Erabaru.net. Seorang netizen wanita dari Dcard (Situs komunitas online di Taiwan) mengumumkan di jejaring sosial, bahwa meskipun dia memiliki kakak laki-laki yang “unik”, tapi dia tetap sangat mencintainya!

Suatu malam di tengah hujan gerimis, dia ingin menemui kakak laki-lakinya yang sudah lama tak dilihatnya, dan tak disangka ayahnya bilang akan pergi bersamanya!

Ketika dia dan ayahnya menemui kakaknya yang bekerja di supermarket, dia dan ayahnya pun tak bisa menahan linangan air mata kesedihan…

Meskipun teman-teman dan tetangga dekat tidak memahami keluarga mereka, tapi mereka tetap mendukungnya secara diam-diam dan menjadi kekuatannya! Cinta kasih keluarga memang benar-benar dahsyat dalam memberi kekuatan!

Setelah menyimak artikel ini, jangan lupa peluklah keluarga Anda saat pulang ke rumah.

Ilustrasi. (Internet)

Kakak laki-laki saya adalah seorang anak yang baik dan taat sejak kecil, wajahnya bersih dan manis saat tersenyum! Dia adalah putra sulung dalam keluarga dan sangat dimanja.

Harapan keluarga kepadanya sangat tinggi, dan dia juga tidak mengecewakan. Prestasi akademiknya sangat mengagumkan dan diterima di sekolah yang bergengsi. Ketika semua orang sedang membayangkan masa depannya yang cerah…semuanya pun berubah.

Keluarga saya tinggal di daerah pedesaan. Ayah dan ibu tidak habis mengerti dengan keputusannya. Suasana dalam keluarga pun menjadi berubah.

Ayah tidak lagi peduli, dan ibu yang selalu tertekan mengecam kakakku habis-habisan.

“Jika kamu bersikeras seperti itu! Maka kamu benar-benar tidak tertolong lagi!”

“Kamu akan rentan terkena AIDS kalau seperti itu!”bentak ibu pada kakak sambil memukulnya dengan sapu, kakakku diam saja sambil menundukkan kepalanya.

“Pergi saja kamu! Jangan pernah kembali lagi!” Bentak ibu dengan lantang. Saat itu, saya melihat kakak mengambil jaket dan dompetnya lalu keluar. Saya bertemu kakak lagi lebih dari setahun kemudian sejak dia diusir dari rumah.

Selama setahun saat meninggalkan rumah, dan meski hati ibu sekeras batu, tapi ia sering meneteskan air mata di tengah malam sambil membayangkan kakak yang telah pergi.

Di era ketika belum ada smartphone, komputer atau internet yang belum berkembang maju saat itu, mencari seseorang bagaikan jarum dalam tumpukan jerami, sangatlah sulit untuk mencari tahu keberadaan kakak.

Ilustrasi. (Internet)

Sementara itu, untuk mencari tahu keberadaannya, diam-diam saya memasang pengumuman pemberitahuan tentang orang hilang. Dan, sampai suatu hari saya menemukannya bekerja di suatu gerai 7-11 di Taipei City.

Masih hangat dalam benak saya, hari itu cuaca sangat dingin, dan di luar hujan gerimis, saya dan ayah pergi ke gerai 7-11 tempat kerja kakak, tapi kami hanya memandangnya dari kejauhan.

“Kamu saja yang menemui kakakmu! Ayah takut kakakmu akan lari kalau melihat ayah” kata ayah dengan sedih.

Bagaimana pun kakak masih terlalu belia di usianya yang ke -16 tahun, apalagi kondisi ekonomi keluarga juga lumayan makmur, meski tidak kaya, seharusnya dia menikmati masa-masa remajanya.

“Ya, ayah,”sahutku sambil membuka pintu mobil dan berjalan ke gerai 7-11 dengan perasaan tidak menentu.

“Selamat datang!” Sambut kakakku ramah saat saya masuk ke dalam.

Kami saling memandang dan kakakku yang sedang sibuk seketika menghentikan pekerjaannya, waktu seakan berhenti pada detik itu.

Ilustrasi. (Internet)

“Kak,” panggilku dengan bibir bergetar dan air mataku pun berlinang tanpa mampu kutahan.

Begitu juga dengan kakakku, tapi dia berusaha tersenyum dan berkata

“Lama tak bertemu!” katanya tersendat.

Kami mengobrol sebentar. Setelah tahu keadaannya baik-baik saja dan tempat tinggalnya, aku dan ayahku pun pulang.

Tentu saja, sikap ibu dan ayah menjadi lembut terhadap kakak saat ia pulang ke rumah, namun, karena masalah kakak yang pergi meninggalkan rumah masih terbayang, kakek dan nenek pun selalu menggerutu di mana-mana.

Semua saudara dan tetangga tahu bahwa kakakku adalah seorang gay, lalu tersebarlah desas-desus di mana-mana.

Kakek dan nenek pun tak tahan mendengar gosip seperti itu, sikap mereka menjadi dingin pada kakak dan semakin terasing, tidak lagi seperti dulu yang sangat memanjakan kakak.

Meski dibayangi gosip yang menekan perasaannya, kakak berusaha menamatkan sekolah menengahnya, kemudian pindah ke kota melanjutkan kuliahnya, sementara saya sendiri juga telah pergi.

Sampai sekarang, keluarga kami masih hidup dalam gosip kerabat dan tetangga dekat, kata-kata yang sangat menusuk perasaan dan wajah-wajah yang tampak menjijikkan itu.

Saya pribadi bisa mengerti pandangan mereka yang tidak dapat menerima kakak saya seorang gay, tetapi saya tidak dapat menerima serangan-serangan jahat seperti itu.

Sah-sah saja Anda tidak bisa menerima seorang gay, tetapi tidak berarti homo itu salah.

Ilustrasi. (Internet)

Anda boleh saja menentang homo, tetapi Anda juga harus memberi mereka rasa hormat pada mereka.

Saya masih ingat, ibu membutuhkan banyak waktu untuk bisa menerima kakak, dan akhirnya pada suatu malam.

“Aku pikir… “kakakku sendiri juga sangat sulit untuk menempuh jalan itu.”

“Jika aku tidak mendukungnya lagi, perjalanannya akan menjadi lebih keras.”

Dan masih ingat dalam bayangan saya ekspresi ibu ketika itu, dan itu adalah wujud kasih sayang yang dalam dari seorang ibu kepada putranya, dia menerimanya karena cinta, dan karena cinta jua dia menghormati pilihan anaknya.

Begitu juga denganku yang selalu menyayangi kakakku, meski dia sangat berbeda di mata orang lain.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular