Pelanggaran

Seorang juru bicara Departemen Perdagangan mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima surat senator.

“Departemen Perdagangan akan tetap waspada terhadap ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat dan terus rajin menerapkan perjanjian penyelesaian dengan ZTE. Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut saat ini,” kata juru bicara dalam email.

Sebagai bagian dari kesepakatan penyelesaian pada bulan Juni, ZTE telah mengizinkan Departemen Perdagangan Amerika Serikat untuk memantau perilaku perusahaan.

Baik Rubio dan Van Hollen telah bersuara keras mengenai  potensi pelanggaran ZTE dan mengenai mempertahankan sanksi terhadap perusahaan ZTE.

“Kami belum menerima tanggapan atas surat kami pada saat ini,” kata juru bicara Van Hollen.

Van Hollen ikut mensponsori undang-undang yang diperkenalkan pada bulan September yang disebut ZTE Enforcement Review and Oversight Act (ZERO) Act. Undang-undang mengharuskan Departemen Perdagangan untuk mengeluarkan ZTE dari bisnis jika melanggar perjanjian saat ini dengan Amerika Serikat.

Pada 1 Desember, sebagai bagian dari penyelidikan Amerika Serikat, Kanada menangkap Meng Wanzhou, Kepala Staf Keuangan Huawei, perusahaan telekomunikasi Tiongkok lainnya.

BACA JUGA :  Seruan Resmi IT Kenya untuk Menyelidiki Huawei dan ZTE

Amerika Serikat mengejar Meng Wanzhou, putri pendiri Huawei, dalam penyelidikan kriminal terkait dengan pelanggaran sanksi terhadap Iran.

“Sementara Departemen Perdagangan memusatkan perhatiannya pada ZTE, berita ini menyoroti bahwa Huawei juga melanggar hukum Amerika Serikat,” kata Van Hollen dalam pernyataannya. “Kami membutuhkan rencana komprehensif untuk meminta pertanggungjawaban Tiongkok dan entitas yang disponsori negara Tiongkok atas pelanggaran berat hukum dan ancaman terhadap keamanan kami.”

Dorong Ke Panama

Perusahaa telekomunikasi terkemuka Tiongkok juga membuat terobosan di Panama. R. Evan Ellis, seorang profesor studi Amerika Latin di Institut Studi Strategi Perguruan Tinggi Angkatan Darat Amerika Serikat, memperkirakan bahwa Huawei dan ZTE akan menjadi penyedia infrastruktur dan layanan telekomunikasi yang dominan di Amerika Latin dan Karibia, dengan status “hampir monopoli” melampaui penyedia lokal pada tahun 2050.

Menurut Evan  Ellis, dominasi seperti itu akan memberikan Tiongkok “kemampuan yang hampir tak terbatas untuk mengumpulkan intelijen bisnis atau teknologi yang tepat untuk memberikan posisi yang tidak adil kepada perusahaan berbasis  Republik Rakyat Tiongkok,” katanya untuk laporan yang diterbitkan oleh wadah pemikir Amerika Serikat, Pusat Studi Strategis dan Internasional pada tanggal 21 November.

Dominasi kedua perusahaan juga dapat membahayakan “hampir semua militer, pemerintah, atau pemimpin bisnis di wilayah ini, di mana kedua perusahaan itu ingin memperoleh intelijen politik dan militer yang berharga dari wilayah ini,” katanya.

BACA JUGA : Peralatan Telekomunikasi 5G Tiongkok Ditolak di India dan Korea Selatan

Huawei bahkan baru-baru ini dianugerahi kontrak untuk memasang sistem pengawasan di jalan dengan kamera pengenal wajah yang terhubung ke jaringan data yang berbasis di kota Colón — memungkinkan pemerintah Panama untuk meniru sistem pengawasan massal Tiongkok, di mana jutaan kamera saat ini memantau warga di seluruh negeri dan telah digunakan untuk memadamkan pembangkang. Sistem Panama ini juga akan ditransfer ke kantor pertahanan, migrasi, pemadam kebakaran, dan layanan ambulans pemerintah.

Beijing telah menggunakan teknologi pengawasan canggih terutama di wilayah Xinjiang sebagai bagian dari upayanya untuk memantau dan menganiaya umat Islam Uyghur dan etnis minoritas lainnya. Rezim Tiongkok sekarang mengekspor teknologi pengawasannya ke negara lain.

Xi Jinping (depan kiri) diperlihatkan di sekitar kantor perusahaan teknologi Tiongkok Huawei oleh Presiden Ren Zhengfei di London selama kunjungan kenegaraan pada 21 Oktober 2015. (Matthew Lloyd / AFP / Getty Images)

Banyak pemerintah di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat dan Australia, telah menyuarakan keprihatinan mengenai peralatan dan telepon yang dibuat oleh Huawei dan ZTE.

Pentagon mengeluarkan perintah pada bulan Mei untuk menghapus semua telepon dari dua perusahaan yang dijual di toko-toko di pangkalan militer Amerika Serikat, karena khawatir bahwa perangkat itu dapat digunakan untuk memata-matai pasukan Amerika Serikat.

Tiongkok dan Panama menandatangani beberapa perjanjian kerja sama setelah kunjungan pemimpin Tiongkok Xi Jinping baru-baru ini ke negara Amerika Tengah tersebut. Namun, para ahli menyuarakan keprihatinan bahwa hubungan yang lebih dekat antara kedua negara dapat merusak kepentingan Panama, serta kepentingan Amerika Serikat.

Xi Jinping tiba di Panama pada 2 Desember untuk kunjungan selama 24 jam, di mana ia bertemu dengan Presiden Panama Juan Carlos Varela. Kedua pemimpin tersebut menandatangani 19 perjanjian kerja sama untuk perdagangan, infrastruktur, perbankan, pendidikan, dan pariwisata, menurut Reuters.

Salah satu perjanjian menyerukan Tiongkok untuk memberikan bantuan yang tidak dapat diganti kepada Panama untuk melaksanakan berbagai proyek; jumlahnya tidak diungkapkan.

Selain itu, Presiden Panama Juan Carlos Varela menyatakan dukungannya untuk partisipasi Panama yang berkelanjutan dalam proyek-proyek di bawah inisiatif Beijing “One Belt, One Road” (OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road), menurut media yang dikelola pemerintah, Global Times.

Beijing pertama kali mengumumkan OBOR, tawaran untuk membangun pengaruh geopolitik melalui jaringan perdagangan, pada 2013. Inisiatif ini mencakup investasi bernilai miliaran dolar di negara-negara di seluruh Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.

Share

Video Popular