oleh Zhang Ting

Media Polandia pada Jumat (11 Januari) melaporkan bahwa pemerintah Polandia telah menangkap seorang warga Polandia pakar bisnis jaringan internet bersama seorang eksekutif penjualan perusahaan raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei. Keduanya diduga terlibat dalam kegiatan spionase untuk kepentingan Partai Komunis Tiongkok. Pihak berwenang Polandia telah menggeledah kantor lokal Huawei.

BBC melaporkan bahwa stasiun televisi publik Polandia TVP menyebutkan bahwa eksekutif senior Huawei yang ditangkap itu bernama Weijing W. Ia adalah manajer penjualan Huawei di Polandia. Sedangkan warga Polandia yang ditangkap dikonfirmasi bernama Piotr D.

Kejadian ini telah memperparah perhatian negara-negara Barat terhadap produsen peralatan telekomunikasi Tiongkok.

Reuters mengutip laporan TVP memberitakan bahwa Kementerian Keamanan Polandia pada hari Jumat telah melakukan penggeledahan terhadap kantor Huawei di Polandia dan kantor  operator telekomunikasi ‘Orange’ di Polandia.

Laporan TVP menyebutkan bahwa orang Polandia yang ditangkap itu adalah mantan agen keamanan Polandia. Agensi bersangkutan tidak segera menanggapi permintaan komentar dari TVP.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Badan Keamanan Nasional Polandia menangkap kedua pria itu pada pagi hari 8 Januari sesuai dengan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pencegahan Kejahatan Terorganisir Polandia. Keduanya dituduh melakukan spionase untuk kepentingan dinas intelijen Tiongkok.

(www.tvp.info)

Perusahaan ‘Orange’ dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa Badan Keamanan Polandia mengumpulkan materi yang terkait dengan seorang karyawan pada 8 Januari. Namun, pernyataan tidak mengungkapkan nama karyawan tersebut. Pernyataan juga mengatakan bahwa perusahaan tidak tahu apakah penyelidikan itu terkait dengan pekerjaan profesional karyawan tersebut, tetapi perusahaan akan terus bekerja sama dengan pihak berwenang untuk membantu mengungkap masalahnya.

BACA JUGA : Mengungkap Hubungan Antara Huawei dan Politik Faksi Rezim Komunis Tiongkok

Wall Street Journal mengutip laporan media pemerintah Polandia memberitakan bahwa Piotr D. juga bekerja untuk perusahaan Orange.

Menurut Reuters, Huawei dalam sebuah pernyataannya menyebutkan bahwa mereka sudah tahu tentang masalah ini. “Kami sedang mempelajarinya, sehingga belum bersedia memberikan komentar” tegasnya.

Maciej Wasik, Wakil Direktur Layanan Khusus Polandia mengatakan kepada kantor berita nasional Polandia PAP bahwa, warga Tiongkok itu bekerja untuk sebuah perusahaan telekomunikasi besar, dan warga Polandia tersebut namanya cukup tersohor di kalangan layanan jaringan internet.

Weijing W. Pernah bekerja di Kantor Konsulat Tiongkok

Menurut berita dari media Polandia, setelah lulus dari Universitas Peking jurusan bahasa asing Polandia, Weijing W. kemudian bekerja di kantor Konsulat Tiongkok di kota Gdansk, Polandia.

Weijing W. telah bekerja untuk Huawei sejak tahun 2011. Kemudian diangkat menjadi eksekutif Huawei di Poland pada tahun 2017 dan bertanggung jawab terhadap penjualan produk Huawei untuk sektor publik.

Wall Street Journal mengutip ucapan orang yang mengenal Weijin W. menyebutkan bahwa ia adalah tokoh yang cukup terkenal di komunitas bisnis lokal dan sering muncul dalam berbagai kegiatan yang disponsori oleh Huawei di Polandia. Dia mahir berbahasa Polandia.

BACA JUGA : Menyibak Tirai Kode Umum ‘F7’ yang Diduga Kode Nama untuk Huawei

BACA JUGA : Ketika Perangkat Teknologi Huawei Dikembangkan untuk Penganiayaan Terhadap Falun Gong

Wall Street Journal menemukan bahwa sebelum Weijing W. diangkat menjadi eksekutif di penjualan, ia memegang bagian hubungan masyarakat Huawei di Polandia.

Wakil Direktur Layanan Khusus Polandia Maciej Wasik mengatakan, sebagai mantan agen keamanan Polandia, ia memiliki akses ke informasi penting, termasuk sistem internal pemerintah yang memungkinkan informasi rahasia dikomunikasikan kepada orang-orang paling penting di negara itu.

Kantor Huawei di Warsawa, Polandia (NTD)

Maciej Wasik mengatakan, karena pihak berwenang sedang melakukan investigasi, kedua orang tersangka tersebut akan ditahan selama tiga bulan.

Sejumlah laporan media mengatakan bahwa jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman penjara hingga sepuluh tahun.

Sebelumnya, kepala petugas keuangan Huawei Meng Wanzhou ditangkap di Kanada pada 1 Desember 2018 dan sempat menarik perhatian masyarakat internasional.

Selama ini Badan intelijen AS terus menyebutkan bahwa ada hubungan yang dekat antara Huawei dengan pemerintah Tiongkok yang berarti bahwa peralatan yang diproduksi oleh perusahaan tersebut mungkin saja memiliki ‘pintu belakang’ yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk melakukan kegiatan spionase.

Komite Intelijen Dewan Perwakilan Amerika Serikat dalam laporan yang dikeluarkan pada tahun 2012 telah memperingatkan bahwa, Huawei menyediakan layanan jaringan internet khusus untuk agen perang cyber elit Partai Komunis Tiongkok. Peralatan Huawei dapat digunakan untuk memantau orang Amerika atau membuat jaringan telekomunikasi AS tidak bekerja secara stabil.

Badan intelijen Australia menemukan bahwa PKT meminta Huawei untuk menyerahkan informasi login pada peralatan jaringan yang mereka jual ke negara/orang lain.

Banyak negara menolak penggunaan layanan Huawei karena risiko keamanan

Peralatan dan layanan Huawei semakin menimbulkan kekhawatiran di banyak negara. Amerika Serikat pertama kali mengusulkan untuk melarang pemerintah membeli produk dan layanan dari produsen alat telekomunikasi Tiongkok ZTE dan Huawei.

BACA JUGA : Pengendalian Jaringan dan Sistem Informasi Adalah Hukum Keamanan Nasional Versi Komunis Tiongkok

Pada bulan Agustus tahun lalu, Australia secara resmi melarang Huawei dan ZTE memasuki proyek 5G negara itu dengan alasan keamanan nasional.

Bulan September lalu, ‘Economic Times of India’ melaporkan bahwa Kementerian Telekomunikasi India telah menolak kedua perusahaan komunikasi Tiongkok Huawei dan ZTE untuk ikut serta dalam percobaan dan kerja sama pada jaringan 5G India.

‘The Korea Times’ juga melaporkan bahwa SK Telecom, operator jaringan nirkabel terbesar di Korea Selatan pada 15 September tahun lalu mengumumkan bahwa mereka telah memilih Samsung Electronics, Ericsson dan Nokia sebagai perusahaan yang dipilih untuk memberikan penawaran atas peralatan 5G.

‘Nihon Keizai Shimbun’ pada 28 November tahun lalu telah memberitakan bahwa pemerintah Selandia Baru telah menolak rencana perusahaan domestik untuk mengadopsi teknologi 5G dari Huawei.

Pada 10 Desember tahun lalu, pemerintah Jepang secara resmi mengeluarkan produk-produk Huawei dan ZTE dari daftar pengadaan internal pemerintah. Sebelumnya, pemerintah Jepang membuka peralatan buatan Huawei dan menemukan ada ‘suku cadang’ yang dipasang berlebihan.

British Telecom, perusahaan telekomunikasi terbesar di Inggris memutuskan untuk mengeluarkan Huawei dari urusan jaringan 5G dan melepas semua peralatan Huawei dari jaringan seluler 4G perusahaan.

Pemerintah Prancis sedang melakukan revisi undang-undang dan peraturan pengawasan untuk menggeser Huawei dari beberapa proyek infrastruktur negara tersebut.

Stephane Richard, CEO perusahaan Orange, sebuah operator telekomunikasi terbesar Prancis pada 15 Desember tahun lalu mengatakan bahwa perusahaan tidak akan menggunakan peralatan Huawei untuk jaringan 5G-nya karena pihak berwenang Prancis menuntut kehati-hatian.

Huawei kini menghadapi rintangan yang cukup berat di Jerman. Deutsche Telekom, perusahaan telekomunikasi terbesar di Eropa baru-baru ini mengatakan bahwa perusahaanya  sedang meninjau ulang mengenai strategi pemasokan produk untuk jaringan yang dioperasikan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds