Linda Jiang – Epochtimes melaporkan dari Los Angeles

“2019 World Chinese Martial Arts Competition” yang diselenggarakan oleh New Tang Dynasty (NTDTV) telah dimulai.

Pertandingan akbar yang dipandang sebagai ajang bergengsi seni beladiri global ini bertujuan mewariskan dan menyebar luaskan intisari seni beladiri tradisional Tionghoa, tidak hanya agar para master beladiri Wushu dapat berkumpul di satu arena, terlebih juga agar generasi muda lebih mengenal seni beladiri Kungfu tradisional Tiongkok, dan berdiri di atas pentas dunia.

Pertandingan tahun ini kembali memperluas skalanya, dengan menambahkan zona pertandingan di Jerman, kriteria pertandingan juga semakin ketat.

Baru-baru ini, ketua dewan juri pertandingan tersebut yang merupakan seorang doktor PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok) dari AS dan pernah menjadi juara dunia Wushu yakni Master Li Youfu saat diwawancarai oleh surat kabar Epoch Times, telah menjelaskan tata cara dan juga aturan terbaru pertandingan ini serta memaparkan esensi dan makna dari Wushu tradisional ini.

Hanya Inginkan “Wushu Tradisional”

Tradisional dalam aksara Tionghoa terdiri dari dua kata yakni “Chuan Tung” (傳統) dengan menitik-beratkan pada kata “Chuan” (傳, mewariskan), Li Youfu berkata, “Wushu yang Anda lihat sekarang banyak sekali yang merupakan Wushu baru yang telah dimodifikasi, dan telah kehilangan makna Wushu tradisionalnya. Oleh karena itu pada kompetisi Wushu 2019 kali ini, para peserta dituntut untuk lebih jelas membedakan antara Wushu tradisional dengan Wushu baru.”

BACA JUGA : Geger Dunia Persilatan, Wushu Tradisional dalam Sorotan (1)

Lalu apa sebenarnya perbedaan antara Wushu tradisional dengan Wushu baru? Li Youfu menyatakan, “Wushu tradisional dulunya selalu adalah Wushu (kungfu, di Indonesia zaman dulu dikenal dengan sebutan Kuntauw) yang diajarkan oleh seorang guru, baik Aliran Dalam (asli dari dalam Tiongkok sendiri, seperti Taichi) maupun Aliran Luar (dibawa oleh orang dari luar Tiongkok yang kemudian berkembang di Tiongkok, semisal aliran Shaolin dengan penciptanya Bodhidharma dari India), setiap aliran dibedakan sangat jelas dan memiliki karakteristiknya masing-masing. Walaupun dalam proses pewarisannya, dalam hal lebih kurang gerakannya, pada jurus pembuka maupun penutup, ada kemungkinan terjadi sejumlah perubahan, namun ini semua masih dikategorikan sebagai Wushu tradisional.”

Li Youfu, Ketua dewan juri kompetisi Wushu kalangan etnis Tionghoa NTD tahun 2019. (Liu Ning/Epoch Times)

Akan tetapi Wushu baru telah kehilangan makna tradisional ini, “Segala apa pun diadopsi dan jadikan jurusnya, sampai-sampai senam dan balet pun telah dicampur-adukkan ke dalamnya, hal seperti ini bisa kami lihat, gerakan yang tercampur dengan Wushu baru adalah tidak sesuai dengan kriteria pertandingan.

 “Moral Beladiri”

Wushu merupakan bagian dari kebudayaan tradisional warisan Dewata bagi bangsa Tionghoa yang telah berusia 5.000 tahun, Li Youfu mengatakan, “Dulu dalam proses pewarisan seni beladiri wushu, para master mengajarkan dengan memilih murid, membina moral muridnya itulah yang disebut moral beladiri, ini adalah hal terpenting dalam seni beladiri tradisional.”

Oleh karena itu, ia memotivasi para kawula muda saat mempelajari seni beladiri Wushu agar diawali dengan mempelajari moralitas bela diri, selain harus dengan upaya keras tanpa kenal lelah dan belajar mengendalikan diri, juga harus menentukan suatu sasaran belajar ilmu beladiri yang jelas yakni, menghentikan kejahatan dan menyebarkan kebajikan.

“Pada dasarnya, moral beladiri adalah untuk mencegah kejahatan dan melindungi kebajikan. Dalam proses saya berlatih beladiri, disaat ada orang lain menantang saya untuk bertanding kami semua hanya bertarung sampai sebatas menyentuh lawan saja, namun pada saat ada ancaman keselamatan, sungguh akan muncul suatu semangat berkorban demi kebenaran, inilah perwujudan moralitas dasar seseorang, jika kita mampu mewariskan ini, maka atmosfir kebajikan di tengah masyarakat akan membaik.”

BACA JUGA : Geger Dunia Persilatan, Wushu Tradisional dalam Sorotan (2)

Ia berkata, oleh sebab itu “World Chinese Martial Arts Competition” yang diselenggarakan NTDTV ini secara khusus menitik-beratkan pada moral beladiri: “Tujuan mempelajari Wushu tradisional pada dasarnya adalah agar memiliki kemampuan beladiri, menyehatkan tubuh dan memiliki tekad kuat pantang menyerah, juga untuk mengembangkan keberanian diri, dan tak gentar saat menghadapi kesulitan, berani tampil menghalau segala kejahatan.”

Namun dari pengalaman terdahulunya saat belajar ilmu beladiri, Li Youfu berpendapat semangat Wushu yang dipelajarinya sejak kecil sudah sangat jarang dijumpai sekarang ini. Ia berkata, “Dulu saat guru menyuruh saya berlatih keesokan paginya, saya bahkan tidak berani tidur, karena takut kesiangan. Waktu itu sejumlah teman sekelas bersama saya bertekad bersama-sama berlatih Wushu, akhirnya keesokan harinya tidak bisa bangun pagi, ada yang baru beberapa hari, beberapa bulan berlatih, sudah tidak kuat bertahan. Maka saya katakan Wushu tradisional itu adalah suatu proses berlatih seumur hidup, adalah makna dari suatu kultivasi.”

Kompetisi Tambahkan Kelompok Usia Muda, Wushu Tradisional Ada Penerus

Seiring dengan semakin meningkatnya kriteria peserta pertandingan “World Chinese Martial Art Competition” ini, para dewan juri juga semakin ketat dalam hal pemberian nilai. Walaupun mewarisi tradisi bukan hal mudah, namun sejak tahun 2008 saat pertama kalinya NTDTV mengadakan kompetisi ini, Li Youfu berpendapat segala upaya itu telah membuahkan hasil.

“Sekarang seluruh dunia telah tahu, di antara banyak pakar beladiri generasi yang lebih senior, ada yang terang-terangan menyatakan dukungannya, ada juga yang diam-diam mendukung kami. Ada juga para guru tua yang secara khusus mengumpulkan para murid kebanggaan mereka untuk dilatih khusus agar dapat ikut serta dalam kompetisi Wushu yang diadakan NTDTV ini.”

Li Youfu berkata, “Master Shen Maohui yang pernah menjadi pelatih utama pasukan pengawal Presiden Filipina Marcos pernah berkata pada saya sambil meneteskan air mata haru, ‘NTDTV bisa melakukan hal ini, Wushu tradisional kita ada harapan bisa diwariskan’. Sekarang Master Shen telah meninggal dunia, kami semua merasa sangat kehilangan beliau, oleh karena itu lebih bertekad kuat untuk terus mewarisi tradisi ini.”

BACA JUGA :  Peneliti: Belajar Olahraga Bela Diri Dapat Mengurangi Sifat Agresif Anak

Mengenang kembali perjalanan suka dan duka menjadi ketua tim juri dalam pertandingan ini sejak tahun 2008, Li Youfu merasa anak-anak yang belum lahir pada masa itu, sekarang telah berlatih ilmu beladiri dengan sangat baik, ini membuatnya merasa ‘ada penerus’ untuk mewarisi Wushu tradisional ini.

Li Youfu mengatakan, “Ada seorang anak berusia 7-8 tahun, kakeknya mengajarkannya agar bersungguh-sungguh berlatih Wushu tradisional, sehingga di kemudian hari dapat ikut serta dalam pertandingn Wushu yang diadakan NTDTV, kami sangat gembira melihat hal ini. Itu sebabnya tahun ini khusus ditambahkan kelas anak-anak, agar Wushu tradisional dapat terus diwariskan melalui anak cucu dan generasi seterusnya.”

Li Youfu selalu mengenang sejumlah guru besar yang telah bersumbangsih dalam mempertahankan Wushu tradisional ini, dan sangat memahami akan misi yang diemban dalam “NTDTV World Chinese Martial Art Competition” ini.

Dalam pertandingan kali ini yakni “2019 World Chinese Martial Art Competition”, mewarisi tradisi, menyebar-luaskan moral beladiri, warisan sejati muncul kembali, para ahli Kungfu dari berbagai aliran berkumpul kembali, untuk menampilkan esensi dan intisari seni beladiri Wushu yang sesungguhnya. (SUD/WHS/asr)

Ingin Tahu lebih lengkap kunjungi situs  2019 World Chinese Martial Arts Competition

Share

Video Popular