Song Baolan

Tiga ribu tahun silam, ketika Raja Wu dari (dinasti) Zhou , (memerintah 1046-1043 SM) hendak menyerang Shang Zhou (商纣) yakni, raja dinasti Shang (商), ia pernah mengumpulkan 800 pimpinan Zhūhóu guó (Negara Kota/Teritori) dan melakukan inspeksi pasukan di Mengjin (daerah di utara kota Luo Yang kini), mereka melakukan sumpah janji membantu Raja Wu dari Zhou menumbangkan Shang Zhou.

Diantara para Zhūhóu guó itu ada yang berasal dari daerah terpencil di selatan maupun utara Tiongkok.

Pada zaman dahulu bahasa berbagai negara tidaklah sama, lalu bagaimanakah sebenaarnya mereka melakukan komunikasi saling bertukar pendapat?

Menurut catatan dari kitab ”Liji – Bab Sistem Raja”: “Rakyat dari lima penjuru, bahasa tidak sama, kesukaan dan keinginannya tidak sama.

Demi menyampaikan kemauan dan mengabulkan keinginannya, perbedaan bahasa dari daerah Timur (disebut Man蠻), Selatan (disebut Yi夷), Barat (disebut Rong戎) dan Utara (disebut Didi狄鞮) yang sulit ditembus, maka telah muncul 4 jenis penerjemah profesional (Ji寄, Xiang象, Didi狄鞮 dan Yi譯), melalui kerja keras para penerjemah tersebut, maka telah barhasil terjalin hubungan persahabatan antara Tiongkok dengan negara-negara kecil di sekitarnya   

Para penerjemah jenius di dalam sejarah kebanyakan berasal dari kalangan Buddhis. Dalam menerjemahkan kitab suci Buddha telah muncul empat penerjemah utama: Kumarajiwa (343—413), Paramārtha (499─569), Tang Xuanzang (602?─664) dan Amoghavajra (705─774). Gambar menunjukkan patung Kumarajiwa di depan Gua Seribu Buddha di Kizil, Xinjiang. (Yoshi Canopus / Wikimedia Commons)

Penerjemah Jenius Kebanyakan Dari Aliran Buddha

Di zaman terdahulu kebanyakan penerjemah jenius berasal dari aliran Buddha.

Demi kebutuhan penyebaran kitab klasik, telah muncul 4 penerjemah besar, mereka adalah: Jiū mó luó shén [鳩摩羅什Kumarajiwa (343—413)], Zhēndì [真諦Paramārtha (499─569)], Táng Xuánzàng (唐玄奘602?─664, di Indonesia terkenal dengan Tom Sam Cong tokoh utama dalam novel klasik Perjalanan ke Barat) dan Bùkōng [不空 Amoghavajra (705─774)].

Menerjemahkan kitab suci Buddha dibutuhkan 3 syarat: Mahir berbahasa Sansekerta, Bahasa Mandarin dan memiliki pemahaman yang baik dalam ajaran agama Buddha.

Sebanyak 3 persyaratan ini tidak boleh kurang satu pun. Itu sebabnya, di Tiongkok kuno orang yang ikut dalam menerjemahkan kitab suci Buddha pasti kaya wawasannya.

Táng Xuánzàng setelah berhasil membawa pulang kitab suci Buddha dari India, kaisar Taizhong dari Tang memerintahkannya untuk merekrut orang berbakat dari seluruh negeri. Baik biksu maupun masyarakat umum, membantunya mendirikan lembaga penerjemah untuk menerjemahkan kitab-kitab suci Buddha.

Tingkatan bahasa Mandarin Táng Xuánzàng nomor wahid, lagipula sangat mahir dalam Bahasa Sansekerta, seberapa tinggi tingkatan bahasa Sansekerta dan pemahamannya tentang agama Buddha? Ia mampu menggunakan Bahasa Sansekerta berdebat dengan para biksu dari Xiyu (Sebutan di zaman kuno untuk Daerah Barat yang mencakupi Asia Tengah dan anak benua India), dan mereka juga tidak mampu mengalahkannya.

(Sanskerta: Amoghavajra, 705-774), transliterasinya adalah Amu, dan terjemahannya tidak kosong. (domain publik)

Tang Yifu – Penerjemah dan Pengawal Zhang Qian

Ahli penerjemah umumnya hanya melakukan terjemahan lisan atau secara tertulis. Namun terkadang juga merangkap bertugas sebagai pengawal pribadi.

 Di tahun 139 SM, Zhang Qian menerima perintah dari kaisar Wu dari Han, memimpin sebuah team duta negara sebanyak 100 orang lebih bertugas ke Xiyu. Namun sempat ditahan oleh orang-orang dari etnis Hun, penerjemah Tang Yifu terus membantunya dalam seluruh proses perjalanan.   

Tang Yifu (juga bernama Ganfu) adalah pembantu rumah tangga Chen Wu, menantu kaisar Wen dari Han.

Menurut perkiraan para akademisi, Tang Yifu kemungkinan merupakan tawanan dinasti Han yang berasal dari pasukan Hun. Ketika Zhang Qian bertugas ke Xiyu, Tang telah mengabdi lebih dari 20 tahun di keluarga Chen Wu, merupakan seorang pembantu setia.

 Tang Yifu yang berjiwa loyal, juga menguasai seni beladiri dan kemiliteran, mahir memanah dari atas kuda yang belari, ia terpilih sebagai anggota team duta, selain bertugas sebagai penerjemah, juga memikul tanggung-jawab berat sebagai pengawal pribadi Zhang Qian.

Di tengah perjalanan menuju Xiyu, tatkala kekurangan air dan makanan, Tang berburu burung dan hewan, untuk memenuhi kebutuhan pangan Zhang Qian. (mengutip dari Si Ji “Catatan Sejarah”)

  Grup yang terdiri 100 orang lebih, setelah berlangsung 13 tahun hanya tersisa 2 orang yakni, Tang Yifu dan Zhang Qian. Di kemudian hari Zhang Qian dinobatkan sebagai “Pionir penembus jalan ke Xiyu”, prestasi Zhang sebagai duta pertama  dalam menjalin hubungan dengan Wilayah Barat, jasa Tang tak dapat diabaikan bagitu saja. 

Ma Huan – Penerjemah Zheng He, Kasim Sanbao

Pada masa dinasti Ming, Zheng He (di Indonesia dikenal sebagai Cheng Ho) 7 kali berlayar mengarungi samudra, diantaranya penerjemah Ma Huan, Fei Xin dan Kong Zhen masing-masing pernah ikut dalam grup rombongan Zheng He.

Mereka memiliki kualifikasi resmi penerjemah, kemampuannya amat menonjol, mereka masing-masing menerbitkan buku mencatat apa yang mereka lihat dan dengar dalam pelayaran jarak jauh itu.

Diantaranya, “Ying Ya Sheng Lan”(瀛涯勝覽) yang isinya sangat luas, merupakan buku materi tangan pertama untuk studi Zheng He menuju samudra barat dan sejarah transportasi Tiongkok dan luar negeri pada zaman dinasti Ming, serta memiliki nilai referensi yang penting dalam memperkenalkan jalur pelayaran sejumlah negara Asia-Afrika.

Penulis Ma Huan adalah penerjemah Zheng He, yang mahir dalam Bahasa Arab dan Persia, 3 kali mengikuti Zheng He berlayar jauh, bersama-sama menyeberangi laut untuk menyebarkan peradaban Tionghoa.  

Buku tersebut juga mencatat perjalanan Ma Huan berkeliling ke 20 negara, diantaranya termasuk berbagai negara di Samudera Selatan (termasuk Sumatera dan Jawa) dan negara-negara Arab, telah mencatat geografi rute pelayaran, adat istiadat setempat, bahasa dan budaya, perdagangan kerajinan, mata uang, dan bahkan catatan pengamatan terhadap hewan dan tumbuhan liar. (TYS/asr)

Share

Video Popular