Oleh David Kilgour

Ketika kita menemukan ungkapan di atas, banyak orang mengeluh dalam hati, berpikir bahwa perdamaian internasional, nasional, dan regional mungkin semakin menjauh dibanding hari ini.

Bahkan, ada dasar-dasar untuk tindakan hukum yang nyata berharap bahwa para pemimpin yang jahat tidak bermoral di masa depan akan menjadi berkurang kemampuannya untuk mengambil keuntungan dari masalah-masalah sosial dan ekonomi untuk melancarkan kekerasan, serangan dunia maya, dan sejenisnya di negaranya sendiri atau di negara-negara lain.

Kolumnis New York Times, Nicholas Kristof menulis pada awal tahun 2018 bahwa tahun sebelumnya secara mengejutkan dalam banyak hal adalah yang terbaik dalam sejarah manusia: “Sebagian kecil orang-orang di dunia yang kelaparan, miskin atau buta huruf dibandingkan sebelumnya. Sebagian kecil anak-anak yang meninggal dibanding sebelumnya.

“Setiap hari, jumlah orang di seluruh dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem (pendapatan kurang dari sekitar US$2 per hari) turun 217.000….

“Setiap hari, bertambah lagi 325.000 orang yang mendapatkan akses listrik. Dan 300.000 lebih mendapatkan akses untuk air minum bersih.”

Pembukaan Piagam PBB 1945 menjanjikan semua negara anggota “untuk mempraktekkan toleransi dan hidup bersama dalam damai satu sama lain sebagai tetangga yang baik.”

Sebuah cita-cita serupa mengilhami Liga Bangsa-Bangsa pada awal abad ini, tetapi jauh sebelumnya para pemimpin yang berwawasan jauh telah berbicara tentang “satu keluarga manusia.”

Pada tahun 1945, kehancuran karena Perang Dunia II, termasuk hilangnya 50-60 juta jiwa, membuat para pemenang memikirkan kembali cara membangun kembali sembari berusaha belajar dari kesalahan besar yang pernah dibuat sebelumnya.

Strategi baru tersebut adalah untuk menciptakan lembaga-lembaga yang mampu memberikan cara damai untuk meredakan konflik antar negara. Secara paralel, aliansi-aliansi militer defensif, seperti NATO, memberikan kekuatan pada penegakan hukum untuk mencegah penggunaan senjata. Sisi dari infrastruktur internasional tersebut menjadi lebih penting ketika Perang Dingin memburuk.

Di sisi ekonomi, ada lembaga-lembaga baru, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional, yang telah membantu mengangkat banyak orang keluar dari kemiskinan.

Konsekuensinya hari ini, tidak pernah sebelumnya di dunia ada hampir 200 negara merdeka yang memiliki begitu banyak kesamaan, namun masalah yang memecah belah kita jarang begitu jelas.

Banyak populasi khawatir bahwa perdamaian dan stabilitas terancam oleh negara-negara yang memiliki sejarah panjang intervensi bersenjata, atau mereka yang memiliki rezim yang tidak manusiawi dan penuh dengan pergolakan yang meluas, atau tetangga dengan siapa mereka memiliki persaingan lama, perselisihan perbatasan, dan permusuhan yang disebabkan oleh alasan sosial, budaya dan sejarah.

Ketegangan-ketegangan meningkat, namun semakin banyak orang menerima logika tentang bertumbuhnya keadaan saling tergantung dalam satu keluarga manusia untuk masalah-masalah seperti perubahan iklim dan pembersihan lautan kita, semakin kita harus mencari peluang untuk mengatasi gagasan destruktif tentang “keberlainan” dan “keterpisahan,” dan untuk menemukan cara untuk hidup dan bekerja bersama dalam harmoni.

“The more we sweat in peace, the less we bleed in war” (Semakin banyak kita berkeringat di masa damai, semakin sedikit kita berdarah di masa perang), kata politisi dan diplomat India Vijaya Lakshmi Pandit.

Inisiatif-inisiatif untuk reformasi kelembagaan dan lainnya yang terbaik adalah didasarkan pada nilai-nilai universal. Tata pemerintahan yang efektif di seluruh dunia juga membutuhkan media independen, lembaga demokrasi, dan supremasi hukum.

Perlunya demokrasi multi-partai muncul dari hubungan erat antara legitimasi dan efektivitas. Lembaga-lembaga yang tidak memiliki legitimasi jarang efektif dalam jangka panjang.

Kesetaraan di hadapan hukum sangat penting untuk menjaga agar terhindar dari tirani, kecenderungan orang yang kuat dan rakus untuk memaksakan kehendak mereka terhadap yang lemah.

Mimpi buruk Yaman yang sedang berlangsung, dengan jutaan orang menghadapi kelaparan, dan krisis pengungsi Suriah yang berlangsung sejak tahun 2011 secara internasional diakui sebagai dua krisis kemanusiaan terburuk di abad ke-21. Namun beberapa pemerintah akhirnya mengalokasikan sumber daya untuk membantu, berbagai macam komunitas agama sedang mengirimkan doa dan dukungan, dan orang-orang di seluruh dunia tampaknya mencari cara untuk melawan kedua krisis dengan cara yang bermakna, bersamaan sebuah gencatan senjata sekarang dinyatakan di bagian Yaman.

Londoner Jonathan Aitken baru-baru ini mengangkat beberapa poin yang berkaitan di Carol Service layanan luar negeri Inggris di Westminster:

Dua puluh abad yang lalu, rasa takut menjulang besar di Israel. Ketakutan yang telah diciptakan oleh penguasa yang tunduk pada ketakutan dan otokratis, ketidakpastian politik, pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dan kurangnya kepercayaan diri bangsa … Apakah ada pelajaran di sini untuk pandangan kontemporer kita mengenai pertanyaan tentang bagaimana kita harus memproyeksikan keyakinan agama dengan nilai-nilai nasional kita, dengan harapan yang lebih besar? … Jika nilai-nilai Kristen leluhur kita masih diperhitungkan di sini, mengapa kita begitu bungkam tentang kasus penistaan Asia Bibi? Atau kekejaman terhadap Jamal Khashoggi? Atau kekerasan terhadap orang Kristen di Sabuk Tengah Nigeria? … Di dunia spiritual ada sesuatu yang disebut ‘examination of conscience’ (ujian untuk kata hati nurani)

Kedamaian di bumi dapat dicapai jika naluri-naluri yang lebih baik yang dimiliki kaum wanita maupun kaum pria baik spiritual maupun sekuler di seluruh planet ini bisa terbukti lebih kuat.

“Jika manusia tidak mengakhiri perang, perang yang akan mengakhiri manusia.” (J.F. Kennedy) (ran)

David Kilgour, seorang pengacara dengan profesi, bertugas di House of Commons Kanada selama hampir 27 tahun. Dalam Kabinet Jean Chrétien, ia adalah menteri luar negeri (Amerika Latin dan Afrika) dan menteri luar negeri (Asia-Pasifik). Dia adalah penulis beberapa buku dan penulis bersama David Matas untuk buku “Bloody Harvest: The Killing of Falun Gong for Their Organs.”

Rekomendasi video:

Sejuta Lebih Muslim Uighur Hilang Keberadaannya

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds