga siswa yang menyampaikan keluhannya memalui jejaring sosial mengatakan bahwa kegiatan perayaan Natal di kampus juga dilarang. Sebuah acara perayaan Natal yang diselenggarakan oleh persatuan mahasiswa sebuah universitas bergengsi di Shanghai terpaksa dibatalkan untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Untuk menghindari tinjauan dari pihak berwenang Universitas, para siswa terpaksa mengganti kata “Natal” dari nama acara dengan “Tahun Baru”.

Selain itu, situasi serupa juga terjadi di Bazhou, Propinsi Hebei, Cenxi di Propinsi Guizhou, Wuzhou di Propinsi Guangxi dan sejumlah tempat lainnya.

BACA JUGA :  Musim Natal Menyaksikan Penangkapan Umat Kristen di Tiongkok: Era Baru Penganiayaan Agama?

Seorang sumber asal Zhongnanhai dalam wawancara yang dilakukan secara rahasia mengatakan bahwa ini memang Malam Natal dan Natal yang paling suram di Era Modern.

“Larangan untuk melakukan perayaan pada festival asing di daratan Tiongkok telah mencakup banyak provinsi, kota kabupaten, dan desa. Hanya tahun ini saja, ribuan gereja telah dihancurkan, tempat-tempat ibadah perumahan telah dirusak dan kasus penahan terhadap para pengurus telah terjadi ribuan kali,” demikian tutur sumber tersebut.

Menurut situs Weiquan.com, hingga kemarin, 17 orang dari  Gereja Katolik Chengdu Qiuyu telah ditahan oleh pihak berwenang kota tersebut, dan gereja itu juga telah dikuasai dan dijadikan sebagai kantor.

Ketika sebagian besar bumi terbenam dalam suasana Natal yang penuh sukacita, Tiongkok komunis justru melarang warganya yang beragama Nasrani untuk merayakan Natal. (Wang Zhao/Getty Images)

Di antara mereka yang ditahan itu, terdapat pendeta Wang Yi yang dituduh oleh pihak berwenang telah melakukan penghasutan yang bersifat subversif, dan anggota gereja lainnya dituduh sebagai pembuat gara-gara dan pelaku kegiatan ilegal.

Mengapa Partai Komunis Tiongkok Cemburu dan Takut dengan Perayaan Hari Natal ?

Beberapa sarjana daratan Tiongkok mengatakan bahwa belakangan ini PKT kian gencar dalam mengontrol kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan seperti Hari Natal ini, meskipun rasa cemburu dan ketakutan PKT terhadap perayaan Natal bukan hanya terjadi pada tahun ini saja, namun ketatnya dalam mengontrol terasa kian bertambah, termasuk cakupannya.

Sejalan dengan hal ini, sebuah video yang diunggah pada akun Twitter seorang sarjana warganet yang menggunakan nama Xiucai Jianghu melukiskan seorang anak Tionghoa yang sedang menuntut ilmu di negeri orang, ia adalah satu-satunya murid yang etnis Tionghoa di kelasnya. Pada saat perayaan tahun baru Imlek, teman-teman di sekelasnya menyanyikan lagu Selamat Tahun Baru Imlek dan mengucapkan salam kepadanya.

Ada warganet yang bertanya : “Ketika Tahun Baru Imlek tahun lalu, banyak orang Barat ikut bersimpati dan Gedung Empire State di New York pun dihiasai dengan lampu-lampu merah sebagai partisipasi dalam memeriahkan suasana. Mengapa kita tidak bisa merayakan Natal ? Apa yang kalian (PKT) takutkan ? Ke mana itu keyakinan budaya ?”

Warganet lain menulis : Apa itu keyakinan budaya ? Apakah hanya yang menjadi milik sendiri yang bisa masuk. Ada begitu banyak orang Tionghoa di negeri Barat, apakah orang-orang Barat juga melarang festival tradisional Tiongkok ? Percayalah pada diri sendiri ! Perhatikan saja pada masalah-masalah mengenai mata pencaharian masyarakat, Jangan buang waktu untuk mengurusi hal-hal kurang penting seperti ini !

Ada juga warganet yang menulis :  Benar-benar lucu bagi PKT yang berupaya untuk melarang warga masyarakatnya merayakan Natal. Apakah Xi Jinping pun perlu dipermasalahkan, karena ia pernah berfoto bersama Sinterklas ??

Ketika Xi Jinping masih menjabat Wakil Ketua PKT dan berkunjung ke Finlandia pada tahun 2010, ia telah melakukan perjalanan khusus ke desa asal Sinterklas di daerah Lapland. Selama kunjungan, Xi Jinping mengambil foto bersama Sinterklas sebagai kenang-kenangan. Sampai sekarang, di dinding rumah Sinterklas masih tergantung foto bersama tersebut.

Lan Shu, seorang komentator politik mengatakan bahwa PKT adalah organisasi yang paling anti-tradisional. Segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya tradisional selalu ditentangnya. Bukan hanya peringatan budaya tradisional Barat seperti Natal saja yang ditentang, tetapi juga budaya yang diturunkan oleh leluhur bangsa Tionghoa selama lima ribu tahun.

Mereka khawatir dengan semakin banyak orang Tiongkok menjadi berkeyakinan/beragama. Setelah pemulihan moral, maka kebohongannya akan tidak efektif lagi, dan melemahkan kekuatan politiknya.

Takut dengan hal itu, maka PKT atau komunisme berupaya untuk memutuskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang akhirnya mencapai tujuan  menghancurkan manusia.

Lan Shu menyebutkan, alasan PKT melarang perayaan Natal adalah untuk menentang agresi budaya Barat. Namun sesungguhnya mereka untuk mempertahankan kekuasaan dan menggunakan budaya partai untuk menimbulkan minat orang pada meraih keuntungan (materialisme).

Coba perhatikan, berapa banyak hal yang ada dalam kehidupan kita termasuk orang-orang di Tiongkok yang bukan berasal dari dunia Barat? Seluruh peradaban modern dan peradaban industri modern adalah berasal dari Barat, termasuk leluhur PKT juga berasal dari Barat, komunisme disebarkan dari Eropa.

Jika ingin menolak pengaruh agama, maka jangan beristirahat pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari ibadah bagi masyarakat Kristiani untuk merayakan kebangkitan Yesus Sang Juru Selamat. (Sin/asr)

Share

Video Popular