oleh Gao Shan

Bumi itu hidup. Jauh di bawah kulitnya, darah kehidupannya, yakni besi cair, menggeliat di sekitar inti Bumi seperti denyut nadi. Elemen besi yang dapat bergerak ini menciptakan medan magnet yang memicu penampilan aurora dan menopang kehidupan kita.

Namun menurut jurnal ilmiah ‘Nature’, beberapa hal aneh sedang terjadi jauh di bawah permukaan Bumi. Di mana geomagnetik kutub utara Bumi sedang mengalami pergeseran yang abnormal, ia sedang bergerak dengan cepat dari Kanada menuju Siberia, Rusia. Para ahli geologi belum tahu mengapa bisa terjadi fenomena seperti ini.

‘Nature’ dalam laporannya menyebutkan : Geomagnetik kutub utara bergerak begitu cepat sehingga para ahli geomagnetism di seluruh dunia terpaksa mengambil respon yang langka.

Ilmuwan geomagnetik memutuskan untuk membuat pembaruan mendesak pada model geomagnetik dunia yang digunakan sebagai landasan sistem navigasi modern pada 30 Januari (Pekerjaan otoritas penerbangan AS terganggu akibat penutupan sebagian kantor lembaga pemerintah AS).

Model bidang geomagnetik ini merupakan bagian penting dari berbagai sistem geolokasi dan merupakan dasar dari platform navigasi dalam menentukan posisi.

Sistem ini meliputi sistem navigasi kapal yang berlayar di laut, peta untuk sistem pelacakan lokasi di smartphone yang kita gunakan dan banyak lagi.

Sebelumnya, model geomagnetik yang digunakan saat ini akan bisa bertahan hingga tahun 2020. Tetapi sekarang, karena geomagnetik kutub mulai bergerak cepat, sehingga model ini harus diperbaiki. Sebenarnya orang-orang telah menyadari hal ini pada tahun 2018.

Laporan dalam ‘Nature’ menyebutkan : Manusia telah menyadari bahwa metode navigasi dan penentuan posisi ini menjadi sangat tidak akurat karena sudah hampir melampaui batas toleransi bagi keamanan navigasi.

Pasang laut yang abnormal

Setiap tahun, ahli geofisika dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) dan British Geological Survey Inggris melakukan penelitian tentang perubahan medan magnet Bumi.

Ini diperlukan karena sama seperti pasang laut, zat besi cair yang menggeliat di inti Bumi pun tidak bergerak secara konsisten.

‘Nature’ dalam laporannya menyebutkan : Ambil contoh pada tahun 2016, beberapa medan magnet di kedalaman benua Amerika Selatan bagian utara dan Lautan Pasifik bagian timur mengalami pergerakan cepat yang sifatnya sementara. Misi Swarm dari Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil mendeteksi perubahan tersebut.

Sejak tahun 1831, gerakan geomagnetik kutub utara telah menjadi perhatian dan fokus penelitian. Pada awalnya, kecepatan pergerakannya adalah sekitar 15 kilometer per tahun. Namun, sejak pertengahan 1990-an, ia telah mempercepat gerakannya. Sekarang kecepatan pergerakannya adalah sekitar 55 kilometer per tahun.

Pada tahun 2001, geomagnetik kutub utara memasuki Samudra Arktik, pada tahun 2018 geomagnetik kutub utara telah melintasi garis tanggal internasional dan memasuki Belahan Bumi Timur. Saat ini, ia sedang bergerak ke arah Siberia, Rusia.

Hasil penelitian terbaru lainnya menunjukkan bahwa medan magnet bumi telah aktif selama sekitar 1.000 tahun.

Inti permasalahannya

Mengapa medan magnet bisa berubah begitu dramatis ? Alasannya masih belum diketahui.

‘Nature’ melaporkan : Seperti halnya pulsa geomagnetik yang terjadi pada tahun 2016, ini mungkin melibatkan gelombang ‘hidromagnetik’ yang dihasilkan di kedalaman inti Bumi. Gerakan cepat dari geomagnetik kutub utara mungkin berkaitan dengan semburan berkecepatan tinggi dari besi cair di bawah tanah Kanada. Aliran leleh yang mengalir cepat ini tampaknya sedang melemahkan medan magnet inti kereta bawah tanah Amerika Utara.

Phil Livermore dari Universitas Leeds di Inggris dalam Konferensi Persatuan Geofisika Amerika mengatakan : “Pergerakan geomagnetik kutub utara tampaknya dipengaruhi oleh dua medan magnet besar, satu di bawah tanah di Kanada dan satu di bawah tanah di Siberia”, “Medan magnet di Siberia yang memenangkan persaingan”

Seiring pemanasan global, akan makin banyak rute navigasi yang ke Rusia dan Kanada utara dibuka, yang juga berpotensi menimbulkan masalah fatal.

Arnaud Chuliat, ahli geofisika dari Universitas Colorado Boulder dan NOAA mengatakan : “Pergerakan cepat kutub membuat navigasi di daerah ini lebih rentan terhadap kesalahan fatal.” (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds