Erabaru.net. Kami tiga bersaudara, saya sendiri perempuan dan dua kakak laki-laki. Ibu saya sudah meninggal ketika saya berumur 5 tahun, kemudian ayah mencari/memperisteri seorang ibu tiri untuk kami.

Ibu tiri kami orangnya baik, lembut dan ramah, perhatian, ia sendiri menderita kemandulan, jadi begitu dinikahi ayah, kami bertiga pun sangat disayangnya seperti anak kandung sendiri.

Kesan saya yang paling dalam terhadapnya adalah, setiap bangun saat musim dingin, ia selalu tak lupa lebih dulu menghangatkan pakaian saya, kemudian baru diberikan pada saya.

Jadi, sejak kecil hingga dewasa, saya selalu menganggapnya sebagai ibu kandung sendiri.

Dua saudaranya semula juga sangat hormat pada ibu tirinya, tapi karena selalu dihasut oleh kakak iparnya setelah menikah, sehingga lambat laun mereka pun menjauhi ibu tiri.

Dua tahun lalu, ibu tiri jatuh tergelincir dari loteng ketika menjaga anak-anak di rumah kakak kedua, akibatya  tulang belakangnya cedera, dan menjadi lumpuh.

Setelah ibu tiri lumpuh, kakak kedua kemudian membawanya kembali ke rumah kami, dan setelah itu tidak peduli lagi.

Sejak itu, ibu tiri dirawat Ayah dan saya.

Tahun lalu, ayah meninggal, dan saya sendiri telah berbicara tentang pernikahan, namun, nasib ibu tiri kini menjadi masalah.

Kedua saudara saya saling mendorong tidak peduli dengan nasib ibu tiri.

Mereka bahkan memaksa ibu tiri pindah dari rumah ayah, dengan alasan itu adalah rumah peninggalan ayah, jadi sewajarnya dibagi dengan kedua saudaranya.

Selama waktu itu, ibu tiri menangis setiap hari. Suatu hari ketika saya pulang kerja, saya mencium bau gas. Dan saya terkejut, kemudian segera membuka pintu, dan saya pun terpaku seketika melihat pemandangan di dapur.

Entah kenapa dan bagaimana caranya ibu tiri merayap ke dapur, lalu membuka katup gas. Sementara dia sendiri terbaring di atas lantai dapur, tak sadarkan diri.

Saya panik dan menangis, kemudian bergegas menghubungi telepon darurat.

Setelah menyelamatkan ibu tiri, tak disangka kalimat pertamanya, “Fanfan, mengapa kamu menyelamatkan saya? Saya tidak ingin menyusahkan kamu.”

Saya langsung memeluknya, merasa pilu.

Wanita ini telah mempersembahkan masa mudanya untuk keluarga ini, sekarang dia sudah tua, tapi dipaksa membentur tembok (tidak berdaya karena tekanan, hingga mengambil jalan pintas), dan saya merasa pilu melihat kondisinya seperti ini.

Saya bilang, “Bu, mengapa ibu melakukan hal seperti itu (bunuh diri) ? bukankah masih ada saya ? Saya akan membawa ibu di hari pernikahan saya, kalau Da Guo (calon suami saya) tidak setuju, saya tidak akan menikah dengannya !”

Ibu Tiri tersenyum lalu menangis lagi. Air matanya menetes jatuh di tangan saya, air mata yang terasa panas mendidih bagi saya.

Da Guo, calon suami saya adalah sosok orang yang sederhana, setelah saya menceritakan tentang keadaan ibu tiri, ia tanpa ragu sedikitpun lalu mengiyakan tanda setuju.

Di hari pernikahan itu, saya mendadani ibu tiri secantik mungkin, duduk di atas kursi roda dan naik ke mobil pengantin bersama saya.

Sebelum berangkat, ibu tiri bilang mau membawa sesuatu.

Dia meminta saya menurunkan fotonya bersama ayah yang tergantung di atas tempat tidurnya, dan di belakang foto itu saya lihat ada sebuah kotak mungil.

Ia menyuruh mengambil kotak mungil itu, tapi melarang saya melihat isinya, ia hanya mewanti-wanti saya agar membawanya pada hari pernikahan.

Di hari pernikahan itu, tampak banyak kerabat dan teman-teman yang datang, saat sesi menemui orang tua dari kedua keluarga, ibu tiri mengambil kotak mungilnya.

Ibu tiri bilang itu adalah kado darinya untuk saya.

Dan dia menyuruh saya membuka kotak itu di hadapan para tamu undangan.

Saya pun membukanya, di dalamnya ada sebuah cincin zamrud, dan dua lembar surat wasiat.

ilustrasi: s2.gemokrasi.com

Pembawa acara mengambil surat wasiat itu dan membacanya di hadapan tamu undangan.

Satu surat wasiat dari ayah, yang isinya menyerahkan semua harta bendanya untuk ibu tiri.

ilustrasi: femina.co.id

Sementara surat wasiat satunya dari ibu tiri sendiri yang isinya mengalihkan semua hartanya dari ayah untuk saya.

Saya tertegun, tidak seharusnya ibu tiri memberikan hadiah yang mahal ini untuk saya.

Tapi bu tiri mengatakan, cincin zamrud itu adalah warisan dari leluhurnya, meminta saya harus menerimanya, dan dengan khidmat mengatakan sebait kata, “Kamu pantas menerima semua itu.”

Sementara itu, dua saudara laki-laki dan kakak ipar saya seketika tercengang di bawah podium.

Mungkin inilah yang dinamakan berkah balasan baik untuk anaknya yang dengan tulus merawat ibu tirinya yang lumpuh, meskipun si ibu bukan ibu kandung sekalipun.

Sekadar diketahui, berkah balasan baik tidak selalu berupa materi, bisa berupa berkah keselamatan dari bencana dan sebagainya. (jhoni/rp)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular