Erabaru.net. Benarkah anak itu ditakdirkan untuk menagih hutang, jika tidak, kenapa bisanya hanya merongrong dan menumpang hidup pada orang tuanya ? Itulah sekelumit kepercayaan masyarakat Tionghua terkait reinkarnasi dan karma sebab-akibat.

Anaknya tidak hanya tahunya makan dan main game sepanjang hari, bahkan ayahnya yang khawatir dengan masa depannya itu sampai mengalami depresi. Akhirnya, kedua orangtuanya yang sudah tua itu pun terpaksa menuntut anak kandungnya sendiri ke pengadilan, mengusirnya dari rumah.

Anaknya yang pengangguran yang dituntut ke pengadilan oleh orangtua kandungnya itu adalah seorang lelaki berusia 37 tahun dari Tainan, Taiwan.

Sebelumnya, pria pengangguran itu hanya sempat bekerja selama setahun lebih, tapi setelah itu sebagian besar waktunya hanya luntang lantung di rumah alias makan tidur dan main game sepanjang hari.

Ilustrasi(Foto:Adobe Stock)

Dia terobsesi dengan game online setiap hari, karena itu jadi malas untuk mencari kerja. Dan lebih konyol lagi, bermain video game sepanjang malam, sampai tidak tidur 2, 3 hari, juga tak pernah mandi.

Bukan hanya itu, dia juga sengaja membuat kerusakan, menghancurkan piring, lemari/rak anggur (minuman), tirai jendela, dan hidupnya benar-benar “kacau”.

Ayahnya yang tak tahan dengan prilakunya itu kemudian membuat laporan terkait perintah perlindungan dari polisi, meski hanya berlaku maksimal satu tahun, tapi itu jauh lebih baik daripada hidup dalam ketidaktenangan setiap hari.

Ilustrasi.(Foto:Adobe Stock)

Namun, hari-hari yang tenang kedua orangtua itu tidak berlangsung lama, karena mereka tidak mampu membayar uang sewa tempat tinggal anaknya yang pengangguran, jadi mau tidak mau mereka membiarkannya pulang, dan berharap putranya yang merasa tersiksa tinggal di luar bisa segera sadar.

Tapi tak disangka, prilaku anaknya tetap saja tidak berubah setelah pulang, membuat ayahnya semakin sedih, hingga menderita depresi berat.

Karena tidak ingin putranya jatuh semakin dalam, kedua orangtuanya sekali lagi menahan kesedihannya, menuntut anaknya ke pengadilan dan mengusir putranya keluar dari rumah, agar dia dapat bangkit dari keterpurukan mengandalkan dirinya sendiri.

Ilustrasi(Foto:Adobe Stock)

Setelah memeriksa dengan teliti, dan atas pertimbangan pria pengangguran sudah dewasa, tetapi kecanduan game dan tidak menunjukkan perubahan positif, bahkan bersikap buruk terhadap orangtuanya. Jadi, berdasarkan pasal 1128 hukum sipil, hakim memutuskan pria itu harus pindah dari rumah orangtuanya. Namun, pria itu masih bisa mengajukan banding terhadap putusan terkait.

Ilustrsi. (Foto: Wikipedia)

Sementara itu, netizens memiliki pendapat berbeda terhadap masalah keluarga tersebut. Beberapa netizens mengatakan ada masalah dalam proses pendidikan anak : “Hal itu bisa dijadikan peringatan bagi para orangtua yang memiliki anak. Jika Anda sayang pada anak, janganlah memanjakannya, karena itu dapat mencelakainya! Biarkan anak Anda merasakan dan mengalami sendiri sekeras apa hidup itu tanpa sandaran dari orangtua.”

Beberapa netizen merasa bahwa sikap pria pengangguran itu tidak benar: “Banyak orang terlalu malas untuk kerja, kalau tidak mereka tidak akan memandang rendah pekerjaan tertentu.”

Salah satu pendapat netizen sangat konstruktif: “Pak Hakim, suruh dia kerja sosial saja, membangun koneksi dengan orang-orang.”

Ilustrasi. (Foto :Adobe Stock)

Saya sangat setuju dengan pandangan netizen tersebut, karena itu memungkinkan si pria pengangguran untuk membangun kembali rasa tanggung jawab dan integrasi ke dalam masyarakat, sehingga dapat secara efektif menyelesaikan masalah. Jika hanya mengusirnya dari rumah, hal itu justru malah akan menjadi beban sosial. Terlebih lagi, setiap orang harus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri !(jhn/yant)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds