Erabaru.net. Kisah tentang manusia berkepala anjing berasal dari Yunani kuno hingga ke Eropa abad pertengahan dan Afrika. Banyak kisah juga terjadi di seluruh India. Ada apa di balik legenda ini? Apakah mereka tidak dianggap sebagai manusia oleh masyarakat lokal? Apakah mereka terdistorsi oleh deskripsi hewan sesungguhnya? Atau apakah ada penjelasan lain?

Setelah menyerang India pada abad ke-4 SM, Alexander Agung konon menulis surat untuk gurunya, Aristoteles, sebuah gambaran tentang seorang pria berkepala anjing, bersama dengan makhluk aneh lainnya tinggal di Timur. Surat itu termasuk dalam sebuah naskah yang berasal dari sekitar tahun 1000, bagian dari naskah Cotton Vitellius A. xv, yang juga meliputi puisi epik terkenal, Beowulf.

Ctesias dari Cnidian menulis tentang pria berkepala anjing, yang juga dikenal sebagai cynocephali. Namun pada abad ke-4 SM David Gordon White menjelaskan dalam bukunya, Myths of the Dog-Man: “Meskipun Ctesias percaya bahwa ia melaporkan fakta etnologis atau geografi s dalam bukunya Indika, tidak ada keraguan bahwa sejumlah laporannya itu sebenarnya terinspirasi oleh mitos-mitos India”.

White menulis: “Selama sekitar 1.500 tahun pasca zaman Ctesias, para penakluk, misionaris, dan petualang, mencari dan memang mengatakan bahwa mereka menemukan cynocephali di India”.

Gregory C. McIntosh, ahli peta abad pertengahan terkemuka (yang sering menggambarkan tentang cynocephali), mengatakan dalam sebuah presentasi pada konferensi di Kedutaan Turki di London tahun 2013 lalu bahwa para kanibal sering digambarkan sebagai pria berkepala anjing. Orang Persia kuno memiliki tradisi meninggalkan mereka yang mati di tempat terbuka, untuk dimakan oleh anjing dan pemakan bangkai lainnya, yang memberikan penghormatan terhadap anjing dalam budaya mereka. Herodotus, sejarawan Yunani abad ke-5 SM, menulis tentang tradisi Persia ini. Ia juga menulis tentang cynocephali yang tinggal di Libya.

Cynocephali menjadi bagian dari pengetahuan Kristen setelah St. Agustinus yang terkenal menulis tentang mereka, bersama dengan para makhluk lainnya, pada abad ke-5 Masehi Dia melihat mereka sebagai pewaris kutukan Kain (anak Adam) dan keturunan Nuh yang tidak taat. White menulis: “Terima kasih kepada Agustinus, cynocephali terlihat menjadi bagian dari keselamatan, meskipun sebagian jatuh atau diasingkan; dan demikianlah mereka menjadi banyak dialegorikan sebagai ras yang suka bertengkar, bermoral bodoh, atau bahkan setan yang tidak pernah dipedulikan”.

Pandangan St. Agustinus ini serupa dengan suku Betsimaraka di Madagaskar.

Sebuah teori menyatakan bahwa kisah cynocephali di Afrika sebenarnya merujuk pada spesies besar lemur, lemur indri.

Dalam bukunya “On the Track of Unknown Animals”, Bernard Heuvelmans menulis tentang lemur indri: “Ini adalah yang terbesar dari lemur yang dikenal saat ini dan tampak luar biasa seperti orang kecil dengan kepala anjing. Ia setinggi dua meter dan tidak memiliki ekor. Lemur indri ini secara mengejutkan tampak seperti orang secara garis besar. Seperti lemur lainnya, atau setengah monyet, ia memiliki moncong halus dan runcing, yang membuat kepalanya lebih seperti rubah atau anjing.”

“Untuk memahami mengapa suku Betsimaraka (Madagaskar) takut dan menyembah hewan itu, dan secara signifi kan memanggil mereka babakato, atau ‘anak kakek’, sebab mereka percaya bahwa itu adalah keturunan dari orang-orang yang dulu bersembunyi di hutan untuk menghindari pekerjaan bagi suku mereka. Semua lemur tersebut dianggap pernah menjadi manusia”, kutipan lainya dalam buku tersebut.

Layaknya St. Agustinus, suku Betsimaraka juga menganggap manusia berkepala anjing itu sebagai manusia yang bermoral bejat. (Osc/Yant)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular