oleh Su Jinghao

The Wall Street Journal mengutip ungkapan dari sumber yang akrab dengan permasalahan memberitakan bahwa jaksa federal AS sedang melakukan penyelidikan kasus kriminal yang dilakukan Huawei Technologies Tiongkok. Tuntutan ini karena Huawei diduga mencuri rahasia dagang perusahaan AS. Termasuk rahasia teknis robot T-Mobile USA yang digunakan untuk menguji smartphone.

Menurut sumber tersebut, bagian dari alasan penyelidikan adalah karena dari gugatan perdata perusahaan AS terhadap Huawei, termasuk juri Seattle yang menentukan bahwa Huawei bertanggung jawab atas pencurian robot di laboratorium Bellevue T-Mobile di Washington, DC.

Sumber menyebutkan bahwa penyelidikan sedang dalam tahap akhir dan akan segera mengarah ke penuntutan.

Juru bicara Kementerian Kehakiman menolak memberikan komentar.

Juru bicara Huawei menolak berkomentar. Meskipun Huawei keberatan dengan tuduhan T-Mobile, tetapi mengakui bahwa kedua karyawan mereka melakukan pelanggaran.

Investigasi kriminal oleh otoritas federal telah memberikan tekanan lebih lanjut pada Huawei. Ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah Trump untuk memerangi pencurian kekayaan intelektual dan transfer teknologi wajib oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Huawei diduga mencuri teknologi robot T-Mobile

Sumber mengungkapkan bahwa penyelidikan federal baru terhadap Huawei melibatkan tuntutan hukum perdata T-Mobile pada tahun 2014.

Operator telekomunikasi T-Mobile USA pada saat itu menyebutkan bahwa Huawei telah mencuri perangkat lunak, parameter teknis dan informasi rahasia lainnya dari robot uji ponsel yang diberi nama Tappy.

Gugatan itu menuduh bahwa pada saat itu, Huawei menyediakan ponsel untuk T-Mobil. T-Mobile telah mengembangkan robot uji yang disebut “Tappy” untuk melakukan tes kontrol kualitas pada ponsel yang dijualnya.

Gugatan T-Mobile menunjukkan bahwa selama hubungan bisnis dengan Huawei, karyawan Huawei mengajukan pertanyaan terperinci tentang robot dan berulang kali mencari informasi tentang teknologi hak milik.

Dari dokumen gugatan diketahui bahwa dalam satu kasus, 2 orang karyawan Huawei membawa karyawan ketiga ke laboratorium pengujian dan mengambil foto robot “Tappy” tanpa izin.

BACA JUGA : Mengungkap Hubungan Antara Huawei dan Politik Faksi Rezim Komunis Tiongkok

BACA JUGA : Menyibak Tirai Kode Umum ‘F7’ yang Diduga Kode Nama untuk Huawei

Seorang karyawannya mencoba untuk menyembunyikan komponen robot di belakang monitor komputer agar terhindar dari pemantauan kamera keamanan. Kemudian mencoba untuk menyembunyikan bagian-bagian di tas laptopnya dan menyelinap keluar dari laboratorium.

Disebutkan dalam gugatan tersebut bahwa karyawan Huawei itu kemudian mengakui bahwa ia telah mengambil komponen “Tappy” karena departemen R&D Huawei percaya bahwa informasi (teknis) ini untuk membantu meningkatkan kemampuan robot yang dikembangkannya.

Dalam gugatan tersebut juga disebutkan : Akibat Huawei secara serius melanggar kontrak dengan T-Mobile dan mencuri rahasia dagang, T-Mobile terpaksa menghentikan hubungan pasokan ponselnya dengan Huawei dengan kerugian yang cukup besar. Huawei kemudian menggunakan teknologi robotiknya yang dicuri dari T-Mobile untuk secara tidak adil memperoleh keuntungan bisnis sampai jutaan dolar AS.

Dalam menanggapi tuduhan T-Mobile, Huawei mengatakan bahwa pihaknya tidak mencuri rahasia dagang karena “Tappy” bukan rahasia sama sekali. Huawei mengatakan bahwa video perangkat itu dapat dengan mudah ditemukan di YouTube, dan rincian desain serta spesifikasinya telah dipublikasikan di beberapa paten.

Kasus ini akhirnya memasuki proses ajudikasi. Pada tahun 2017, juri memutuskan bahwa Huawei melanggar kontrak dengan T-Mobile dan dikenakan wajib membayar denda kepada T-Mobile sebesar USD. 4,8 juta.

Pengacara T-Mobile : Kasus ini mengungkapkan perilaku ilegal Huawei

Pengacara T-Mobile, John Hueston pada hari Rabu mengatakan : “Perusahaan kami memenangkan gugatan pertama ketika juri menemukan (Huawei) mencuri rahasia dagang dan melanggar kontrak”

Dia juga mengatakan bahwa kasus itu mengungkapkan kejahathan mereka (Huawei) dan mulai mengungkap kisah (kejahatan) Huawei.

BACA JUGA : Pendiri Huawei ‘Mengakui’ Lemah Tentang Perusahaan dan Bicara Soal Masa Depan Huawei

Huawei adalah perusahaan swasta dengan struktur kepemilikan saham yang kompleks dan didirikan pada tahun 1984 oleh Ren Zhengfei, insinyur militer Komunis Tiongkok. Ren Zhengfei adalah anggota Partai Komunis Tiongkok dan perwakilan dari Kongres Nasional ke-12 Partai Komunis Tiongkok.

Bertahun-tahun yang lalu, Huawei dituduh mencuri rahasia dagang dari Nortel dan Cisco. Cisco menggugat Huawei atas pelanggaran paten pada tahun 2003.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kementerian Kehakiman AS telah meningkatkan upayanya untuk menuntut pencurian teknologi oleh Tiongkok, termasuk investigasi kriminal dan penuntutan untuk kasus-kasus litigasi sipil.

Pada November tahun lalu, Kementerian Kehakiman AS mengajukan gugatan terhadap perusahaan Tiongkok Fujian Jinhua dan mitra Taiwan-nya, Taiwan Lianhua Electronics, yang diduga mencuri rahasia dagang Micron Technology Inc., pembuat chip memori terbesar di Amerika Serikat.

BACA JUGA : Horor Kecanggihan Teknologi yang Menggiring Komunis Tiongkok Jadi Kediktatoran Distopia Digital

Pemerintah AS terus menekan Huawei

Untuk waktu yang lama, Huawei telah berada di bawah pengawasan pemerintah AS karena kegiatan spionase dan masalah mengancam keamanan nasional, Amerika Serikat telah melarang Huawei memasang peralatan telekomunikasi di jaringan utama AS dan juga melarang semua kementerian dan militer untuk menggunakan peralatan Huawei.

Atas permintaan Kementerian Kehakiman AS, pada 1 Desember, ketika Meng Wanzhou hendak transit pesawat di Bandara Vancouver, ia ditangkap oleh polisi Kanada. Pada 11 Desember, ia diberikan jaminan bersyarat dan menghadapi diekstradisi ke Amerika Serikat untuk diadili. AS menuduh Meng Wanzhou menipu sejumlah bank, menyebabkan bank-bank menghadapi pelanggaran sanksi AS terhadap Iran.

Meng Wanzhou membantah tuduhan itu, dan Huawei mengklaim bahwa mereka mematuhi hukum di semua negara di mana mereka beroperasi.

Di sisi lain, otoritas Polandia pekan lalu menangkap direktur penjualan Huawei cabang Polandia, menuduhnya melakukan spionase atas nama pemerintah Tiongkok. Huawei kemudian memecat karyawan itu.

Reuters melaporkan bahwa senator Republik Tom Cotton dan anggota Kongres Mike Gallagher dan senator Demokrat Chris Van Hollen dan Ruben Gallego bersama-sama memperkenalkan RUU yang meminta Presiden Trump untuk melarang ekspor komponen AS ke perusahaan telekomunikasi Tiongkok yang melanggar sanksi AS atau undang-undang kontrol ekspor.

RUU itu secara spesifik menyebutkan Huawei dan ZTE kedua perusahaan komunis Tiongkok yang telah diperiksa oleh Amerika Serikat. Pemerintah AS khawatir bahwa peralatan kedua perusahaan dapat digunakan oleh untuk memantau orang Amerika. Huawei dan ZTE telah dituduh gagal mematuhi sanksi AS terhadap Iran.  (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular