Erabaru.net. Berbagai kritikan terhadap penyelenggaran debat perdana Capres-Cawapres yang diselengarakan oleh KPU RI tak hanya dari dalam negeri. Media Australia justru melaporkan bahwa debat capres yang digelar Indonesia seperti debat robot.

“Baik Jokowi maupun  Prabowo, serta para cawapres mereka, terlihat seperti robot dan memberikan jawaban yang ‘tidak mau mengambil risiko’ yang tampaknya dirancang untuk membuat lawan mereka tunduk,” demikian tulisan James Massola, kepala koresponden bidang politik di media The Sydney Morning Herald.

Tak hanya suasana debat yang berlangsung dengan kaku, bocoran pertanyaan debat yang sudah diketahui oleh capres-cawapres menjadi sorotan tajam. Media Australia itu menyebut persoalan tesebut sebagai akar permasalahan.

“Masalah dalam perdebatan itu dimulai dengan fakta  kedua belah pihak sudah menerima kisi-kisi semua pertanyaan moderator sepekan sebelumnya, meskipun pertanyaan penuh tidak diajukan,”kritiknya.

“Komisi Pemilihan Umum Indonesia berpendapat  ini akan memungkinkan para kandidat untuk memberikan jawaban substantif dan menginformasikan pemilih dengan lebih baik,” lanjutnya.

Media mainstream Australia ini pun menyoroti capres-cawapres yang hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan lebih awal. Bahkan, para capres-cawapres tak bisa mengeksploirasi materi lebih jauh.

“Namun ternyata, hal itu justru menyedot banyak momen selama perdebatan, terutama dibandingkan dengan  debat Pilpres 2014 yang mengalir bebas. Jokowi dan wakilnya Ma’ruf Amin serta Prabowo dan wakilnya Sandiaga Uno memberikan jawaban yang seakan sudah dilatih, dan melakukannya dengan buruk,” tulisnya.

Menurut The Sydney Morning Herald, pada tahap-tahap akhir, ketika para kandidat saling mengajukan pertanyaan yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya, debat menjadi sedikit hidup. Apalagi ketika, Jokowi Widodo bertanya kepada Prabowo tentang mengapa partainya memiliki begitu sedikit perempuan yang terlibat, dan lalu mengapa – jika Prabowo sangat berkomitmen untuk memberantas korupsi – tetapi memiliki begitu banyak kandidat yang telah dihukum karena kasus korupsi di masa lalu.

Secara seimbang, tulisan Media Australia ini bahwa Jokowi memenangkan debat karena dia mampu, lebih sering, untuk memberikan respons kebijakan yang lebih rinci – meskipun dia kadang terlalu teknokratis.

Akan tetapi The Sydney Morning Herald menjelaskan perdebatan capres-cawapres berakhir dengan tidak adanya ide-ide besar baru yang maju dan sedikit pencerahan pada kebijakan masing-masing kandidat.

“Sesi penutup tidak ada seorang pun dari dua kandidat yang bisa mengatakan hal fositif tentang lawannya saat diminta mengatakannya di akhir sesi,” demikian simpulnya. (asr)

Share

Video Popular