Erabaru.net. Beberapa hari yang lalu, jejaring sosial “Sunshine Social Welfare Foundation – Facebook berbagi sebuah kisah yang menghangatkan kalbu. Seorang pria yang menderita kanker setiap hari mulai bekerja sebelum Matahari terbit dengan penghasilan yang tidak seberapa, semua itu dilakukannya hanya untuk merawat isterinya yang nyaris tidak bisa melihat lagi.

Pria yang berusia 64 tahun itu memiliki seorang anak laki-laki yang meninggal karena kanker lidah. Belum juga sirna duka atas kepergian anaknya, tak disangka pria itu juga didagnosis menderita kanker mulut dua tahun lalu. Proses kemoterapi membuat tubuhnya sangat lemah dan mempengaruhi kemampuannya dalam menelan makanan serta gangguan bicara pasca operasi.

Dia pernah pingsan dalam perjalanan ke rumah sakit, dan momok penyakit itu membuatnya ingin berhenti menjalani pengobatan. Namun, ketika dokter bertanya kepadanya, :“Apakah kamu ingin istrimu meninggal di hari yang sama denganmu ?” Seketika membuatnya sadar, bahwa dia masih memiliki seorang istri buta yang membutuhkannya.

(Foto: Sunshine Social Welfare Foundation-facebook)

Mereka lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama, mereka berdua saling mengenal di sekolah kejuruan, dan jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian mereka berjanji untuk membangun mahligai rumah tangga.

Keduanya telah berjalan seiring selama lebih dari 40 tahun, dan pria itu tidak ingin meninggalkan istrinya, walaupun kanker menderanya. Jadi, dia bangkit kembali untuk menjadi sandaran istrinya seumur hidup.

(Foto : Sunshine Social Welfare Foundation – Facebook)

Pria yang hampir tidak bisa menelan makanan ini, terpaksa makan makanan cair, minum susu yang diseduh istrinya setiap hari jam 04:30, kemudian berangkat kerja sambil membawa beberapa botol minuman nutrisi, mencari uang untuk biaya hidup mereka berdua dan pengobatan medisnya.

Dia harus mengangkut baja dari Tainan ke Pelabuhan Kaohsiung. Setiap saat sebelum berangkat, dia harus mengangkut kain kanvas seberat 50 kilogram untuk menutupi baja. Dia hanya mendapatkan upah 470 NTD ( sekitar Rp211 ribu) untuk sekali perjalanan pulang – pergi

(Foto: Sunshine Social Welfare Foundation-facebook)

“Saya tak tahan untuk tidak meneteskan air mata saat secara samar-samar melihat bayangannya yang sedikit membungkuk ketika pulang kerja dan berjalan masuk ke rumah,” kata istrinya.

Istrinya sebelah matanya memang buta total, dan hanya satu yang bisa melihat cahaya redup.

Oleh karena itu, pandangannya juga hanya berupa insting, dia sangat sedih karena suaminya harus banting tulang dengan susah payah setiap hari untuk menafkahi keluarga.

(Foto: Sunshine Social Welfare Foundation-facebook)

Pria yang sangat perhatian itu selalu tak lupa menaruh roti dan biscuit di samping tempat tidur setiap kali sebelum berangkat kerja, agar istrinya bisa mengisi perut saat gula darahnya turun.

Di sisi lain, istrinya selalu merasa ketakutan ketika mendengar berita tentang kecelakaan lalu lintas di TV.

(Foto :Sunshine Social Welfare Foundation-facebook)

Istrinya harus menjalani proses cuci ginjal, ia pernah dilarikan ke ruang gawat darurat ketika tekanan darahnya melonjak saat proses cuci ginjal.

Karena itu, pria tersebut meminta bantuan staf medis untuk segera menghubunginya saat terjadi keadaan darurat pada istrinya.

(Foto: Sunshine Social Welfare Foundation-facebook)

Pasangan tua yang saling menopang sampai senja ini tidak punya foto pernikahan karena miskin saat mereka menikah kala itu.

Dan pria itu hanya tersenyum ketika ditanya apakah ingin membuat foto pernikahan, “Sekarang kami hanya ingin mengisi sisa hidup kami bersama sampai tiba saatnya,” katanya pelan.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular