Erabaru.net. Sudah lebih dari setengah abad pak Li menjalani hidupnya, tetapi tidak pernah sekalipun menikmati hidup bahagia. Pak Li adalah orang desa, setelah lulus dari sekolah menengah pertama, dia belajar cara pengobataan dengan para seniornya di desa dan bekerja sebagai tabib di desa.

Pak Li sangat menguasai obat-obatan herbal, penduduk desa juga sangat mengaguminya, karena dia seorang tabib yang baik hati, tidak pernah memaksakan biaya pengobatan bagi mereka yang tidak mampu, baginya yang penting penyakit si pasien bisa sembuh.

Ilustrasi.

Pak Li menikah dengan seorang wanita dari desa tetangganya dan memiliki dua orang anak, yang bungsu seorang laki-laki dan yang sulung seorang perempuan.

Pak Li harus bekerja keras untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Untuk menghemat uang, dia hanya makan ala kadarnya. Untungnya, kedua anaknya cukup dewasa, tidak merepotkannya.

Karena prestasi akademik putrinya tidak bagus, dia pun langsung mencari kerja begitu lulus dari sekolah menengah atas, dia berusaha hidup hemat dan mengirim uang untuk membiayai sekolah adiknya.

Belakangan putrinya pulang ke desa sambil mengajak pacarnya. Meski tampangnya biasa saja, tapi orangnya baik dan jujur, akhirnya tanpa banyak pertimbangan lagi, ayahnya pun menyetujui hubungan mereka.

Tak lama kemudian, keduanya menikah. Karena kondisi ekonomi dua keluarga itu tidak terlalu baik, sehingga pesta pernikahan dilaksanakan dengan sangat sederhana, bahkan tanpa mengenakan gaun pengantin, cukup menyajikan makanan di rumah, dan mengundang beberapa kerabat penting untuk makan bersama.

Dua tahun kemudian, putrinya mengandung, bukan main senangnya pak Li, karena akan segera memiliki cucu, namun, tak disangka, putrinya meninggal karena distosia, hal ini tentu membuat sedih pak Li dan menantunya.

Menantunya itu harus memikul beban tanggung jawab selaku ayah merawat dan membesarkan anaknya berikut pak Li, mertuanya yang sudah semakin tua.

Setelah putranya lulus lulus kuliah, ia bekerja di kota. Awalnya, putranya kerap pulang menjenguk pak Li, tetapi lama kelamaan, ia tidak pernah pulang lagi menjenguknya.

Dia juga selalu buru-buru menutup telepon saat dihubungi ayahnya. Karena usia yang terus bertambah, kondisi kesehatan pak Li berangsur-angsur menurun.

Sekuat apa pun fisik seseorang juga tidak akan mampu melawan momok penyakit yang menderanya, apalagi selalu memikirkan anaknya.

Akhirnya pak Li jatuh sakit, bibirnya selalu komat kamit seakan memanggil nama anaknya. Melihat kondisinya seperti itu, menantunya kemudian pindah ke rumah pak Li untuk merawatnya.

Menantunya adalah orang yang telaten dan sabar. Dia yang setiap pagi menyiapkan makanan dan semua kebutuhan pak Li, mertuanya.

Pak Li merasa tersentuh melihat semua tindakan menantunya yang sabar dan tulus dalam merawatnya. Betapa dia berharap putranya juga memiliki bakti sebagai anak seperti menantunya!

Berkat perawatan menantunya yang sabar, kondisi kesehatan pak Li perlahan-lahan membaik. Dia kembali buka praktek sebagai tabib.

Sebenarnya, bapak Li juga telah cukup banyak menabung dalam beberapa tahun terakhir ini, ditambah dengan uang kiriman dari putranya, apalagi biaya hidup di desa juga relatif murah, sehingga pak Li punya simpanan yang lumayan besar.

Pak Li menyimpan semua tabungannya di bank, dan menyerahkan sepenuhnya kepada menantunya, karena dia tidak tahu entah berapa lama lagi masih bisa bertahan, sementara putranya tak pernah pulang lagi menjenguknya.

Ilustrasi.

Pada suatu hari pak Li menerima sebuah surat.

Pak Li hapal dengan tulisan tangan itu. Dia melihat isi surat itu dan matanya merah. Surat ini ditulis oleh putranya. Dalam surat itu putranya berkata:

“Yah, saat ayah membaca surat ini, aku juga telah pergi selamanya. Suatu hari, aku didiagnosis menderita leukemia saat diperiksa di rumah sakit. Tapi, aku tidak berani memberi tahu ayah, karena aku tak berani membayangkan betapa sedihnya ayah mengetahui harus kehilangan aku lagi setelah kepergian kakak ketika itu.

“Aku hanya berharap kakak ipar bisa merawat ayah seumur hidup. Ayah telah merawat dan membesarkan aku seumur hidup, tetapi aku tidak dapat membalas budi ayah, kelak jika ada kehidupan selanjutnya, aku pasti akan menjadi anakmu yang berbakti.”

Pak Li tertegun lama dengan wajah sembab. Dia tidak menyangka putranya telah tiada. Bahkan keliru mengira anaknya durhaka, sementara menantunya juga menyamar sebagai putranya mengirimkan uang untuknya.

“Ayah, jangan bersedih hati, aku akan menganggap ayah seperti ayah kandungku, apa yang kulakukan ini semua sama sekali tak berarti dibandingkan ayah yang telah menyembuhkan banyak orang, ayahlah sosok orang yang hebat itu.”Kata menantunya.

Ilustrasi.

Kebaikan tidak membedakan usia, yakin orang yang baik hati seperti pak Li pasti akan mendapatkan berkah baiknya, dan akan menikmati sisa hidup bahagianya sampai tiba saatnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds