Kekhawatiran Korupsi

Pakar ekonomi Panama bernama Eddie Tapiero menyuarakan keprihatinan tentang hubungan Panama dengan Tiongkok, saat berbicara di sebuah program berita yang dijalankan oleh TVN, penyiar Panama.

“Hal ini memanggil kita untuk lebih menuntut di bidang transparansi, korupsi, dan hukum. Jika hal ini tidak terjadi, inisiatif [dengan investasi Tiongkok] tidak akan berhasil, karena uang itu akan dihamburkan, dan upaya untuk meningkatkan Panama tidak akan terjadi,” kata Eddie Tapiero.

Sementara Eddie Tapiero tidak menguraikan bagaimana korupsi dapat terjadi, OBOR Tiongkok telah dikenal untuk mendorong korupsi di negara-negara dengan lembaga-lembaga yang lemah, sementara menguntungkan rezim Tiongkok dan merugikan kepentingan lokal.

BACA JUGA : Ketika Perangkat Teknologi Huawei Dikembangkan untuk Penganiayaan Terhadap Falun Gong

Salah satu contoh melibatkan Malaysia, di mana Perdana Menteri yang baru terpilih, Mahathir Mohamad membatalkan proyek infrastruktur OBOR senilai USD 23 miliar pada Agustus setelah pendahulunya didakwa melakukan korupsi dan pencucian uang sehubungan dengan pendanaan untuk proyek tersebut.

Masalah transparansi serupa juga disuarakan oleh Miguel Antonio Bernal, seorang profesor hukum dan seorang kandidat yang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun 2019 di Panama, yang mengatakan,“ Tiongkok berencana menjajah dan kami tidak memiliki kapasitas profesional untuk menolaknya. Kami seperti seekor semut yang ingin berteman dengan seekor gajah,” menurut sebuah artikel pada 2 Desember oleh saluran berita kabel berbahasa Spanyol yang berbasis di Amerika Serikat, Univision.

Investasi Tiongkok

Perusahaan Tiongkok telah banyak berinvestasi di Panama dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, pada Mei 2017, Landbridge Group China, di bawah inisiatif OBOR, dianugerahi kontrak untuk memperluas pelabuhan terbesar di Panama, Colón Container Port, sekitar usd 1 miliar. Perusahaan tersebut memulai konstruksi pada Juni 2017, menurut media yang dikelola oleh pemerintah Tiongkok.

Pada Juli 2018, China Communication Construction yang dikelola negara dan anak perusahaannya China Harbour Engineering memenangkan tender untuk membangun jembatan baru di atas Terusan Panama, dengan kontrak sebesar usd 1,42 miliar.

huawei bermasalah
Seorang pria berjalan melewati papan nama Huawei di Consumer Electronics Show Asia 2018 di Shanghai, Tiongkok, 14 Juni 2018. (Aly Song / Reuters / File Photo)

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan 21 September, Global American, sebuah platform nirlaba yang menyediakan berita dan analisis mengenai Amerika Latin, menunjukkan beberapa kasus perusahaan Tiongkok mendapatkan kontrak publik dalam keadaan yang meragukan.

BACA JUGA : Perdana Menteri Kanada Khawatirkan Ancaman Huawei Terhadap Keamanan Nasional

China Harbour Engineering, misalnya, dianugerahi kontrak jembatan setelah “penarikan salah satu pesaing dari proses penawaran.” Selain itu, desain akhir perusahaan sangat mirip dengan yang diajukan oleh pesaing yang kehilangan daya tawar.

Minat Amerika Serikat

Baik Amerika Serikat maupun Tiongkok sangat bergantung pada Terusan Panama untuk perdagangan.

Menurut statistik oleh badan pemerintah Panama, Canal Authority, pada tahun fiskal 2018, Amerika Serikat adalah pengguna utama kanal tersebut, dengan sekitar 68 persen dari total perdagangan pergi ke atau dari negara tersebut. Cina berada di urutan kedua, dengan sekitar 16 persen.

Komite Kongres Amerika Serikat, China Economic and Security Review Commission (USCC), mengeluarkan laporan pada bulan Oktober mengenai keterlibatan Tiongkok di Amerika Latin dan Karibia, memperingatkan tantangan yang ditimbulkan oleh investasi Tiongkok di wilayah tersebut.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa investasi Tiongkok akan mengurangi pengaruh strategis Amerika Serikat di kawasan itu, mengurangi hubungan keamanan regional Amerika Serikat, dan merusak promosi norma-norma internasional Amerika Serikat seperti demokrasi dan praktik perburuhan yang adil.

Tiongkok saat ini membangun fasilitas pelabuhan di kedua ujung Terusan Panama: Port Balboa dan Terminal Kapal Amado di dekat pintu masuk yang menghubungkan ke Samudra Pasifik; dan Pelabuhan Kontainer Panama Colón di pintu masuk Samudra Atlantik.

Laporan USCC mencakup komentar oleh Laksamana Angkatan Laut Kurt W. Tidd, komandan Komando Selatan Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa “peningkatan jangkauan ke jalur akses global utama seperti Panama menciptakan kerentanan komersial dan keamanan untuk Amerika Serikat.”

Laporan USCC mempertanyakan kelayakan ekonomi dari beberapa proyek Tiongkok, termasuk Amado Cruise Terminal senilai usd 167 juta, yang “tidak sepanjang rute kapal pesiar utama.” (VIVI/asr)

Artikel Ini Terbit di Spesial Edition The Epoch Times Desember 2018

Share

Video Popular