Delegasi AS tiba di Beijing pada 7 Januari untuk melakukan negosiasi perdagangan secara langsung dengan rekan-rekan Tiongkok mereka.

Dari pihak AS dipimpin oleh Wakil dari Perwakilan Perdagangan AS Jeffrey Gerrish, bersama pejabat senior dari Gedung Putih dan departemen Pertanian, Perdagangan, Energi, Negara, dan Departemen Keuangan AS bergabung dengannya.

Ini adalah pertama kalinya pejabat AS melakukan pembicaraan tatap muka sejak Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping menyetujui penangguhan sementara perang dagang selama 90 hari untuk tidak meningkatkan tarif barang-barang dari kedua negara.

Pada 4 Januari, Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa ia optimis tentang perundingan tersebut.

“Saya pikir kita akan membuat kesepakatan dengan Tiongkok. Saya benar-benar berpikir mereka menginginkan,” katanya.

Trump juga mengatakan bahwa menurutnya Amerika Serikat lebih unggul karena ekonomi Tiongkok mengalami penurunan yang parah.

Xiang Songzuo, seorang ekonom di Universitas Renmin Tiongkok, telah menyampaikan pidato pada 16 Desember 2018, di mana ia mengutip laporan yang menyimpulkan bahwa pertumbuhan PDB Tiongkok sangat rendah, atau bahkan menyusut.

Media yang dikelola pemerintah Tiongkok juga tampak optimis tentang perundingan tersebut, meskipun mereka terus-menerus menolak klaim-klaim tentang pencurian kekayaan intelektual AS yang meluas.

Satu editorial Global Times, pada 5 Januari, terbaca: “Selama rangkaian kata ‘Tiongkok’ dan ‘mencuri [teknologi]’ disatukan, Washington dapat menemukan solusi untuk masalah-masalah tersebut dan kecurigaan-kecurigaan yang mereka hadapi. Sikap membuat analisi sederhana dan kasar semacam ini tidak hanya mengabaikan tanggung jawab, tetapi juga membuat keributan tentang sesuatu yang tidak memiliki nilai sama sekali.”

Selebihnya dari artikel tersebut menganalisis penurunan Apple yang baru-baru ini telah mengumumkan perkiraan penjualannya, menjelaskan bahwa berita buruk itu menjadi pertanda negatif bagi Amerika Serikat.

Sebuah artikel opini yang dimuat di CGTN, saluran internasional dari siaran pemerintah Tiongkok, pada 6 Januari menyatakan harapan untuk hasil nyata selama perundingan tersebut.

“Tidak seperti perundingan sebelumnya, ada harapan besar bahwa putaran perundingan ini akan mengakhiri perang dagang,” Kong Qingjiang, seorang ahli hukum internasional di Universitas Ilmu Politik dan Hukum, Universitas Tiongkok, menulis.

Artikel tersebut mengklaim bahwa perang dagang tersebut telah memengaruhi hasil pemilu paruh waktu AS tahun 2018, menggemakan taktik propaganda oleh Beijing bahwa tarif-tarif perdagangan telah memengaruhi bisnis bagi para petani di negara-negara pedalaman AS yang memilih Trump selama pemilihan presiden. Menjelang pemilu paruh waktu, Beijing berusaha untuk mempengaruhi para pemilih di negara-negara tersebut dengan menerbitkan iklan yang menggambarkan tarif perdagangan AS secara negatif di sebuah surat kabar utama di Iowa.

Kong menambahkan bahwa jika perang dagang berlanjut, itu bisa berdampak negatif pada pencalonan Trump untuk terpilih kembali pada tahun 2020.

“Untuk memastikan bahwa ‘kemenangannya’ di Buenos Aires tidak berumur pendek, Donald Trump ingin sekali melihat perjanjian atau semacam perjanjian baik untuk mengakhiri perang perdagangan atau untuk menunjukkan hasil yang substansial, sehingga mencetak poin untuk kampanye presiden mendatang,” tulis Kong.

Dia juga menyatakan sikap rezim Tiongkok bahwa Tiongkok telah membuat isyarat besar “niat baik,” mengutip rancangan undang-undang investasi asing yang mengusulkan larangan transfer teknologi paksa dan campur tangan pemerintah Tiongkok dalam operasi-operasi bisnis asing.

Namun analis politik yang berbasis di AS, Qin Peng berpendapat bahwa tindakan-tindakan tersebut lebih banyak simbolisnya daripada komitmen sejati untuk reformasi nyata.

“Misalnya, dengan [mulai kembali] membeli kedelai AS, itu karena Tiongkok tidak punya pilihan selain membeli. Dunia hanya memiliki dua pemasok kedelai utama [Brasil salah satunya]. Tentu saja, dalam dua tahun terakhir perundingan perdagangan, Tiongkok juga telah menjanjikan banyak hal, tetapi secara fundamental belum memenuhi sejumlah besar dari yang dijanjikan,” kata Qin kepada NTD Television, dalam sebuah wawancara. NTD dan The Epoch Times adalah bagian dari Epoch Media Group.

Sementara itu, South China Morning Post melaporkan bahwa Wakil Pimpinan Tiongkok Wang Qishan mungkin bertemu dengan Trump di sela-sela Forum Ekonomi Dunia yang akan datang di Davos, Swiss, mengutip sumber anonim. (ran)

Ikuti Annie di Twitter: @annieeenyc

Rekomendasi video:

Tiongkok Resesi Ekonomi, Laporan yang Relevan Dikontrol Ketat

Share

Video Popular