Erabaru.net. Xiao Yu dibesarkan oleh ibunya dengan menjual roti. Dia setiap hari ke toko bersama ibunya. Dia duduk dengan tenang di sana sambil memandangi ibu yang sedang bekerja, memasukkan isian ke adonan, dan mengukus roti. Kemudian menjualnya. Menjual sarapan pagi adalah pekerjaan yang tidak mudah, dan keuntungannya juga tidak seberapa.

Suatu hari, tokonya kedatangan seorang pengemis cilik berdiri di depan toko sambil menatap roti kukusnya yang baru matang.

Kasihan melihat pengemis cilik itu Xiaa Yu berkata pada ibunya,: “Bu, kasihan sekali pengemis itu, beri dia satu roti ya.”

Ibu Xiao Yu hanya tersenyum dan bertanya pada pengemis cilik: “Mau roti kukus?” Pengemis itu mengangguk.

“Saya akan memberimu roti, tapi kamu harus menukarnya dengan botol bekas, satu botol bekas ditukar dengan satu buah roti ayam,” kata ibu Xiao Yu.

Bukan main senangnya pengemis cilik itu mendengar botol bekas bisa ditukar dengan roti. Dia segera mencari botol bekas di tong sampah, tak lama kemudian dia membawa dua botol bekas ke toko roti itu.

Ibu Xiao Yu mengambil botol itu dan sambil memberikan dua roti ayam untuknya, ia berkata dengan ramah: “Kalau mau makan roti lagi besok, jangan lupa bawa botol bekas ya.”

Begitulah pengemis itu hampir setiap hari membawa botol bekas untuk ditukar dengan roti kukus ibu Xiao Yu.

Sebenarnya nilai satu botol bekas itu tidak sebanding dengan harga satu buah roti, lalu mengapa ibunya menyuruh pengemis itu mencari botol bekas ?

Xiao Yu merasa bingung dan tak habis mengerti apa maksud ibunnya, lalu dia bertanya,: “Bu, mengapa ibu tidak memberikannya langsung kepada pengemis itu, kasihan kan, dia begitu lapar? “

“Kelak kamu akan mengerti setelah dewasa nanti,” kata ibunya tersenyum.

Entah berapa lama sudah, pengemis itu tiba-tiba tidak lagi muncul untuk menukar botol bekasnya dengan roti kukus, sementara ibu Xiao Yu tanpa sadar akan melihat-lihat ke persimpangan jalan, seolah menunggu pengemis cilik itu.

Xiao Yu, yang kini tumbuh dewasa tidak lagi memikirkan tentang pengemis itu. Setelah lulus kuliah, dia mulai bekerja, sementara ibunya masih berjualan roti kuku seperti biasa, hanya saja sekarang rambutnya telah memutih.

Suatu hari, Xiao Yu mendapat kabar bahwa ibunya jatuh sakit.

Ilustrasi.

Xiao Yu segera ke rumah sakit menjenguk ibunya. Dokter mengatakan bahwa penyakit ibunya sangat serius, butuh biaya ratusan juta rupiah untuk pengobatannya.

Pikiran Xiao Yu seketika hampa mendengar biaya sebesar itu, dia tidak tahu harus kemana mendapatkan uang sebanyak itu. Xiao Yu terpaksa mencari bantuan pada kerabat dan teman-temannya membantu mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan ibunya.

Namun terkadang keinginan tidak sejalan dengan harapan, ia hanya mendapatkan beberapa juta rupiah.

Ketika kembali ke rumah sakit dengan lesu, dia melihat seorang pria berpakaian necis dan sebaya dengan usianya berdiri di depan ranjang ibunya. Pria muda itu menganggukkan kepala sambil tersenyum saat melihat Xiao Yu.

Dan Xiao Yu baru tahu sosok pria muda itu setelah ia memperkenalkan dirinya. Ternyata pria berpakaian necis itu adalah pengemis cilik ketika itu, hanya saja tak disangka perubahannya begitu besar setelah bertahun-tahun tak bertemu.

Pria muda itu mengambil selembar kartu ATM dari sakunya dan mengatakan kepada Xiao Yu bahwa ada 300 juta rupiah dalam kartu itu, dan meminta Xiao Yu mengunakan uang itu untuk biaya pengobatan ibunya.

Ilustrasi.

Xiao Yu menerima kartu itu dengan perasaan campur aduk, antara terkejut, senang dan bahagia sampai tak tahu apa yang harus dikatakan.

“Ini adalah balasan saya atas budi baik ibumu kala itu. Ketika itu, ibumu menyuruhku menggunakan botol bekas untuk ditukar dengan roti. Ibumu membuatku mengerti bahwa aku bisa mendapatkan makanan apa pun dengan kedua tanganku ini.

“Kemudian aku baru tahu seseorang bisa hidup dengan cara seperti itu, jadi saya mulai mengumpulkan limbah daur ulang dan usaha saya perlahan-lahan berkembang maju dan menjadi besar. Jika saja tidak ada ibumu ketika itu, mungkin saya masih seorang pengemis yang terlunta-lunta di jalanan, “ kata pria itu.

Hal yang membingungkan Xiao Yu ketika itu, akhirnya ditemukan jawabannya. Xiao Yu baru menyadari mengapa ibunya ketika itu tidak secara langsung memberikan roti kukus kepada si pengemis, tetapi menyuruhnya mencari botol bekas untuk ditukar dengan rotinya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular