Erabaru.net. Apakah Anda akan mengabaikan waktu kebersamaan dengan keluarga hanya karena banyaknya hal-hal sepele. Kita seharusnya memanfaatkan setiap waktu kebersamaan dengan keluarga, jika tidak penyesalan pun sudah terlambat…

Kisah ini berasal dari pasangan yang telah menikah dan telah mengarungi bersama lika-liku hidup lebih dari 20 tahun. Saya dan istri yang saling mencintai sejak pacaran sampai kemudian menikah dan menghadapi perubahan hidup serta ketidakharmonisan dua keluarga yang selalu bertikai.

Sampai kemudian setelah anak-anak tumbuh dewasa, istri saya tampaknya mulai melepas tangan dan lambat laun tidak lagi bersihkeras dengan banyak hal yang dipegang teguh olehnya.

Selepas kerja, saya bisa berkumpul bersama rekan kerja dan pulang malam. Pada hari libur, saya bisa bermain golf sepanjang hari, dan tidak lagi memicu perdebatan terkait pekerjaan rumah tangga di rumah.

Suatu hari, istri saya meminta saya mengundang wanita lain untuk makan malam di luar dan menonton film.

“Aku mencintaimu, tetapi aku tahu ada wanita lain yang juga mencintaimu,” katanya.

Wanita yang dimaksud istri yang juga mencintaiku itu adalah ibuku, seorang janda, yang hidup menjanda sejak kematian almarhum ayahku.

Aku mengangkat gagang telepon dan memutar nomor kontak yang sangat kukenal.

Begitu mengangkat telepon, langsung terdengar suaranya yang bertanya dengan nada cemas : “Ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?”

Dia sudah terbiasa aku tidak akan menghubunginya dan berbagi kegembiraan bersamanya, jadi ketika telepon berdering, dia selalu khawatir mendengar berita buruk.

“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja apakah ibu ada waktu Jumat besok? Kami akan menjemput ibu sepulang kerja, kita makan malam bersama atau sekadar nonton bioskop.”Jawabku sambil bertanya.

Sepertinya dia merenung sejenak sebelum menyahut dengan gumaman “…Ng…”

”Kalau begitu kita jemput nanti ya bunda !” kataku sambil menutup telepon

Perasaanku agak tegang setelah tiba waktu menjemputnya pada hari Jumat seperti yang telah kita janjikan. Ketika tiba di rumah ibu, sekilas aku melihat ibu juga agak tegang dengan kencan ini.

Ibu mengenakan mantel yang sangat indah tapi sederhana, dan sebelum aku turun dari mobil, ibu sudah berdiri menunggu di depan pintu.

Ibu melemparkan senyum ceria seperti sesosok bidadari yang anggun ketika melihatku.

Ibu duduk di kursi penumpang depan dan mengikat sabuk pengamannya dengan perasaan tegang.

“Ibu memberi tahu teman-teman mau kencan dengan anak sendiri, mereka tampak terkejut dan tidak sabar untuk mengetahui detailnya,” katanya tanpa bisa menutupi rasa bahagianya.

Aku memilih langganan restoran dengan menu masakan rumahan, sesekali menikmati masakan di restoran rumahan rasanya juga lumayan hangat, tidak seperti bisanya saat kerja selalu makan di restoran barat kelas atas.

Ketika dia berjalan masuk ke restoran, dia menggenggam tanganku, seolah berjalan di Avenue of Stars (Acara mencari bakat di TV) anggun tapi terasa asing

Setelah duduk, aku melihat-lihat menu, kemudian bertanya menu yang disukainya, dan aku melihat dia duduk di hadapan sambil memadangku, tampak senyum nostalgia menggantung di raut wajahnya.

“Dulu ibu yang selalu membacakan menu untukmu,” katanya.

“Sekarang mata ibu kurang baik, ibu istirahat saja, biar aku saja yang membaca menunya untuk ibu.”

Selama makan, percakapan kami sangat santai. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Dan karena sudah agak larut malam, aku pun tidak menyinggung tentang nonton bioskop lagi.

Ketika mengantarnya sampai ke pintu rumah, Ibu berkata, : “Ibu ingin berkencan denganmu lagi, tapi kali ini, ibu yang mengajakmu, biar ibu yang menjamumu makan malam dan nonton film!”

Aku mengiyakan ajakannya

Dalam cinta, dengan adanya pengertian, kita bisa saling mendukung dan tumbuh bersama, agar keluarga menjadi lebih bahagia dalam keharmonisan.

Sesampainya di rumah, istriku bertanya, : “Bagaimana kencannya malam ini?”

“Mengesankan,” sahutku singkat.

“Mengapa bertanya seperti itu ?” Tanyaku sambil mengerutkan kening.

“Sebelum menikah, aku masih seorang gadis remaja yang merindukan cinta. Dalam menghadapi polemik asmara, saat itu aku pikir bisa mengerti dengan ketidaksempurnaan dalam cinta, dan demi cinta, aku belajar “memahami” untuk mengalah.

“Setelah menikah, aku mulai memahami kebiasaanmu, tidak peduli apakah itu konflik dalam gaya hidup atau pandangan tentang kehidupan, demi keutuhan keluarga, aku belajar “Memahami” untuk mengubah gaya dan pandangan hidupku”

“Setelah memiliki anak, kamu dan aku memiliki cara yang berbeda dalam membesarkan dan mendidik anak, tetapi kali ini, aku tahu kita memiliki tujuan yang sama, yaitu memberi anak-anak yang terbaik, memberi mereka masa depan yang tak terbatas, dan ini harus disadari tanpa perlu melalui “mahami”, kita mencintai, mendidik dan mengurus bersama anak-anak kita.

“Dengan adanya belahan jiwa lainnya yang saling mendukung dan tumbuh bersama adalah hal yang paling membahagiakan bagi seorang wanita.

“Aku tahu suatu hari nanti anak-anak akan meninggalkanku, dan aku tidak akan bisa lagi membimbingnya. Aku tahu suatu hari nanti anak-anak tidak lagi membutuhkan ibu untuk mengurusnya.”

“Dan aku sangat beruntung, sampai pada hari itu, masih ada sepotong perjalanan hidup lain yang akan kita jalani bersama.

“Tapi hanya ada kamu seorang dalam hidup ibumu, dan hanya kamu satu-satunya tersisa dalam kehidupan ibumu.”

Sebenarnya yang diinginkan seorang wanita setelah merasakan sentuhan cinta, ikatan perkawinan dan mengasuh anak itu tidaklah banyak. bahkan kemampuannya menginginkan sesuatu pun sudah lenyap setelah berulang kali “memahami”.

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala setelah mendengar perkataan istriku.

Selama ini aku selalu memikirkan kehidupan ibu, apakah ibu baik-baik saja ? Apakah ada sesuatu yang dibutuhkan ? Tetapi hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari membuat perhatianku pada ibu terabaikan, seperti film yang tidak jadi ditonton. Meskipun masih diputar di bioskop, tapi, momen seperti itu sudah terlambat bagiku.

Beberapa hari kemudian, ibuku meninggal karena serangan jantung.

Kejadian itu terlalu tiba-tiba, karena aku belum sempat melakukan apa pun untuknya.

Di upacara perkabungan, ibu mengenakan mantel yang dikenakan saat makan malam bersamaku ketika itu, dan saat itu baru aku sadari itu adalah hadiah terakhir untuknya dari almarhum ayah untuk ulang tahun pernikahan mereka.

Beberapa hari kemudian, aku menerima sepucuk surat berikut salinan kwitansi restoran dan catatan pendek.

Catatan itu berbunyi,: “Ibu telah membayar di muka dan telah memesan meja untuk dua orang : Satu untukmu dan satunya untuk istrimu.

“Kamu tidak pernah tahu betapa pentingnya malam itu bagi ibu, dan ibu harap kamu juga bisa meluangkan waktu untuk memberikan kejutan yang sama kepada istrimu.”

─ Ibu yang selamanya mencinatimu.

Berikan waktu kepada orang-orang yang mencintaimu, keluarga akan selalu menjadi tempat kita bersandar! Pada saat itu, saya mengerti betapa pentingnya segera mengatakan “Aku mencintaimu.”

Luangkan waktu bagi mereka yang mencintaimu.

Karena tidak ada yang lebih penting dalam kehidupan seseorang daripada keluarga, jangan pernah berkata sudah “terlambat” untuk waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga.

Ibu adalah sosok orang yang hebat ! Tidak pernah menyesal berkorban untuk anaknya sampai maut menjemput. (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds