Berlin – Amerika Serikat memperingatkan perusahaan-perusahaan Jerman yang terlibat dalam proyek infrastruktur pipa gas Nord Stream 2 yang dipimpin Rusia. Amerika menegaskan bahwa mereka dapat menghadapi sanksi (ekonomi) jika mereka tetap terlibat dalam proyek tersebut.

Presiden AS Donald Trump menuduh Jerman sebagai ‘tawanan’ Moskow karena ketergantungannya pada energi Rusia. Trump mendesak Berlin untuk menghentikan pekerjaan pada pipa gas senilai $ 11 miliar (sekitar 155 triliun rupiah).

Pipa, yang akan membawa gas langsung dari Rusia ke Jerman di bawah Laut Baltik, juga telah dikritik oleh beberapa pihak. Sebab, infrastruktur itu akan menghilangkan Ukraina dari penghasilan biaya transit gas yang menguntungkan, serta berpotensi membuat Kiev lebih rentan di masa depan.

Duta Besar AS untuk Jerman, Richard Grenell membahas masalah ini dalam sebuah surat yang dikirim ke beberapa perusahaan, Kedutaan Besar AS mengatakan 13 Januari 2019. Jubir Kedubes AS juga mengatakan bahwa negara-negara Eropa lainnya juga menentang pipa yang direncanakan.

“Surat itu mengingatkan bahwa perusahaan mana pun yang beroperasi di sektor pipa ekspor energi Rusia dalam bahaya di bawah CAATSA sanksi AS,” kata jurubicara kedutaan itu.

Jerman dan sekutu Eropa mengatakan Washington akan menggunakan Undang-Undang Sanksi Kontra bagi Lawan-Lawan Amerika (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act/CAATSA) untuk ikut campur dalam kebijakan luar negeri dan energi mereka.

Raksasa gas Rusia, Gazprom melaksanakan proyek tersebut bersama dengan mitra Barat Uniper, Wintershall, Engie, OMV, dan Shell.

Surat itu membuat pemerintahan Kanselir Angela Merkel, semakin ‘mengerutkan kening’. Seorang diplomat Jerman mengatakan pendekatan duta besar tidak mengikuti praktik diplomatik umum dan bahwa Berlin akan membahas masalah ini dalam pembicaraan langsung dengan para pejabat di Washington.

Tidak ada komentar pada 13 Januari 2019, dari perusahaan Jerman yang terlibat dalam proyek ini. Seorang juru bicara Uniper menolak berkomentar dan Wintershall belum menanggapi permintaan konfirmasi.

Jerman dan Rusia telah berselisih sejak Moskow mencaplok Crimea dari Ukraina pada tahun 2014. Namun, keduanya memiliki kepentingan bersama dalam proyek Nord Stream 2, yang diharapkan akan menggandakan kapasitas rute ‘Nord Stream 1’ yang ada.

“Surat itu dikoordinasikan di Washington oleh beberapa lembaga pemerintah AS dan tidak dimaksudkan sebagai ancaman tetapi pesan yang jelas dari kebijakan AS,” tambah juru bicara itu.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada 10 Januari mengatakan bahwa sanksi AS terhadap ‘Nord Stream 2’ akan menjadi cara yang salah untuk menyelesaikan perselisihan. Dia menambahkan bahwa pertanyaan kebijakan energi Eropa harus diputuskan di Eropa, bukan di Amerika Serikat. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular