Oleh David T. Jones

PERTANYAAN: Bagaimana prospek “perdamaian di bumi” pada tahun 2019?

JAWABAN: Luar biasa, segera setelah Setan belajar bermain sepatu es di Neraka yang beku.

Untuk menggambarkan sifat perang yang keras kepala, ada konflik militer setiap tahun di abad ke-20. Peringatan Perang Polinasional (Polynational War Memorial) menyebutkan 245 konflik dengan ukuran / durasi lebih besar atau lebih kecil dimulai dengan Pemberontakan Boxer (1900) dan Perang Sino-Jepang (1900), termasuk beberapa yang dimulai pada abad ke-19 namun berlanjut hingga abad ke-20 (Perang Boer II [1899- 1902] dan Pemberontakan Filipina [1899-1902]). Dan ia mencatat 15 permulaan lain seperti itu di abad ke-21, jelas, pertempuran Afghanistan, perang saudara di Suriah, dan perang Irak II.

Seseorang dapat menyimpulkan dari daftar tersebut dan menumpangtindihkan sebagian konflik bersenjata yang mungkin ada aksi militer setiap hari pada abad ke-20 tersebut dan, sejauh ini, pada abad ke-21.

Dan, secara sepintas, kutipan media yang tak ada habisnya bahwa keterlibatan militer AS di Afghanistan adalah “perang terpanjang” kita adalah benar-benar salah. Perang Korea, dimulai pada tahun 1950 secara teknis terus berlanjut, sejak pertempuran berakhir dengan gencatan senjata. Bagaimanapun sebuah perjanjian damai untuk mengakhiri perang tersebut secara resmi saat ini sedang dibicarakan secara santai, Perang Korea tersebut sekarang telah berlangsung selama 68 tahun.

Dan, meskipun permulaan dan akhir pertempuran AS dengan orang-orang Indian Amerika sulit untuk ditentukan, para sejarawan menyarankan bahwa itu dimulai pada abad ke-17 dan diakhiri dengan sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Apache tersebut pada tahun 1924, periode yang hampir tiga abad.

Dan ulasan singkat tentang konflik-konflik saat ini tidak menyehatkan untuk perdamaian:

YAMAN. Para pengamat kritis dengan cepat melupakan Koalisi yang dipimpin Saudi telah bertindak untuk mendukung pemerintah yang sah dengan dukungan PBB secara implisit. Bencana kemanusiaan berikutnya disalahkan pada orang Saudi, namun menutup pelabuhan Hodeida adalah tindakan pemberontak.

“Penghentian genjatan senjata sementara” yang diatur melalui perundingan-perundingan yang disponsori oleh PBB tersebut terlihat sangat mirip dengan jeda waktu untuk memasukkan amunisi ke dalam (senjata api) setelah habis daripada sebuah jalan perdamaian. Akibatnya, satu-satunya yang meyakinkan adalah kepemimpinan Saudi, telah menjebak diri sendiri seolah-olah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi, membutuhkan laporan negatif untuk Yaman seperti orang yang sedang tenggelam membutuhkan sebuah lemparan batu sebagai pijakan untuk bertahan hidup.

SURIAH. Barat masih sedang mencapai kesepakatan setelah menerima kenyataan bahwa Assad, dengan dukungan Rusia/Iran/Hizbullah, telah memenangkan perang saudara. Pasukan Assad kemungkinan akan memusnahkan sisa-sisa ISIS di Ibid dan di tempat lain cepat atau lambat pada akhirnya, namun hal tersebut hanya akan mengubah ISIS menyebar menjadi sel-sel teroris anomik (bersifat seketika) di seluruh wilayah tersebut. Dengan, berasumsi itu diterapkan, penarikan pasukan AS (dan ketidaksetiaan lagi untuk sekutu-sekutu Kurdi) akan mengutamakan pertempuran dengan Ankara, yang melihat orang-orang Kurdi sebagai teroris.

UKRAINA. Gencatan senjata yang tegang antara pasukan Ukraina dengan nasionalis anti-Kyiv yang didukung Rusia yang telah mencaplok Crimea dan bagian-bagian timur Ukraina telah pecah dengan perebutan bulan November di Moskow dan masih terus menahan kapal-kapal angkatan laut dan awak Ukraina. Rumor tentang pengerahan kendaraan lapis baja Rusia untuk serangan lain mungkin berlebihan, tetapi krisis yang terkait dengan pemilihan presiden bulan Februari dapat diprediksi.

ISRAEL-PALESTINA. Washington memindahkan Kedutaan Besarnya ke Yerusalem mungkin menjadi sebuah kenyataan yang ditempatkan di ujung deretan peristiwa untuk tahap pengembangan karena tidak tercapainya rencana perdamaian, karena mustahil meningkatkan kemungkinan harapan untuk usulan perdamaian AS yang telah lama ditunggu-tunggu. Sementara itu, serangan-serangan tanpa henti dari Gaza-Hamas memicu pembalasan tanpa henti oleh pasukan Israel. Hal demikian adalah lebih banyak memelopori konflik Israel-Hamas berdarah lainnya sekitar tahun 2008-2009 dibanding kemungkinan untuk perdamaian yang “berpikiran terbuka atau toleran terhadap orang lain”.

KONFRONTASI DI LAUT CINA SELATAN. Pendudukan Tiongkok dan pembangunan benteng-benteng pertahanan di pulau-pulau yang disengketakan di Laut Cina Selatan memicu kemarahan para tetangga (Filipina, Vietnam, Taiwan) yang membuat klaim-klaim yang sebanding. Beijing telah melanggar putusan Pengadilan Internasional dan tidak mungkin lagi menerima arbitrase internasional daripada mengubah Istana Kekaisaran menjadi hotel Trump. Potensi konflik muncul ketika Amerika Serikat bersikeras bahwa ini adalah wilayah perairan/udara internasional dan kapal-kapal layar/terbang melewatinya. Tindakan terburu-buru menembak/tindakan balasan bisa meningkat menjadi pertempuran berdarah.

Mungkin keadaan paling positif untuk perdamaian adalah keengganan yang sangat besar dari kekuatan-kekuatan Barat untuk menerima para korban terkait konflik apa pun, bahkan kerugian sepele oleh pasukan yang “semua sukarelawan”. Sama sekali tidak mungkin untuk membayangkan konflik yang akan mendorong orang-orang Eropa untuk memikul beban setara dengan jutaan kematian Perang Dunia I/II. Atau bagi Amerika Serikat untuk menerima para korban dari dimensi Korea dan Vietnam, masing-masing 35.000 dan 58.000 kematian. Sebagai titik acuan, total korban di Afghanistan lebih rendah daripada D-Day (Perang Dunia II pada 6 Juni 1944) di Normandy atau Marinir-marinir yang menyerang Tarawa.

Kita mungkin mendapatkan perdamaian dengan kegagalan memenuhi kewajiban daripada dengan tindakan pemberian wewenang untuk melakukan tugas. (ran)

David T. Jones adalah pensiunan pejabat senior dinas pelayanan luar negeri Departeman Luar Negeri A.S. yang telah menerbitkan beberapa ratus buku, artikel, kolom, dan ulasan tentang isu-isu bilateral A.S-Kanada dan kebijakan umum luar negeri. Selama karir yang membentang lebih dari 30 tahun, ia berkonsentrasi pada masalah politik-militer, melayani sebagai penasihat bagi dua kepala staf Angkatan Darat. Di antara bukunya adalah “Alternative North Americas: What Canada and the United States Can Learn from Each Other.”

Rekomendasi video:

Sejuta Lebih Muslim Uighur Hilang Keberadaannya

Share

Video Popular