Erabaru.net. Suatu malam, tampak seorang pria dan Buddha di sebuah kuil! Sayup-sayup dari kejauhan terdengar dialog mereka…..

Ilustrasi. (Internet)

Pria : “Buddha yang welas asih, saya seseorang yang sudah menikah, tapi sekarang saya sedang jatuh cinta pada wanita lain. Saya bingung apa yang sebaiknya saya lakukan sekarang?”

Buddha: “Kamu yakin wanita yang kamu cintai sekarag adalah satu-satunya wanita terakhir dalam hidupmu ?”

Pria : “Ya, saya yakin.”

Buddha: “Kalau begitu segera ceraikan istrimu, lalu nikahi dia.”

Pria : “Tetapi istri saya sekarang sangat lembut, baik hati, dan berbudi luhur. Apakah saya masih bermoral dan tidak keterlaluan kalau saya menceraikannya lalu menikahi wanita lain?”

Buddha: “Pernikahan yang tidak ada dasar cinta itu barulah penderitaan dan tak bermoral. Kalau sekarang kamu mencintai wanita lain dan tidak mencintai istrimu lagi, maka bercerai adalah pilihan yang tepat.”

Ilustrasi. (Internet)

Pria : “Tapi istri saya sangat mencintaiku dan cintanya sangat dalam kepadaku.

Buddha: “Kalau begitu dia sangat beruntung.”

Pria : “Kalau saya menceraikannya dan menikahi wanita lain, seharusnya dia akan sangat sedih, tapi kenapa Engkau bilang dia wanita yang beruntung?”

Buddha: “Karena dia masih memiliki cinta terhadapmu. Sementara kamu telah kehilangan rasa cinta terhadapnya. Sebenarnya, seseorang yang masih memiliki cinta itu barulah kebahagiaan, sebaliknya adalah penderitaan, jadi dalam hal ini kamulah yang menderita.”

Ilustrasi. (Internet)

Pria : “Tapi kalau saya menceraikannya dan menikah dengan wanita lain, seharusnya dialah yang kehilangan saya.”

Buddha: “Kamu salah. Kamu hanyalah perwujudan nyata dari cinta sejati dalam pernikahannya. Ketika wujud itu hilang, maka cinta sejatinya akan berlanjut ke wujud orang lain, karena cinta sejati dalam pernikahannya tidak pernah hilang. Karena itu, dialah yang bahagia, sementara kamu yang mengalami penderitaan itu.”

Pria : “Dia pernah berkata hanya mencintai saya seorang dalam hidupnya, dia tidak akan jatuh cinta dengan orang lain.”

Buddha: “Apakah kamu pernah mengatakan itu kepadanya ?”

Pria : “Saya… Saya…Saya…”

Buddha: “Coba kamu perhatikan 3 lilin yang ada di depanmu itu, lilin mana yang paling terang?”

Pria : “Saya tidak bisa membedakannya, sepertinya sama terangnya.”

Ilustrasi. (Internet)

Buddha: “Ketiga lilin itu ibarat 3 orang wanita, salah satu di antaranya adalah wanita yang kamu cintai sekarang, tapi kamu tidak bisa membedakannya. Ada banyak wanita di dunia ini, tapi kamu tidak bisa membedakan mana yang paling terang di antara ketiga lilin itu, jadi bagaimana mungkin kamu bisa memastikan siapa wanita terakhir dan satu-satunya yang kamu cintai dalam seumur hidupmu itu ?”

Pria : “Saya…saya….saya …”

Buddha: “Sekarang, coba ambil salah satu lilin dan taruh di depan matamu, coba lihat lagi lebih cermat, lilin mana yang tampak paling terang? Sekarang letakkan lilin di depan mata Anda, lihatlah dengan hati Anda, itu adalah yang paling terang.”

Pria : “Sudah pasti lilin di depan mataku ini.”

Buddha: “Sekarang kembalikan lilin itu ke tempatnya, dan lihat lagi mana yang paling terang?”

Ilustrasi. (Internet)

Pria : “Saya tidak bisa membedakannya lagi mana yang paling terang.”

Buddha: “Sebenarnya, lilin yang kamu pegang tadi ibarat wanita yang kamu cintai sekarang, itu yang disebut dengan cinta yang lahir dari dalam hati. Prinsipnya sama seperti lilin yang kamu letakkan di depan matamu tadi, matamu menjadi terang oleh kekeliruan pandanganmu ketika kamu merasa mencintainya.

“Tapi, ketika kamu meletakkannya kembali, kamu tidak akan bisa membedakannya lagi mana yang paling terang. Jadi yang disebut cinta terakhir dan satu-satunya itu sebenarnya tidak ada. Bagaimanapun, itu seperti purnama dalam cermin, tak lebih dari sebuah ilusi dan tidak nyata.”

Pria : “Oh, saya paham sekarang. Engkau tidak bermaksud meminta saya untuk menceraikan istri saya, Engkau hanya memberi pencerahan pada saya.”

Buddha: “Jika kamu sudah mengerti, kembalilah ke pelukan istrimu.”

Pria : “Detik itu juga, saya baru benar-benar tahu siapa yang seharusnya saya cintai. Dia adalah istri saya.”

Buddha: “Amitabha, Amitabha…”

Ilustrasi. (Internet)

Dalam sepanjang hidup seseorang:

Tidak ada kesuksesan terbesar daripada keberhasilan dalam perkawinan;
Tidak ada kebahagiaan terbesar selain daripada kebahagiaan keluarga;
Tidak ada kasih sayang yang paling mulia daripada cinta kasih suami-istri;
Dan tidak ada komunikasi terpenting daripada komunikasi antara suami-istri;

Pemahaman yang paling penting:
Adalah pengertian antara suami-istri;
Toleransi yang paling berharga adalah toleransi antara suami-istri;
Perhatian yang paling penting kepedulian dan perhatian suami-istri.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds