Erabaru.net. Hidup itu memang kadang terasa manis, kadang terasa asin, dan bahkan kadang terasa pahit. Tapi gadis cilik ini mengatakan hidupnya terasa asin, karena keringat ayahnya asin, dan air matanya juga asin.

Gadis cilik itu mengatakan bahwa keinginan terbesarnya adalah bisa menikmati masakan ibunya suatu hari nanti, karena selama ini dia yang selalu memasak untuknya.

Dia adalah Chen Hai Xuan, seorang gadis berusia 9 tahun dari Desa Jinsha, Kabupaten Xinning, Tiongkok. Sejak kelas tiga SD, dia sudah harus memikul beban hidup keluarga, dan belajar mencuci pakaian saat berusia 7 tahun, dia mencuci pakaian ibu, ayah dan pakaiannya sendiri.

Di usianya yang masih sangat belia itu, ia telah mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian. Hal itu dilakukannya karena memang tidak ada lagi yang bisa mengurus rumah selain dirinya.

Saat kecil, ayahnya bermain-main dekat perapian dan tanpa sengaja kepalanya masuk ke perapian dan terbakar, akibat kejadian itu, kemampuan berpikirnya jadi mandek, sehingga sekarang hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik untuk mencari nafkah.

Ayahnya tidak memiliki pekerjaan tetap, dia bekerja hanya saat orang-orang membutuhkan tenaganya dengan upah yang tidak seberapa.

Ayahnya pernah mengangkut kayu ke dalam truk, kayu-kayu itu dengan berat total 8 ton dia angkut sendirian. Dia menghabiskan waktu lebih dari 5 jam untuk menyelesaikan pekerjaanya dan mendapat upah kurang dari 100 ribu rupiah.

Sedangkan Ibunya menderita gangguan jiwa. Jika tak ada yang menjaga, ibunya akan keluar rumah dan berkeliaran di sekitar desa sambil membuat keributan. Namun, selama perilakunya tidak keterlaluan dan mengganggu, biasanya penduduk desa membiarkannya.

Penduduk desa bercerita tentang ibu Hai Xuan yang dulunya sangat cantik, merupakan kembang desa yang pintar menyanyi dan menari. Namun entah mengapa ketika pulang bekerja dari Guangdong, dia jatuh sakit dan mengalami gangguan mental.

Setiap uang yang diperoleh ayahnya semuanya dihabiskan untuk mengobati penyakit ibunya, Bagi Hai Xuan, tidak masalah jika harus menjalani hidup yang getir. Yang paling penting bisa menyembuhkan penyakit ibu. Biasanya Hai Xuan akan ikut ayahnya ke gunung menebang bambu, dan itu adalah waktu yang paling membahagiakan baginya.

Bagi Hai Xuan, ayahnya adalah sosok orang yang hebat di dunia, demi keluarga dia rela melakukan pekerjaan yang melelahkan tanpa mengeluh sedikit pun, dan tak pernah meninggalkan ibunya, sementara ibu adalah beban baginya, dan dia merasa bahagia selama ada ibu di sisinya.

Ibunya mengalami gangguan mental saat Hai Xuan lahir. Betapa dia berharap, ibunya yang cantik itu bisa kembali lagi seperti dahulu, meski sehari juga sudah cukup.

Hai Xuan tidak pernah kesal menghadapi ibunya yang tidak waras. Meski ibunya gila, Hai Xuan tak pernah merasa malu, karena baginya hanya ibu yang terbaik di dunia!

Hai Xuan, sejak dia lahir berbeda dari orang lain. Sejak dia belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dia telah menjadi seorang ibu bagi ibunya.

Dia juga tidak pernah mengeluh dan menyalahkan Tuhan tidak adil, senyumnya yang cemerlang dan suara cerianya seperti sinar mentari menghangatkan seisi rumah yang istimewa ini!

Kita memang tidak pernah bisa meminta dari orangtua seperti apa kita akan dilahirkan. Namun bagaimanapun keadaan orangtua kita, maka sebagai anak tentu kita wajib untuk menghormati dan menyayangi mereka.

Itulah yang ditunjukkan oleh gadis cilik Chen Hai Xuan yang baru berusia 9 tahun ini, kasih sayang yang luar biasa terhadap orangtuanya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular