Erabaru.net. Dalam sepanjang hidupnya, Huang telah menikah dua kali. Ia bercerai pada usia 30 tahun di pernikahan pertamanya karena mandul. Pada pernikahan kedua ia langsung menjadi ibu tiri dari tiga anak suaminya.

Saat menikah anak tiri Huang masing-masing berusia 10 tahun, 8 tahun dan 6 tahun, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Ibu mereka meninggal karena kecelakaan.

Ilustrasi. (Internet)

Memang tidak mudah menjadi ibu tiri, gumam Huang sambil menghela napas. Dia tidak berani memukul ketiga anak itu sejak kecil, bahkan tidak berani menegur mereka sedikit pun. Ia takut salah sedikit saja nanti akan menjadi bahan perbicangan orang luar.

Ketiga anak tirinya sangat pintar melihat kondisi, mereka akan memanggil “Mama”dengan santun pada Huang saat ayahnya berada di rumah. Namun, saat sang ayah pergi, mereka langsung memanggil namaya, dan tampakinya memang sudah direncakan oleh ketiga anak itu.

Ilustrasi. (Foto: Internet)

Namun, Huang tidak mengambil hati dengan sikap ketiga anak tirinya yang kurang ajar itu, ia memaklumi mereka semua masih anak-anak.

Meski mereka memanggil namanya, Huang juga tidak mengadu ke ayah mereka, karena ia ingin menjaga nama baik keluarga, tidak mau hal itu menjadi pembicaraan tetangga.

Bertahun-tahun kemudian, ketiga anak tirinya juga sudah tumbuh dewasa dan bekerja dan tinggal di kota.Huang dan suaminya tetap tinggal di desa.

Beberapa tahun sebelumnya,ketika ayah mereka masih hidup, ketiga anak tirinya kerap ke desa.

Namun, setelah ayah mereka meninggal, ketiga anak itu pun tidak pernah datang lagi menjenghuk Huang.

Karena sudah tua dan dia sudah mampu lagi untuk bekerja, saat waktu senggang, Huang suka memulung sampah daur ulang dan dijual.

Huang sendiri memang tidak punya anak kandung, tapi ia selalu menganggap ketiga anak tirinya itu sebagai anak kandungnya sendiri, ini juga yang menjadi alasannya menikah. Dia hanya berharap ada orang yang mengantarnya ke tempat peristirahatan terkahir saat meninggal nanti.

Tapi apa daya, ketiga anak tirinya tidak peduli, selalu menganggap Huang orang luar.

ILustrasi. (Foto: Internet)

Suatu hari,dia menelepon ketiga anak tirinya, dan mengatakan bahwa ia jatuh sakit dan tidak punya uang untuk berobat, dan hidupnya mungkin tidak lama lagi.

Sebelum pergi, Huang hanya ingin bertemu mereka, ia meminta mereka pulang sejenak, namun, tak satu pun yang pulang menjenguknya.

Mereka mengatakan bahwa ibu kandung mereka sudah meninggal, sementara Huang bukan ibu mereka.

Huang pun menangis sambil berbaring di tempat tidur. Sebenarnya Huang tidak sakit, Dia hanya mencoba menguji ketiga anak tirinya itu apakah ada yang peduli untuk pulang menjenguknya dan berejanji akan mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir nanti jika sudah meninggal.

Selama hidupnya Huang memiliki simpanan 300 juta rupiah dari suami pertama yang menceraikannya, dan ditambah dengan usahanya sendiri.

ILustrasi. (Foto: Internet)

Dia bermaksud memberikan semua simpanannya itu kepada siapa pun dari ketiga anak tirinya jika pulang menjenguknya, namun, ia tak menyangka tak seorang pun yang pulang menjenguknya setelah 35 tahun lamanya menjadi ibu tiri mereka.

Kemudian, Huang mengatakan, siapa yang bersedia mengantarnya ke peristirahatan terakhir, tidak perlu menafkahinya, ia akan memberikan semua simpanannya setelah meninggal.

Ketiga anak tirinya baru sadar, alasan sakit hanya tipuan, tetapi mereka merasa sangat malu jika pulang menjenguknya karena godaan warisan 300 juta rupiah itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular