Erabaru.net. Di masa lalu, ada seorang nelayan muda bernama Feng yang hidup bersama dengan kedua orangtuanya di sebuah desa di tepi Sungai Yangtze. Feng adalah sosok pemuda yang rajin dan pekerja keras, keluarganya tergolong hidup berkecukupan dibanding keluarga lain pada umumnya.

Pagi itu, Feng mengayung perahunya ke sebuah tempat bernama Jinshazhou untuk menjala ikan.

Tempat itu sebenarnya adalah sebuah pulau yang dipenuhi dengan pasir kuning, pancaran mentari pagi yang bersinar kuning keemasan menyapu segenap pantai, sehingga memiliki nama pasir kuning ini.

Dia menebar jaring, beberapa saat kemudian dia merasakan guncangan hebat di jaringnya, dia mengangkat jaring itu dan melihat seekor labi-labi tua seukuran lempengan cakram (batu gerinda) di dalam jaringnya.

Di masa lalu, orang-orang jarang makan hewan seperti labi-labi atau kura-kura, karena mereka melambangkan umur panjang, terutama untuk ukuran besar yang sudah ribuan atau minimal ratusan tahun usianya.

Feng mengucapkan beberapa kalimat suci “Amitabha”, kemudian melepaskan labi-labi yang terperangkap di jaringnya.

Sementara itu, Ah Niu, seorang nelayan sedesanya juga datang untuk menangkap ikan, keduanya mengobrol dan Feng bercerita tentang labi-labi yang dilepaskannya tadi.

Mendengar itu, Ah Niu terus menghela nafas dan berkata,: “Gimana sih kamu ini, apa kamu tidak tahu pak Sun sedang bersiap merayakan ulang tahun ibunya yang ke 70 tahun. Dia ingin membeli banyak makhluk hidup di air untuk dilepaskan lagi, entah berapa banyak uang yang akan kamu dapatkan kalau labi-labi tua sebesar itu dibeli sama pak Sun, tapi uh…rezeki sudah di depan mata, tapi kamu buang dengan sia-sia.”

“Aku tahu kok, tapi pak Sun kan membeli makhluk hidup untuk kemudian dilepaskannya lagi untuk pemberkatan ibunya, kalau aku melepaskan labi-labi untuk ibuku,”kata Feng sambil tersenyum.

Orangtua Ah Feng melahirkan dirinya pada usia paruh baya. Kini, kedua orangtuanya sudah tua, dan harapan terbesar Ah Feng adalah orangtuanya selalu sehat dan berumur panjang.

Menjelang malam, Ah Feng baru pulang ke desa dan kebetulan melihat Ah Niu sedang membawa beberapa kilogram daging segar. Ah Feng mengerutksn kening seakan merenung, karena nelayan di desanya sangat jarang beli daging, jadi dia pun penasaran dan bertanya pada Ah Niu.

“Aku beruntung hari ini, baru beberapa kali menaburkan jala, labi-labi itu pun terperangkap dalam jalaku. Kemudian aku berikan pada pak Sun, dan dia memberi aku sejumlah uang,”kata Ah Niu gembira.

Sementara Ah Feng tersenyum sedih sambil bergumam, “labi-labi yang malang.”

“O ya, pada 6 Juli (Tradisi melepaskan makhluk hidup) nanti, pak Sun akan melepaskan makhluk hidup di dermaga, nanti kita tangkap ikan di sana, pasti akan panen besar,” kata Ah Niu penuh semangat.

Menjelang tibanya hari itu, Ah Feng tidak pergi ke dermaga untuk menjala, dia merasa hal itu konyol. Kalau pak Sun memang hanya ingin sekadar melepaskan makhluk hidup, kenapa juga harus seperti itu ? Dilepaskan di sini, tapi ditangkap lagi para nelayan di sana, lalu berapa banyak yang bisa bertahan hidup?

Ah Feng ke Pulau Kuning itu untuk menjala ikan. Setelah sibuk sepanjang hari, Matahari pun mulai terbenam, dan ketika jaring terakhir ditebar, tiba-tiba dia merasa tangannya berat, dan dia terperangah saat melihat jalanya, ternyata itu adalah labi-labi tua yang dilepaskannya beberapa waktu lalu.

“Ah..kamu lagi, kamu lagi, baru beberapa hari dilepas sekarang terperangkap lagi.”Gumam Ah Feng dengan senyum kecut seakan berbicara dengan labi-labi dalam jalanya. Jangan-jangan labi-labi tua ini juga seperti manusia, jadi pelupa kalau sudah tua? Dia membuka jaringnya dan melepaskannya.

Tapi labi-labi tua itu bukannya pergi, malah menyembul naik turun di depan perahu Ah Feng, seakan-akan sedang menuntunnnya.

Dia mencoba mendayung perahunya mengikuti labi-labi itu. Setelah sampai di pinggir pantai pulau itu, perahu itu berhenti karena airnya dangkal, sementara labi-labi itu terus merayap naik, lalu naik ke pantai bersama Ah Feng.

Dari kejauhan, samar-samar Ah Feng melihat sehamparan merah muda di padang pasir, dan ketika melihat lebih dekat, ternyata sesosok wanita yang cantik yang diam tak bergerak.

Ah Feng segera menghampiri wanita itu, tak lama kemudian ia siuman. Wanita itu mengaku bernama Li Niang. Kemarin, dia naik perahu ke hulu bersama keluarganya, malamnya dia ke geladak, tetapi tiba-tiba jatuh ke air dan terjebak di sini.

Ah Feng merasa labi-labi itu sengaja menuntunnya ke sana demi wanita itu, dan ketika menoleh ke belakang, dia terkejut, labi-labi itu telah raib entah kemana.

Ah Feng membawa Li Niang pulang ke rumah, dan dia baru tahu ternyata telah terjadi sesuatu di desanya saat pak Sun melepas makhluk hidup.

Pada saat itu, permukaan air tiba-tiba bergulung-gulung oleh gelombang dahsyat, dan terdengar deru gemuruh seperti halilintar yang menggelegar.

Menurut penduduk desa, pak Sun melepaskan makhluk hidup demi gengsinya sebagai sosok orang terpandang, sementara para nelayan menangkap ikan secara sewenang-wenang demi meraup keuntungan sesaat, sehingga secara serius merusak keseimbangan ekosistem laut.

Saat kejadian, gelombang dahsyat menjungkir-balikkan perahu para nelayan dan beberapa orang meninggal. Di antaranya adalah pak Sun dan Ah Niu.

Mendengar cerita itu, Ah Feng berpikir bahwa kejadian itu mungkin ada hubungannya dengan labi-labi tua itu, dan dia merasa bersyukur telah melepaskan makhluk yang melambangkan panjang umur itu.

Beberapa hari kemudian, keluarga Li Niang yang tengah mencari tahu keberadaan putrinya sampai di desa tempat tinggal Ah Feng.

Keluarga Li Niang merasa sangat bahagia mengetahui putrinya sehat dan baik-baik saja setelah diselamatkan oleh Ah Feng.

Melihat Ah Feng sosok orang yang baik hati dan dapat dipercaya, keluarga Li Niang kemudian menikahkan putrinya dengan Ah Feng dan sejak itu mereka sekeluarga hidup dalam kebahagiaan.

Begitulah hidup, setiap perbuatan baik dan tulus itu pasti ada balasannya, dan tak disangka berkah balasan itu datangnya begitu cepat !(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular