Erabaru.net- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa terjadi penyusutan terhadap tubuh Gunung Anak Krakatau. Penyusutan ini disebut mencapai 60 persen dari tubuh gunung anak Krakatau.

“Berdasarkan analisis analisis visual, sudah konfirmasi bahwa Anak Krakatau yang tingginya semula 338 meter, sekarang tingginya tinggal 110 meter,” demikian laporan resmi PVMBG.

Dari Pos PGA Pasauran, posisi puncak Gunung Anak Krakatau lebih rendah di banding Pulau Sertung yang menjadi latar belakangnya.

Sebagai catatan, Pulau Sertung tingginya 182m sedangkan Pulau Panjang 132m. Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3.

Sedangkan volume yang tersisa saat ini yaitu sekitar antara 40-70 juta m3. Berkurangnya volume tubuh gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunungapi yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.

Proses pengamatan visual terus dilakukan untuk mendapatkan hasil perhitungan yang lebih presisi.

Saat ini letusan bersifat impulsif yang maksudnya yaitu sesaat sesudah meletus tidak nampak asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau. Terdapat dua tipe letusan, yaitu letusan Surtseyan yang terjadi karena magma yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau bersentuhan dengan air laut dan strombolian.

Potensi Bencana Erupsi G. Anak Krakatau

Laporan PVMBG menyebutkan, berdasarkan kondisi seperti saat ini, potensi yang paling memungkinkan adalah  terjadinya letusan-letusan Surtseyan. Letusan jenis ini karena terjadi dipermukaan air laut, meskipun bisa banyak menghasilkan abu, tapi tidak akan menjadi pemicu tsunami.

Potensi bahaya lontaran material lava pijar masih ada. Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan/sesar yang ada di Selat Sunda.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 28 Desember 2018, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau masih tetap Level III (Siaga).

Sehubungan dengan status Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat untuk tidak mendekati G. Krakatau dalam radius 5 km dari Kawah.

Masyarakat diimbau menyiapkan masker untuk mengantisipasi jika terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang serta jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi G. Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat. (asr)

Share

Video Popular