oleh Wu Ying

Sebuah perusahaan keamanan di London, Inggris mengatakan bahwa aplikasi ramalan cuaca (APP) yang dibuat oleh sebuah perusahaan teknologi Tiongkok telah mengumpulkan sejumlah besar data pengguna ponsel pintar di seluruh dunia. Selain itu juga digunakan untuk memesan beberapa layanan berbayar tanpa izin pengguna.

Aplikasi ramalan cuaca Weather Forecast—World Weather Accurate Radar yang dibuat oleh TCL Communication Technology Holdings Ltd. di Shenzhen, Tiongkok adalah salah satu aplikasi unduh gratis paling populer di Google Play store. TCL memproduksi smartphone Alcatel,  Blackberry, televisi dan produk lainnya.

Hingga bulan lalu, aplikasi TCL juga dikenal sebagai prakiraan cuaca sederhana (Weather-Simple weather forecast).

Wall Street Journal melaporkan bahwa sebuah survei perusahaan perdagangan dan keamanan seluler London, Upstream Systems menemukan, server TCL Tiongkok mengumpulkan sejumlah besar data pengguna ponsel pintar melalui aplikasi cuacanya, termasuk lokasi pengguna smartphone, email. Alamat dan 15 digit International Mobile Equipment Identity (IMEI) untuk setiap handset.

Ketika dikonfirmasi oleh Wall Street Journal , Juru bicara TCL tidak menanggapi pertanyaan tentang hasil survei.

Menurut data Upstream Systems, aplikasi prakiraan cuaca TCL telah digunakan oleh smartphone Alcatel yang murah untuk secara diam-diam memesan layanan realitas virtual (virtual-reality services), sekitar 100.000 orang pengguna Alcatel di negara-negara seperti Brasil, Malaysia dan Nigeria terganggu. Upstream Systems menyatakan bahwa jika tindakan berlangganan ini tidak berhasil diblokir, dana pengguna ini akan dikuras total lebih dari USD. 1,5 juta.

Upstream Systems juga menunjukkan bahwa TCL telah memperbarui aplikasinya di Google Play Store setelah masalahnya terungkap pada bulan Nopember tahun lalu. TCL kemudian menghentikan pemesanan layanan berbayar melalui ponsel pengguna. Namun, tindakan mengumpulkan data pengguna belum dihentikan.

Banyak aplikasi smartphone populer dapat dipakai untuk mengumpulkan berbagai data, dan aplikasi cuaca seringkali mengharuskan pengguna untuk memberikan data lokasinya agar dapat menerima informasi cuaca.

Namun, Michael Covington, wakil presiden strategi produk di Wandera, sebuah perusahaan keamanan seluler San Francisco kepada Wall Street Journal mengatakan bahwa aplikasi cuaca TCL mengharuskan pengguna untuk memberikan data yang tidak biasa, seperti kode IMEI dan alamat email.

“Saya tidak akan menginstal aplikasi itu,” kata Covington. “Ketika aplikasi yang ramah pengguna ini mengumpulkan informasi pengenal khusus, itu patut diragukan (tujuannya),” tambahnya.

Dimitris Maniatis, kepala keamanan di Upstream Systems mengatakan, semua kegiatan dilakukan di belakang layar sehingga pengguna tidak memiliki kesempatan untuk melihat pesan peringatan.

Wandera juga menemukan bahwa aplikasi TCL menyesatkan pengguna untuk berpikir bahwa dengan menekan tombol dalam aplikasi dapat menghapus data yang dikumpulkan dan menekan tombol lain untuk mencegah pengumpulan data di masa mendatang. Namun demikian, aplikasi tersebut sebenarnya tidak memiliki fitur ini sama sekali.

Menurut analisis App Annie, perusahaan aplikasi seluler, bahwa TCL telah memperoleh lebih dari 10 juta unduhan sejak aplikasinya diluncurkan pada bulan Desember 2016, dan  menjadikannya salah satu dari lima aplikasi cuaca yang berada diperingkat atas di sekitar 30 negara.

App Annie mengatakan bahwa pada tahun 2018, aplikasi cuaca TCL adalah program keenam paling populer di Inggris dan Kanada, kemudian pada tahun 2017 aplikasi tersebut merupakan  salah satu dari 20 aplikasi paling populer di AS. Ia juga cukup populer di negara-negara seperti Brasil, Meksiko dan Filipina.

Aplikasi cuaca TCL dirancang untuk ponsel cerdas di sistem operasi Google Android, dan tidak ada versi untuk iPhone iOS Apple.

Juru bicara Google mengatakan bahwa perusahaan tersebut tidak mengomentari aplikasi pribadi.

Toko aplikasi Google pada bulan Desember tahun lalu telah menangguhkan dua aplikasi dari perusahaan Tiongkok karena tuduhan bahwa mereka mungkin digunakan untuk penipuan iklan.

Analis mengatakan pengguna di pasar negara berkembang sangat rentan terhadap pengumpulan data karena mereka umumnya baru pertama kali menggunakan smartphone, dan sebagian besar negara berkembang belum memiliki peraturan privasi yang baik. (sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds